Automatic translation of this blog page: Terjemahan otomatis hal blog ini

Kamis, 14 Agustus 2008

Akulturasi Budaya (Portugis,India, Aceh, Minang, Nias) di Daerah Budaya Minangkabau: Tari Balanse Madam



Cuplikan buku Tari Balanse Madam: Sebuah akulturasi budaya Portugis, Aceh, Nias dan Minangkabau pada masa kolonial (Ethnologi). Karangan Indrayuda, S.Pd, M. Pd. Terbitan UNP Press.2008.

Book excerpts Dance Balanse Madam: A Portuguese acculturation, Aceh, Nias and the Minangkabau in the colonial period (Ethnology). Authorship Indrayuda, S. Pd, M.Pd. Issue UNP Press.2008.
trechos do livro Dança Balanse Senhora: A aculturação Português, em Aceh, Nias e Minangkabau no período colonial (Etnologia). Indrayuda Autoria, S. Pd, M. Pd.Emissão UNP Press.2008. 
 
Asal-Usul Tari Balanse Madam
Tari Balanse Madam sebuah tari tradisional yang terdapat di Seberang Palinggam Kota Padang, yang menjadi milik dan warisan budaya masyarakat Suku Nias Kota Padang. Tari Balanse Madam merupakan sebuah kesenian tari yang berupa peninggalan budaya lama yang telah ditransmisikan secara turun temurun dalam masyarakat suku Nias di Seberang Palinggam.


Sejarah keberadaan Tari Balanse Madam tidak terlepas dari kehadiran bangsa Portugis di pantai barat pulau Sumatera pada abad ke enam belas. Pada masa tersebut, bangsa Portugis datang dengan misi perdagangan ke pantai bagian barat pulau Sumatera.

Kedatangan bangsa Portugis ke Kota Padang telah membawa dampak terhadap tumbuhnya kesenian di Padang waktu itu, di antaranya tari Balanse Madam dan Musik Gamad. Nosafirman (1998:2) menjelaskan seabad sebelum tanggal 7 Agustus tahun 1669, Padang hanya berupa perkampun­gan tradisional yang terletak di pinggiran pantai Sumatera bagian barat, yang kalah ramai dibanding Tiku dan Pariaman. Kampung ini baru mulai ramai sejak orang-orang Portugis dan  Aceh berdatangan untuk berdagang ke Kota Padang pada masa itu.

Menilik kehadiran bangsa Portugis ke Padang sebagai pedagang, bersamaan itu berdatangan pulalah penduduk imigran dari pulau Nias untuk bekerja sebagai buruh atau pembantu di pelabuhan bagi bangsa Portugis. Orang Nias dibawa oleh para pedagang Cina yang datang ke Sumatera Barat dari pulau Nias pada awal abad ke-16. Mereka ditempatkan di berbagai daerah antara lain di Padang (terutama di daerah Muara), di daerah Pariaman, Pasar Usang dan sebagian lain di daerah Muara Sakai Pesisir Selatan. Dari jumlah keseluruhan orang Nias yang datang ke pantai barat Sumatera tersebut, lebih banyak ditempatkan di Kota Padang (Nosafirman, 1998:22).


  
Muara, (Muaro, sebutan orang Padang), wilayah pendaratan orang Nias pertama, dan juga bangsa lain yang mendarat di Padang. Muaro adalah wilayah muara sungai Batang Arau.

Dengan dipekerjakannya orang-orang Nias yang berada di Padang oleh Portugis, terjadilah relasi sosial budaya antara kedua suku bangsa tersebut, yang menularkan suatu bentuk kesenian yakni tari Balanse Madam. Awal lahirnya Tari Balanse Madam adalah akibat seringnya terjadi kontak (hubungan) sosial antara bangsa Portugis sebagai majikan dengan orang Nias sebagai bawahan atau pekerja.
Setiap pesta yang dilakukan oleh bangsa Portugis baik di kapal ataupun di daratan selalu diperkenalkan tarian yang berbentuk tari pergaulan seperti dansa kepada orang-orang Nias. Bangsa Portugis bukan saja menyebarkan pengaruhnya sebagai pedagang tetapi juga dalam hal kesenian. Baik tari ataupun musik selalu mereka sebarkan atau tularkan pengaruhnya di Kota Padang. Yang terdekat pada waktu itu dengan komunitas Portugis adalah orang-orang Nias yang bekerja sebagai pembantu, baik pada keluarga Portugis maupun dalam kelancaran usaha perdagangannya dan sebagai buruh.


  
Peta koloni Belanda tahun 1781, sebagai bentuk awal kota Padang, kota ini juga dipakai Belanda sebagai tempat perawatan tentara Belanda yang sakit sewaktu perang engan Aceh. Kawasan muara sungai Batang Arau, sebagai pelabuhan pertama di kota Padang. (sumber: Rusli Amran).

Fenomena yang terjadi pada waktu itu adalah seringnya orang Nias menyaksikan pertunjukan kesenian baik tari maupun musik yang disajikan oleh bangsa Portugis. Lama kelamaan orang Nias mulai mempelajari dan mengembangkannya melalui suatu proses adaptasi dan adopsi dengan proses transformasi imajiner.


Melalui transformasi imajiner, para seniman atau masyarakat Nias yang memiliki kemampuan rasa estetis dan jiwa seni, mulai mengembangkan pola-pola gerak tari pergaulan yang dilakukan oleh bangsa Portugis tersebut. Pola-pola gerak tersebut, seperti pola gerak tari Dansa. Kemampuan mentransformasi dan mengadaptasi dari pola-pola Dansa ke dalam bentuk tari baru tidaklah begitu sulit bagi masyarakat Nias. Hal ini disebabkan tarian yang bersifat sosial dan dalam disain yang seperti berpasang-pasangan dalam disain lantai yang melingkar.

Proses adaptasi dan transformasi imajiner ini disebabkan adanya rangsangan kinetetis, yang dirasakan oleh masyarakat Nias. Secara realitas, bangsa Portugis tidak mengajarkan tarian dansa kepada masyarakat Nias, atau orang Nias secara individu. Akan tetapi, mereka hanya memberikan suatu pembelajaran dengan jalan memberikan suatu kesempatan kepada masyarakat Nias untuk dapat menyaksikan peristiwa pesta dansa dalam ruang lingkup komunitas bangsa Portugis tersebut.
Fenomena inilah yang berkembang diantara kedua suku bangsa tersebut. Relasi-relasi sosial seperti ini, lama kelamaan menjadi suatu peniruan oleh masyarakat Nias. Pola-pola sosial atau pergaulan bangsa Portugis yang sering menggelar pesta Dansa, secara budaya tidak bersebarangan dengan kepercayaan dan budaya masyarakat Nias pada masa itu.
Kebiasaan-kebiasan bangsa Portugis tersebut menjadi obsesi pula bagi masyarakat Nias yang bermigrasi ke Kota Padang. Bagaimanapun mereka perlu suatu ajang untuk menjalin relasi antar-mereka agar silaturahmi di antara mereka sebagai pendatang (perantau) di Kota Padang, dapat terjalin dalam ikatan yang kuat, agar rasa senasib sepenanggungan sebagai orang perantauan dapat dirasakan secara bersama-sama.

Atas dasar kreativitas, lahirlah tari Balanse Madam yang merupakan adaptasi dari tarian Dansa bangsa Portugis. Pola-pola gerak yang dikreasikan tidak sama sekali berakar pada gerak Dansa, akan tetapi yang disadur adalah pola-pola gerak tari dan disain lantai serta suasana dan fungsi dari tarian dansa tersebut.
Konsep gerak berakar sepenuhnya pada dasar gerak tari tradisi yang dibawa dari kampung halaman orang Nias, seperti Maena dan Hiwo. Kemudian dikombinasikan dengan gerakan tarian Melayu. Bersamaan pada masa itu, tarian Melayu juga sedang berkembang di tengah bangsawan perkotaan atau Bandar di pulau Sumatera.Semenjak itu, mulailah tari Balanse Madam diperkenalkan dari satu komunitas suku ke suku yang lain, atau dari marga yang satu ke marga yang lain dalam setiap peristiwa adat dan pertemuan antar warga Nias keturunan di Kota Padang. Tarian pertama yang disajikan belum begitu sempurna karena lebih bersifat spontan. Masalah ini disebabkan karena setiap suku atau marga memiliki keinginan dan gaya masing-masing dalam menari. Sudah barang tentu antara marga Gulo dengan Zebua kurang bersesuaian dalam gaya menarikan. Ketidaksamaan dalam gaya menari ini menjadi sorotan dan perbincangan dalam rapat antar Marga dan suku masyarakat Nias se Kota Padang.

Melalui musyawarah antar marga dalam masyarakat Nias yang ada di Padang pada pertengahan abad ke-16, disusun kembali struktur tari Balanse Madam dan segala tata cara menarikannya begitujuga tentang syarat-syarat yang diperlukan dalam menyajikan tari Balanse Madam. Kesepakatan melahirkan suatu keputusan bahwa tari Balanse Madam diakui sebagai sebuah tari tradisional masyarakat Nias yang telah menetap di Kota Padang, dan kemudian pada gilirannya menjadi warisan budaya yang perlu dilestarikan dan diwariskan turun-temurun dalam lingkup masyarakat Nias. Secara tidak langsung juga menjadi fokus budaya bagi masyarakat Nias.Awal pertumbuhan dan penyebaran tari Balanse Madam bermula di daerah Seberang Palinggam dan Kampung Nias. Daerah ini merupakan padang ilalang dan daerah perbukitan, selain itu daerah ini terletak di pinggir sungai, sehingga memudahkan untuk tranportasi bagi orang-orang Nias masa itu. Daerah Seberang Palinggam merupakan kawasan mayoritas suku Nias di Kota Padang. Di sinilah daerah asal pendaratan masyarakat Nias di Kota Padang dari kepulauan Nias. Hal ini dimungkinkan karena daerah Seberang Palinggam merupakan kawasan yang berada dalam wilayah perdagangan di pinggiran sungai Batang Arau.

Sebagai sebuah tari tradisi, tari Balanse Madam sangat dekat dengan komunitasnya. Kata Balanse yang berarti harmonis dan Madam diambil dari istilah dalam tari Balanse yang berarti nyonya. la merupakan milik dari komunitas suku Nias yang berada di Seberang Palinggam. Tari Balanse Madam adalah salah satu contoh dari manifestasi perilaku masyarakat suku Nias Kota Padang. Kehadiran dan kelangsungan tari Balanse Madam menjadi tanggung jawab masyarakatnya. Karena itu tarian ini merupakan sebuah warisan tradisi yang harus dipelihara oleh masyarakat Nias Padang.
Selanjutnya Syarif menjelaskan (1990:8), tari tradisional dapat diartikan sebagai: (1) Kesenian yang diselenggarakan demi kelangsungan sebuah tradisi yang berlaku dalam suatu masyarakat dalam artian adat istiadat, (2) tari tradisional dapat diarahkan sebagai sebuah kesenian yang memiliki norma (etika) dan nilai-nilai yang merefleksikan corak kehidupan masyarakat pendukungnya. Tari tradisional juga selalu terikat akan falsafah maupun norma dan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat pendukungnya, seperti halnya dengan tari Balanse Madam yang merupakan jenis tari tradisional masyarakat suku Nias yang telah lama mendiami Kota Padang tepatnya di daerah Seberang Palinggam.

Sebagai tari tradisi ia akan selalu merujuk pada kehendak dan konvensi-konvensi yang diinginkan oleh masyarakat pendukung tari tersebut. Keberadaannya tidak terlepas dari campur tangan berbagai pihak, sehingga ia dapat diterima oleh seluruh anggota masyarakat yang melingkupinya.
Tari tradisional pada umumnya tidak dapat diketahui dengan pasti siapa penciptanya karena tari tradisional bukan merupakan hasil cipta dari kreativitas yang lahir oleh seorang individu. Akan tetapi, ia tercipta secara bersama dengan pemikiran kolektif dari masyarakat pendukung di mana tarian tersebut tumbuh dan berkembang (Kayam, 1981:60).

Karena tari tradisi merupakan sebuah ungkapan atau ekspresi yang berbentuk kesenian dari masyarakat dalam persembahannya baik lewat gerak, kostum dan musik, selalu menggambarkan ciri khas dari budaya masyarakat yang memiliki keberadaan tari tersebut. Tari tradisi baik dari kehendak, pemikiran (ide) maupun rasa (emosi) keseluruhannya bermuara pada perilaku masyarakat pendukungnya.

Soedarsono (1986:83) menjelaskan tari tradisi merupakan ekspresi jiwa manusia secara komunal yang dituangkan lewat gerak yang ritmis dan indah. Jiwa manusia tersebut terdiri atas aspek kehendak, akal (pikiran) dan emosi atau rasa. Bertitik tolak dari ciri tersebut Tari Balanse Madam dikatakan tari tradisi orang Nias di Kota Padang. Tari Balanse Madam memiliki empat dasar gerak yaitu sewai, salam, step (langkah) dan lenggang. Kostum yang dipergunakan adalah kostum yang bercorak Melayu dengan tidak ditentukan jenis warnanya. Musik yang mengiringi tari Balanse Madam adalah jenis musik mars.
Tari tradisi seperti tari Balanse Madam merupakan bagian dari kehidupan komunitas suku Nias secara kolektif. Karakter dari masyarakat suku Nias dan corak kehidupannya direfleksikan lewat penyajian tari Balanse Madam. Bentuk penyajiannya bersifat simbolis. Geraknya sangat dinamis dengan pola lantai lingkaran sehingga terjadinya komunikasi antarsektor-sektor penari.

Tawanto Karim (2000:19 Juli) menjelaskan, tari Balanse Madam berbentuk tari pergaulan, dalam artian tarian yang bersifat sosial. Jumlah penarinya delapan orang yang terdiri atas empat orang wanita dan empat orang pria. Posisi penari saling berhadapan antara pasangan yang satu dengan pasangan yang lain, dengan kedudukan (keberadaan) penari pada posisi Utara menghadap Selatan dan posisi Timur menghadap (berhadapan) dengan posisi Barat.

Tari Balanse Madam dalam pertunjukannya sering ditampilkan pada berbagai acara pesta perkawinan, pengangkatan penghulu (tetua adat) dan acara adat lainnya. Musik tari Balanse Madam terdiri atas seperangkat perkusi seperti tambur, set drum dan simbal. Musik pengiring lainnya adalah biola, akordion dan alat tiup.

Secara keseluruhan tari Balanse Madam diiringi oleh orkes Musik Gamad. Musik Gamad merupakan bentuk kesenian musik yang dimiliki oleh masyarakat suku Nias di Seberang Palinggam Kota Padang yang kehadiranya bersamaan dengan munculnya tari Balanse Madam dalam masyarakat Nias.
Tari Balanse Madam dapat ditampilkan di waktu siang hari maupun malam hari. Hal ini dapat disesuaikan dengan kebutuhan kegiatannya. Bertitik tolak atas tempat penyajiannya, tarian ini dapat ditampiikan pada ruangan terbuka ataupun tertutup. Tari Balanse Madam ditarikan oleh orang-orang yang telah berkeluarga. Setiap penari harus jelas apakah ia seorang suami atau isteri. Jadi, tarian tradisional Balanse Madam bukanlah tarian yang ditarikan oleh semua orang, Ini aturan yang telah ditetapkan dalam rapat antarsuku atau marga pada pertengahan abad ke-16.

Setelah proses penetapan tarian Balanse Madam sebagai tari tradisi masyarakat Nias, yang telah diatur dengan gaya, dan tata cara yang seragam, berdasarkan itu pula masyarakat Padang yang bersuku Minangkabau melalui Sutan Padang mengakui keberadaan tarian ini sebagai tarian Padang dari komunitas Suku Nias. Mulailah masyarakat Padang era tersebut memiliki warisan baru yaitu, tari Balanse Madam.

Di awal pertumbuhan tari Balanse Madam, menurut Tawanto dan Utiah (2000: 21 Juli) tidak terjadi konflik yang berarti antara orang Nias dan Minangkabau maupun Cina dan orang Keling ( keempat suku inilah pada abad ke-16 yang menjadi penduduk kota Padang). Hal ini disebabkan struktur gerak, struktur penyajian dan tata cara penyajian maupun kostum dan musik pengiring, sama sekali tidak bertentangan dengan budaya suku-suku yang ada di Kota Padang pada masa itu. Memang dulu pada awalnya sebelum menari kepala suku dan pemusik disuguhi minuman keras yang mengandung alkohol, akan tetapi setelah ditetapkan sebagai tarian adat, minuman keras diganti dengan yang tidak mengandung alkohol.

Pada awal pertumbuhannya tari Balanse Madam hanya ditarikan oleh suku Nias. Masyarakat di luar suku Nias tidak diperkenankan untuk menarikan, hanya boleh sebagai penonton saja. Penyebabnya masa itu kawin campur belum terjadi, atau perkawinan lintas suku belum terjadi di tengah-tengah masyarakat Nias. Karena itu pulalah tari Balanse Madam ini belum boleh dipelajari oleh suku lain.
Partitur lagu khas untuk tari Balanse Madam
 Tari Balanse Madam bukan berasal dari Kepulauan Nias sebagai tanah leluhur, dia disebabkan oleh Diaspora suku Nias. Kalaupun dicari di tanah leluhur, tari Balanse Madam tidak mungkin dapat ditemukan. Tari Balanse Madam hanya dapat ditemukan dalam masyarakat Nias yang bermigrasi ke Kota Padang pada abad ke-16 saja. Masyarakat inilah yang menjadi pemilik sah tari Balanse Madam, dan mewariskannya secara turun-temurun sampai sekarang ini abad ke 20 atau era teknologi dan globalisasi.

Kitapun tidak akan menemukan tari Balanse Madam pada orang imigrasi Nias yang bukan keturunan orang orang Nias abad ke-16 dulu. Karena itu, tari Balanse Madam merupakan identitas dan fokus budaya bagi suku Nias keturunan abad ke-16 yang telah diakui sebagai orang Padang. Mereka juga telah memiliki tanah pusaka di seputar Gunung Padang atau Bukit Lantiak dan Mata Air.

Semula asal nama Balanse Madam tidak ada yang tahu dengan pasti. Yang jelas tari Balanse Madam memiliki perintah dalam bergerak dengan sebutan Balanse Madam. Sejak itu, tarian ini dipanggil masyarakat dengan tari Balanse Madam. Seperti sudah dijelaskan juga sebelumnya arti Balanse “harmonis” dan Madam adalah “nyonya”. Ada juga kalangan masyarakat mengatakan tari Balanse Madam adalah tarian keharmonisan hubungan rumah tangga.

Bagian lain dari masyarakat pada masa lalu menamakan juga tarian Balanse Madam dengan istilah Kodril, Countril atau Quatril. Sebab itu, tidak dapat dipastikan sejak kapan dipanggil tarian ini dengan sebutan Balanse Madam.

Di sisi lain awal pertumbuhan tari Balanse Madam juga disebabkan adanya rumah-rumah bola yang didirikan oleh Belanda di daerah Muara Padang. Kehadiran rumah-rumah bola tersebut cukup berarti dalam pemunculan tari Balanse Madam pada awal abad ke-16, sampai pada akhir abad ke-16. 
Pertumbuhan Tari Balanse Madam Abad Ke-16
Setelah menjadi kesenian tradisi orang Nias di Padang, diaturlah tari Balanse Madam menurut adat istiadat yang berlaku dalam suku Nias di Padang. Hal ini dilakukan untuk menghindari hal - hal yang tidak diingini karena ada beberapa hal yang tabu bagi orang Nias sendiri maupun bagi tetangga mereka (orang Minang) yang merupakan orang pribumi di Kota Padang. Ketabuan itu disebabkan oleh karena tarian Balanse Madam tersebut bercorak pergaulan antara pria dan wanita dalam bentuk berpasang-pasangan. Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Nias, tari tersebut disusun sesuai dengan adat istiadat orang Nias Kota Padang, dengan ketentuan sebagai berikut ini : Setiap penari pria dan wanita haruslah yang sudah menikah, tidak ada hubungan keluarga antara penari pria dan wanita, setiap gerakan persentuhan tangan tidak diizinkan dan harus dilapisi dengan secarik saputangan, sebelum penampilannya, penari pria dan wanita harus minta izin kepada suami atau isteri maupun kepada pemimpin adat.

Tarian Balanse Madam terdiri dari berbagai bentuk gerak, yaitu perpaduan antara gerak Melayu dan Minang serta gerak tari tradisional dari pulau Nias seperti tari Maena, Hiwo dan Molaya yang dibawa oleh orang Nias hijrah ke Kota Padang. Dalam struktur penyajiannya, tari Balanse Madam diawali dengan empat orang penari laki-laki yang kemudian melakukan gerak pencak. Setelah gerak pencak dilakukan kemudian mereka bergerak menjemput penari wanita. Setelah penari pria dan wanita berada di panggung (arena) yang sebelumnya telah melalui proses perizinan dari tetua adat, tahap berikutnya komander memerintahkan tarian segera dimulai, dan pemusikpun bersiap sedia untuk mengiringi tarian. Komander juga bertindak sebagai pengendali tarian sampai menentukan kapan tarian harus diselesaikan.
Dalam sajiannya tari ini ditarikan oleh delapan orang penari, yang terdiri dari empat orang penari pria dan wanita(yang diajak oleh penari pria). Tarian berlangsung dengan arahan komander di luar arena yang menempati posisi dekat anggota pemusik. Setiap gerakan atau ragam gerakan penari selalu harus mengikuti komando (arahan) dari seorang komander, tugas penari hanya menjalankan tugas atas instruksi Komander.

Pola gerak yang dilakukan adalah berbentuk pola pergaulan. Terdapatnya suatu komunikasi gerak yang responsif dengan dukungan ekspresi di antara masing-masing pasangan penari dalam bentuk disain lantai yang melingkar dan empat persegi. Geraknya selalu mengandung nuansa keakraban dan pergaulan. Setiap pasangan menari dengan pasangannya, kemudian sesuai komando dari komander mereka dapat bertukar pasangan baik ke depan maupun ke samping. Pada dasarnya tari Balanse Madam berfungsi sebagai tontonan hiburan bagi masyarakat pendukungnya. Pada waktu-waktu tertentu tarian ini dapat disajikan dalam upacara adat, pesta perkawinan, dan berbagai pesta adat.

Kehadiran tari Balanse Madam pada masa lalu (abad ke-16) merupakan hal yang sangat signifikan bagi kalangan suku Nias di Seberang Palinggam. Berbagai pesta yang digelar terasa hambar dan kurang semarak tanpa kehadiran pertunjukan tari Balanse Madam. Daya tarik tari Balanse Madam sangat berarti bagi masyarakat suku Nias di Kota Padang, terutama untuk mengisi acara hiburan pada pesta perkawinan.
Bagi suku Nias di Kota Padang pada masa lalu, kehadiran Tari Balanse Madam pada setiap pesta perkawinan dapat memberikan suatu gambaran bahwa yang sedang punya hajat adalah orang-orang yang memiliki kemampuan dalam material. Secara tidak langsung biaya yang dikeluarkan untuk pesta lumayan besar.

Bertitik tolak dengan konteks material, Darwis Loyang menjelaskan bahwa dalam setiap pesta perkawinan yang dilak­sanakan oleh anggota masyarakat suku Nias di Kota Padang selalu ditampilkan tari Balanse Madam bagi yang mampu dalam melaksanakannya. Hal ini dikarenakan oleh faktor finansial yang besar. Apalagi yang punya hajat harus mendatangkan para tetua adat, kelompok pemusik (orkes Musik Gamad) dengan segala fasilitasnya Belum lagi mengundang banyak kerabat dan warga kampung sekitar.
Tari Balanse Madam merupakan bentuk tarian yang bersifat hiburan dengan memiliki keunikan dalam personaliti, struktur penyajian, etika bergerak (menari) maupun simbol-simbol gerakan yang disajikan. Keunikan dari personaliti adalah seluruh penari baik laki-laki ataupun wanita harus berasal dari orang-orang yang sudah berkeluarga atau yang sedang menjalankan proses kehidupan rumah tangga. Dengan arti kata sedang memiliki status suami atau isteri. Tidak ada status janda atau duda maupun bujang dan gadis sebagai penari Balanse Madam pada masa pertumbuhan tarian ini abad ke-16.

Menilik dari sudut pandang struktur penyajian, tari Balanse Madam dimulai atau diawali oleh penghormatan penari laki-laki dengan gerak pencak kepada tetua adat, yang sebelumnya penari tersebut sudah minta izin kepada isteri masing-masing untuk menari. Kemudian tarian baru dapat dimulai apabila penari laki-laki meminta izin kepada tetua adat untuk mengajak penari wanita yang berstatus sebagai isteri orang lain. Seterusnya, tetua adat memerintahkan pada suami penari wanita tersebut, mengizinkan isterinya untuk menari, barulah dikatakan tari dapat dimulai. Selanjutnya penyajian tari diserahkan oleh tetua adat kepada seorang Komander (pemimpin atau penuntun tarian).

Dari sudut pandang etika menari (bergerak) tidak dibenarkan penari pria menyentuh tangan (telapak tangan) penari wanita secara langsung. Sebagai gantinya (untuk menghindari kontak langsung) maka penari wanita melapisi telapak tangannya dengan secarik sapu tangan. Hal ini, bertujuan menghormati eksis tensi wanita dan adat-istiadat Minangkabau yang berlandaskan agama Islam. Sebelum terbentuknya tari Balanse Madam, kesenian masyarakat Nias di Kota Padang adalah unsur kesenian yang mereka bawa merantau ke Kota Padang dari tanah leluhurnya seperti Hiwo, Maena dan Molaya, namun tidak semua suku atau marga yang dapat menarikan atau memainkan. Kesenian yang dimiliki oleh orang Nias di Padang pada awal abad ke-16 (tatkala kedatangan pertamanya) makin lama agak menyusut dari aktivitasnya. Samapai pertengahan abad ke-16 terbentuklah kesenian Balanse Madam dan Musik Gamad.

Sebelum menguraikan tari Balanse Madam lebih jauh, berikut ini akan dijelaskan terlebih dulu kesenian asli orang Nias yang merupakan warisan budaya mereka dari kepulauan Nias. Kesenian tersebut , terutama yang terkait dengan tari Balanse Madam seperti Hiwo, Molaya, Maena dan Musik Gamad.

Kesenian Maena
Kesenian Maena merupakan salah satu kesenian masyarakat Nias di Kota Padang yang berasal dari Pulau Nias. Kesenian ini merupakan kesenian tari-tarian yang diiringi oleh nyanyian yang dinyanyikan juga oleh penari. Para pemainnya terdiri atas pria dan wanita dengan gerakan yang mencerminkan kegembiraan.
Kesenian ini biasanya dimainkan pada saat pesta-pesta perkawinan. Dalam pesta perkawinan waktu dulu, ketika mempelai pria datang ke tempat mempelai wanita, kesenian ini lebih dulu dimainkan oleh rombongan mempelai pria untuk memuja-muji mempelai wanita dan keluarganya. Selanjutnya, kesenian ini juga dimainkan oleh rombongan mempelai wanita memuja-muji mempelai pria dan keluarganya. Apabila dilak­sanakan pada upacara pengangkatan penghulu, syairnyapun berisi puji-pujian terhadap penghulu yang diangkat tersebut. Pada waktu dulu kesenian ini biasanya disertai dengan kesenian Folau Hiwo (kesenian hiburan) maupun Mamaheu Noma (kesenian dalam meruntuhkan rumah).

Pada saat sekarang, gerakan Maena ini boleh dikatakan sudah bebas dalam arti para penari boleh menciptakan gerakan tersendiri maupun syair lagunya, dan boleh dilakukan oleh kelompok pria atau wanita saja. Syair yang dinyanyikan juga tergantung pada situasi atau acara yang diikuti. Misalnya pada acara perkawinan syairnya berisi puji-pujian terhadap mempelai atau keluarganya, kalau untuk acara kerohanian maka syairnya juga berisikan tentang kerohanian dan sebagainya. Pada saat ini kesenian Maena ini agak jarang dilakukan.
Folau Hiwo (Hiburan)
Kesenian ini merupakan kesenian hiburan dan biasanya dilaksanakan pada acara-acara pernikahan. Kesenian ini dilakukan oleh beberapa orang laki-laki dengan saling berpegangan tangan namun tidak melingkar. Gerakan yang dilakukan seperti gerakan ular dan mengelilingi rumah tempat pesta dilaksanakan. Sambil bergerak, mereka juga bernyanyi membawa cerita baik tentang pernikahan maupun pujian terhadap mempelai dengan keluarganya.

Bila gerakan mereka tidak bisa memutari rumah, gerakannya cukup di halaman saja. Pada saat ini kegiatan inipun sudah jarang dilaksanakan karena di samping tidak ada yang mengajarkan, juga mereka tidak berkeinginan untuk melaksanakannya.
Kesenian Hiwo merupakan sumber garapan bagi tari Balanse Madam. Hal ini terlihat seperti pola lantai lingkaran yang ada pada tari Balanse Madam, gerakan berpegangan tangan, dan kedua unsur kesenian ini sama-sama ditampilkan dalam acara pernikahan (pesta perkawinan).
Seperti telah dikemukakan pada bagian awal bahwa kesenian Balanse Madam ini merupakan kesenian yang dipengaruhi oleh kesenian bangsa Portugis yang pernah datang ke kota Padang dan dikembangkan oleh masyarakat suku Nias pada pertengahan abad ke-16. Hingga saat ini kesenian Balanse hanya dapat dipertunjukkan oleh masyarakat suku Nias saja dalam konteks tradisi (warisan budaya).

Menurut Bapak Tawanto Lawolo (1999: 11 Desember) ada beberapa faktor penyebab kesenian ini dapat diterima oleh masyarakat Nias pada waktu itu, antara lain: (1) Pada saat itu orang Nias banyak yang menjadi pembantu pribadi orang-orang Portugis sehingga sering menyaksikan pertunjukan kesenian ini, (2) banyak orang Nias yang menganut agama yang dibawa oleh orang Portugis tersebut (yakni agama Kristen) sehingga hubungan keduanya semakin dekat, dan (3) gerakan tari Balanse Madam ini ada kemiripan dengan gerakan kesenian yang ada pada masyarakat Nias itu sendiri, yakni kesenian Maena, Hiwo dan Molaya, sehingga lebih mudah dalam mempelajarinya.

Dengan berbagai alasan atau penyebab di atas, akhirnya tarian Balanse Madam dapat diterima oleh orang Nias di Seberang Palinggam. Pada gilirannya tarian ini disuburkan dan ditumbuhkembangkan dalam masyarakat Nias di Seberang Palinggam. Untuk menguatkan keberadaannya, tarian ini pada pertengahan abad ke-16 dikokohkan sebagai tarian adat (tradisi warisan budaya) orang Nias di Seberang Palinggam.

Hampir seluruh kelompok kesatuan marga dan suku di berbagai pelosok Kota Padang dapat menarikan tari Balanse Madam. Mulai dari komunitas di Seberang Palinggam, komunitas Simpang Enam, Kampung Nias sekarang dan komunitas Tabing. Menyebarnya tari Balanse Madam ini seiring dengan menyebarnya kedudukan atau tempat tinggal orang-orang Nias yang ada di Padang.
Kehadiran tari Balanse Madam diperlukan ketika pertengahan abad ke-16 untuk meredam konflik antarsuku. Karena konflik antarsuku ini pada awalnya sering terjadi dikarenakan keegoisan dari setiap suku atau marga. Setiap marga atau suku selalu saja memaksakan aturan suku atau marganya yang harus digunakan dalam pergaulan atau kehidupan sosial sehari-hari. Hal hasil sering terjadi konflik antar suku.
Menurut Siciak Gadiang-gadiang (1999: 27 November), salah satu solusi untuk meredam konflik antarsuku adalah tari Balanse Madam karena tarian inilah yang tidak dimiliki oleh orang Nias di Kepulauan Nias. Sebagai pemersatu diantara mereka dibentuklah unsur budaya baru, yang dapat melunturkan egoisme marga atau suku mereka. Karena Kepulauan Nias terdiri dari dua kawasan besar, yaitu Kepulauan Utara dan Selatan. Adat istiadat dan budaya diantara wilayah tersebut juga memiliki perbedaan dan persamaan. Dari sinilah muncul ego-ego tersebut, yang pada gilirannya memunculkan konflik.

Hadirnya tari Balanse Madam yang menjadi ikon atau simbol baru, yang dibuat secara bersama-sama, sudah barang tentu meleburkan adat dan budaya mereka dalam satu ikatan, yaitu tari Balanse Madam. Sejak pertengahan abad ke-16 tarian ini dengan berbagai rintangan dan persoalan antarsuku secara bersama-sama oleh masyarakat Nias digalakkan. Apalagi kehadiran tarian ini sudah mendapat persetujuan oleh Sutan Padang di Alang Laweh sebagai tari tradisi Padang dari kalangan masyarakat suku Nias.

Di sisi lain, digalakkannya tari Balanse Madam pada pertengahan abad ke-16 adalah untuk memunculkan identitas mereka sebagai orang Nias yang telah menjadi masyarakat Padang, karena ikrar mereka sebagian besar tidak akan kembali lagi ke tanah leluhur. Kelak sebagai pertanda mana orang Nias Padang dan orang Nias yang datang pada masa datang adalah terletak pada adat istiadat dan budayanya, yaitu salah satunya tari Balanse Madam.

C. Masyarakat Pendukung Tari Balanse Madam

Secara tradisi Tari Balanse Madam merupakan warisan budaya orang Nias yang ada di Seberang Palinggam dan Kota Padang umumnya. Oleh karenanya, sudah barang tentu kesenian Balanse tersebut lebih hidup dan memang suatu keharusan untuk hidup dan berkembang di tengah-tengah masyarakat Nias yang telah menjadi warga Kota Padang. Orang Nias warga Kota Padang tersebut adalah keturunan orang-orang Nias yang merantau dan mendirikan adat istiadat baru pada awal abad ke-16. Mereka adalah orang Nias yang telah diterima menjadi orang Padang, bukan para pendatang saat ini yang ada di Kota Padang. Orang-orang Nias awal abad ke-16 tersebut telah pula diterima secara adat oleh penguasa Kota Padang, yakni Sutan yang ada di Alang Laweh.

Karena orang-orang Nias sudah diakui menjadi warga Kota Padang, secara tidak langsung Tari Balanse Madam menjadi budaya atau kesenian tradisi Kota Padang yang terdapat pada komunitas orang-orang Nias di Seberang Palinggam, sampai komunitas Nias lainnya di seluruh Kota Padang. Masyarakat kota secara moral turut mendukung atas keberlangsungan tari Balanse Madam. Pada kenyataannya hal ini dapat ditemui pada setiap perayaan ulang tahun Kota Padang tepatnya tanggal 7 Agustus setiap tahunnya. Dari partisipasi tentang pengakuan keberadaan tari Balanse Madam di Kota Padang oleh orang Minang yang mayoritas dan beragama Islam, hal ini berarti bahwa kesenian Balanse dapat diterima oleh warga Kota Padang sebagai bahagian dari kehidupan masyarakat kota. Kesenian Balanse telah diakui sebagai kesenian tradisi, yang merupakan warisan budaya, yang harus berkelanjutan secara turun-temurun dalam warga masyarakat pemilik tari Balanse itu sendiri.
Berbicara masalah tari Balanse Madam sebagai tarian adat masyarakat Nias, pada gilirannya seluruh komponen masyarakat Nias keturunan yang telah menjadi orang Padang (penduduk asli Padang semenjak abad ke-16) menjadi masyarakat pemilik budaya tari Balanse Madam. Walaupun masyarakat Nias terdiri dari daerah asal yang berbeda dari Kepulauan Nias, ditunjang oleh Marga yang berbeda-beda 

pula, sebut saja Zebua, Gulo, Harefa, Dawolo, Lombu, Lawolo, Hura, Daeli, Zalukhu dan Laoli. Akan tetapi mereka telah diikat oleh persatuan budaya baru, yang tak lain kesenian tari Balanse Madam.
Semenjak keberadaan mereka diakui menjadi penduduk tetap Kota Padang, pada pertengahan abad ke-16 oleh Sutan Padang dan masyarakat Minangkabau, mereka disarankan membentuk identitas atau budaya baru yang dapat disesuaikan dengan kebudayaan masyarakat setempat, yakni masyarakat Minangkabau. Peninggalan-peninggalan budaya lama disesuaikan dengan adanya kebudayaan baru. Apalagi konflik antarmarga sering terjadi akibat benturan masalah budaya kemargaan dan wilayah asal tanah leluhur mereka.

Konsep pemikiran itu melahirkan budaya baru orang Nias Padang, yang hanya dimiliki oleh orang Nias yang telah menjadi orang Padang. Salah satu dari gagasan tersebut melahirkan produk budaya tari Balanse Madam yang diakui ke­beradaannya oleh semua marga atau oleh seluruh masyarakat Nias yang telah menjadi warga Kota Padang. Mulailah saat itu seluruh unsur kekerabatan dalam kesukuan atau marga orang-orang Nias keturunan merasa berkewajiban untuk mendukung keberadaan tari Balanse Madam dalam kehidupan sosial mereka.

Semenjak dicetuskan tarian Balanse Madam sebagai adat masyarakat Nias Padang, semenjak itu pula disosialisasikan dan dibudayakan menyangkut hal-hal teknis yang berlaku dalam pertunjukan tari Balanse Madam kepada seluruh lapisan masyarakat Nias yang tersebar di Seberang Palinggam dan Kampung Nias.

Kedua wilayah ini merupakan basis tempat tumbuh dan berkembangnya kesenian tari Balanse Madam pada awal pertumbuhannya di Kota Padang. Wilayah ini selalu ramai oleh para penduduk Nias keturunan pada abad ke-16 tatkala digelar pertunjukan kesenian tari Balanse Madam, masyarakat Nias di kedua wilayah ini menjadi masyarakat pendukung kesenian tari Balanse Madam secara tradisional.

Tak salah kiranya masyarakat pendukung tari Balanse Madam adalah orang-orang Nias yang telah menjadi warga Kota Padang, yang pada awalnya pertumbuhannya berbasis di wilayah Seberang Palinggam dan Kampung Nias. Masyarakat Nias Kota Padang secara tradisi dan kebudayaan merupakan pemilik sekaligus masyarakat pendukung tari Balanse Madam.

Masyarakat Nias yang telah menjadi warga Kota Padang pada abad ke-16, oleh para kepala kampung, kepala adat atau tetua adat dan orang-orang yang berpengaruh dalam kesukuan atau marga mendorong berbagai lapisan masyarakat untuk memahami, mengetahui dan mendukung keberlangsungan perkembangan tari Balanse Madam di tengah-tengah kehidupan sosial masyarakat Nias.
Gambar Daerah Muara, tempat pendaratan Masyarakat Nias

Salah satu bentuk keterikatan yang dapat mendorong keberlangsungan pertumbuhan tari Balanse Madam menurut Tawanto (2000: 21 Agustus) adalah melibatkan pemangku adat. Keterlibatan ini seperti diatur dalam tata cara penyajian­nya. Dengan melibatkan orang-orang yang berpengaruh dalam masyarakat Nias, secara tidak langsung mengharuskan tarian Balanse Madam untuk terus tumbuh dan berkembang .

Sering dalam sosialisasi pertumbuhan tari Balanse Madam, para pemangku adat menurut Tawanto (2000: 7 Agustus) menyebarkan pengaruhnya dengan berbagai isu tentang betapa pentingnya kehadiran tari Balanse Madam sebagai media interaksi dan integrasi antarberbagai marga dan kesukuan dalam masyarakat Nias. Hal yang terpenting dalam mendorong masyarakat Nias untuk membudayakannya adalah tari Balanse Madam berperan sebagai tanda bahwa mereka adalah orang Padang, tidak lagi orang Nias yang baru datang. Memang pada tahun 1970-an ke bawah orang Padang pinggiran tidak mau disebut dengan orang Padang karena menurut mereka, yang orang Padang itu adalah orang Nias. Barulah semenjak era 1980-an semenjak perluasan Kota Padang mereka mau disebut orang Padang.

Di samping sebagai tarian tradisi yang dimiliki oleh masyarakat Nias Kota Padang, bukan tidak ada masyarakat pecinta tarian ini diluar masyarakat Nias. Sebagai contoh adalah komunitas keturunan imigran dari Asia Selatan seperti suku Keling (Tamil dan India serta Gujarat). Mereka merupakan kongsi dekat dari masyarakat Nias keturunan yang menetap di Padang masa itu.

Berbicara kehadiran orang-orang Nias di Padang, tak ketinggalan pula untuk menyinggung masyarakat keturunan dari suku Keling (istilah orang Minangkabau). Karena mereka merasa sesama perantau, timbulah rasa solidaritas di antara mereka. Rasa solidaritas ini berkembang pada relasi-relasi kepentingan politik dan ekonomi, serta eksistensi mereka di Kota Padang. Yang lebih penting, adalah kerjasama mereka dalam membangun pertumbuhan seni musik di kota Padang pertengahan abad ke-16.
Untuk memperkokoh eksistensi mereka, perlu diantara mereka saling berbagi dan saling mendukung dalam masalah kebudayaan. Lahirnya orkes Musik Gamad di Kota Padang pada pertengahan abad ke-16 salah satunya disebabkan campur tanganya orang Keling dan orang Nias, yang kemudian berkembang sebagai musik pengiring tari Balanse Madam. Selain itu, musik ini juga merupakan identitas masyarakat Padang. Di mana ada pertunjukan musik Gamad, di situ juga ada komunitas Keling dan Nias, kebudayaan ini terus berlangsung sampai saat ini.

Walaupun demikian, kalangan suku Keling ketika itu baru berada dalam posisi penikmat, dan memberikan dukungan moral terhadap keberlangsungan pertumbuhan tari Balanse Madam di Kota Padang masa itu. Suku Keling adalah salah satu suku imigran dari luar kepulauan Nusantara yang dapat disejajarkan kedudukannya dengan suku Nias pada masa pertengahan abad ke-16 tersebut. Masyarakat Keling yang berada di sekitar sungai Batang Arau, atau tepatnya sekarang di daerah Pasar Gadang, Ranah dan daerah sekitar Tanah Kongsi di daerah Pondok sekarang, rata-rata kehidupan mereka berniaga. Masyarakat Keling sangat gemar dengan kesenian, baik tari maupun musik. Realitas ini yang menyeret mereka untuk merespon kesenian berupa tari Balanse Madam.

Ditilik dari pertunjukan tari Balanse Madam yang bernuansa pergaulan, tidak terlalu rumit untuk dipelajari. Apalagi tarian ini mengandung unsur joget, walaupun berupa langkah-langkah step biasa seperti gerak jalan (melenggang). Bagi suku Keling terasa sesuai dengan pola-pola tarian leluhur mereka. Apalagi mereka membutuhkan media hiburan untuk berinteraksi. Dukungan masyarakat Keling membuat pertumbuhan tari Balanse Madam pada abad ke-16, tambah membudaya dalam masyarakat Nias Padang.

Dukungan lain yang tak kalah penting berasal dari Sutan Padang dan para warga Padang lainnya yang mayoritas suku Minangkabau. menurut Utiah, salah seorang pewaris tari
Balanse Madam masa sekarang ini, tak jarang Sutan Padang menyaksikan pertunjukan tari Balanse Madam yang digelar dalam wilayah Kampung Nias dan Seberang Palinggam.

Sutan Padang sama sekali tidak melarang kesenian tari Balanse Madam dibudayakan di Kota Padang. Walaupun demikian Sutan Padang memberi saran agar kesenian tari Balanse Madam disesuaikan dengan tata krama dan etika orang Minangkabau sebagai pemilik daerah kekuasaan. Pertunjukan tari Balanse Madam hendaknya tidak menyimpang dari pola-pola budaya Minangkabau.
Pada masa awal pertumbuhannya tari Balanse Madam, tidak mendapat tantangan yang berarti dari masyarakat di luar suku Nias, baik dari suku Minangkabau maupun suku Keling, bahkan penguasapun baik Belanda dan Sutan Padang tidak melarang aktivitas kesenian ini. Ternyata pada gilirannya kesenian ini pulalah yang menjadi ikon kota Padang hingga masa kini.

Sungguhpun demikian dari abad ke-16 sampai Orde Lama dan awal Orde Baru atau tahun 1970-an, kesenian Balanse Madam tidak pernah dimainkan oleh suku di luar suku Nias. Masyarakat Minangkabau hanya sekedar penikmat, bahkah suku Cina dan Keling pun merupakan penikmat yang setia hingga sekarang.

Memasuki tahun 1980-an barulah tari Balanse Madam mulai menyebar ke berbagai sanggar tari dan sekolah-sekolah seni atau perguruan tinggi seni di Sumatera Barat dan terutama di Kota Padang. Hal ini membuktikan bahwa masyarakat pendukung tari Balanse Madam bukan saja berasal dari masyarakat Nias, akan tetapi juga masyarakat kota Padang pada umumnya.

Semenjak pemerintahan Kota Padang dipimpin oleh Syahrul Ujud tahun 1983, keterbukaan pemerintah terhadap kesenian asli kota Padang mulai dipopulerkan kembali ke tengah-tengah kehidupan masyarakat kota. Tidak saja kesenianasli yang berasal dari kenagarian di luar Kota Padang lama, seperti kesenian Nagari Pauah, Lubuk Kilangan, Nan Duo Puluah, Bungus Teluk Kabung dan Koto Tangah, yang jelas berakar pada budaya Minangkabau. Akan tetapi pemerintah kota juga menggali kembali kesenian asli warga Kota Padang yang telah diakui menjadi budaya Kota Padang. Melihat sejarah kehadiran orang Nias di Kota Padang, sudah barang tentu kesenian tari Balanse Madam merupakan warisan budaya Kota Padang yang perlu dilestarikan dan diakui keberadaan­nya.

Kehadiran tari Balanse Madam dengan sejarahnya yang panjang, oleh pemerintah Kota Padang semenjak kepemimpi­nan Syahrul Ujud pada tahun 1983, tarian ini dijadikan salah satu ikon Kota Padang, di samping Musik Gamad, yang juga banyak dimainkan oleh masyarakat Nias bersama komunitas Suku Keling keturunan.
Daerah Pasar Gadang , sebuah pasar paling awal di kota Padang, tempat masyarakat Nias bekerja

Daftar Pustaka

Amir, Armansyah. 1979. Kehadiran Balanse Madam dalam Musik Tradisi Musik Gamad di Kotamadya Padang. Padang Panjang: ASKI
Bogdan, Robert C, dan Biklen. 1982. Qualitatif Research for Education Theory and Methods. Boston: Allyn and Bacon, Inc.
Coomans, Mikhail. 1987. Manusia Daya. Jakarta: Gramedia.
Erwanto. (1998).”Balanse Madam Pada Masyarakat Nias: Studi Kasus di Seberang Palinggam Kecamatan Padang Seatan”. Padang: Sendratasik FPBS IKIP Padang.
Geertz, Clifford (terjemahan F.B. Hardiman). 1992. Tafsir Kebudayaan. Yogyakarta: Kanisius
Harefa, Nofirman. 1998. “Musik Pengiring Balanse Madam: Suatu Tinjauan Bentuk Penyajian dan Musikologis”. Padang: PFBS IKIP Padang.
Hertina. 2001. “Peranan Ninik Mamak Terhadap Anak Kemenakan di Limo Koto Kampar”. Padang: PPS UNP.
Ihromi, T.O. 1996. Pokok-pokok Antropologi Budaya. Jakarta: Yayasan Obor Jakarta.
J. Daeng, Hans. 2000. Manusia, Kebudayaan dan Lingkungan Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Kayam, Umar. 1981. Seni, Tradisi, Masyarakat. Jakarta: Sinar Harapan
K. Garna, Judistira. 1996. Ilmu-ilmu Sosial, Dasar-Konsep-Posisi. Bandung: PPS UNPAD.
K. Langer, Suzanne. 1998. Problem ot Art. New York: New York Publisher, Inc New York.
Koentjaraningrat. 1987. Sejarah Teori Antropologi I. Jakarta: UI Press
____. 1990. Sejarah Teori Antropologi II. Jakarta: UI Press.
____. 1992. Beberapa Pokok Antropologi Sosial. Jakarta: Dian Rakyat.
Lubis, Muktar. 1985. Transformasi Budaya Untuk Masa Depan. Jakarta: Inti Idayu
M. Hawkins, Alma. 1990. Creating Through Dance. Los Angeles: University of California.
Manan, Imran. 1989. Dasar-dasar Sosial Budaya Pendidikan. Jakarta: Depdikbud, Dikti.
___________. 1995. Birokrasi Moderen dan Otoritas Tradisional di Minangkabau. Padang: YPKM.
Mariati. 2000. “Peranan Bako Terhadap Anak Pisang dalam Konteks Perubahan Sosial”. Padang: PPS UNP.
Martin, John. 1963. The Modern Dance. New York: Horizon.
Masinambow, E. K. M. (ed). 1997. Koentjaraningrat dan Antropologi di Indonesia. Jakarta: Asosiasi Antropologi Indonesia Bekerjasama dengan Yayasan Obor Indonesia.
Meri, La. 1986. Eleman - Elemen Dasar Komposisi Tari. Terjemahan, Soedarsono. Yogyakarta: Laga ligo.
Moleong, Lexy. J. 1989. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Karya.
Muhajir, Noeng. 1989. Metodologi Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: Rake Sarasin.
Parani, Yulianti. 1983. Tari Pendidikan. Jakarta: LPKJ.
Pelly, Usman & Asih Menanti. 1994. Teori-teori Sosial Budaya. Jakarta: proyek Pembinaan dan Peningkatan Mutu Tenaga Pendidikan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Royce, Anya Peterson. 1981. Dance Anthropology. Indiana: Indiana Univercity Press.
Sanapiah, Faisal. 1990. Penelitian Kualitatif Dasar-dasar dan Aplikasi. Malang: Yayasan Asih Asah Asuh Malang.
Sedyawati, Edi. 1984. Pertumbuhan Seni Pertunjukan. Jakarta: Sinar Harapan.
____________. 1986. Pengetahuan Elementer Tari. Jakarta: Direktorat Kesenian-Depdikbud.
Siregar, Miko. 1996. “Tindak Ritual dan Konteks Kepariwisataan dalam Pertunjukan Tabut di Pariaman”. Padang: FPBS IKIP Padang.
Smith, Jacqualine. 1985. Dance Composition. London: Lepus Book.
Soedarsono. 1986. Pengetahuan komposisi Tari, Dalam FX. Sotopo Cokrohamijoyo, et-aI., ed. Pengetahuan Elementer Tari dan Beberapa Masalah tari. Jakarta: Direktorat Kesenian, proyek Pengembangan Kesenian, DEPDIKBUD
_________. 1984. Pengetahuan Tari. Jakarta: Yogyakarta: ISI.
_________. 1977. Tari-Tarian Indonesia I. Jakarta: proyek Pengembangan Media Budaya, Dirjen Kebudayaan DEPDIKBUD.
_________. 1995. Metode Penelitian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa. Jakarta: MSPI
Soenarto. 1989. Wawasan Seni. Yogyakarta: FPBS IKIP Yogyakarta.
Spradley, James. 1997. Metode Etnografi. Yogyakarta: Tiara Wacana.
Sulastri. 1998. “Eksistensi Tari Balanse Madam di Tengah Masyarakat Pendukungnya”. Padang: PFBS IKIP Padang.
Syarif, Mustika. 1981. Tari Tradisional Minangkabau. Padang: Bidang Kesenian, Kanwil Dikbud Sumbar.
Wahyuni, Wahida. 1992. “Komposisi Tari Balanse Madam”.


Daftar Isi Buku
 Kata Pengantar
Daftar Isi
BAB I Sejarah Tari Balanse Madam
A. Asal-Usul Tari Balanse Madam1
B. Pertumbuhan Tari Balanse Madam Abad Ke-16.
C. Masyarakat Pendukung Tari Balanse Madam
BAB II Wilayah Penyebaran Tari Balanse Madam dan Masyarakat Nias di Padang
A. Daerah Penyebaran Tari Balanse Madam dan Pemukiman Masyarakat Nias di Padang.
B. Sejarah Datangnya Orang Nias ke Kota Padang
C. Unsur Kebudayaan Nias di Padang
Bab III. Keberadaan Tari Balanse Madam
A. Kedudukan Tari Balanse Madam dalam Masyarakat Nias di Kota Padang
B. Kegunaan Tari Balanse Madam bagi Masyarakat Nias Padang
C. Fungsi Tari Balanse Madam dalam Kehidupan Sosial Masyarakat Nias
BAB IV Tari Balanse Madam Sebagai Identitas Kultural
A. Tari Balanse Madam sebagai Fokus Budaya
B. Tari Balanse Madam sebagai Identitas Kultural
BAB V Makna Simbolis Tari Balanse Madam
A. Makna Simbolis Status dan Tata Cara Pertunjukan
B. Makna Simbolis Komander dan Disain Lantai
C. Makna Simbolis Penyajian Tari Balanse Madam pada Upacara Adat dan Pesta Perkawinan
BAB VI Perkembangan Tari Balanse Madam Pada Era Globalisasi
A. Pertumbuhan Pada Pemilik Tradisi Balanse Madam
B. Pertumbuhan dan Perkembangan Pada Komunitas dan Institusi lain
Daftar Pustaka
Indeks


Tentang Penulis

 

Telah berkecimpung dalam dunia seni lebih kurang 30 tahun, dan memperoleh pengalaman dalam menata atau mengkoreografikan tari lebih kurang 23 tahun. Dan telah banyak menulis tentang seni dan budaya baik di media cetak, dan jurnal ilmiah serta penelitian. Menghasilkan lebih kurang 63 buah karya tari, baik monumental dan kontemporer. Mendapat tiga kali penghargaan sebagai penata tari terbaik tingkat nasional. Indrayuda telah mementaskan tari di berbagai negara, seperti italia, Perancis, Swiss, Jerman, Jepang, Taiwan, Korea, Singapura, Malaysia, dan Belanda. Ikut dalam berbagai event festival tari, serta konfrensi tari baik tingkat lokal, nasional dan internasional, tergabung dalam World Dance Alliance Asia Pacific. Saat ini sedang kuliah S-3 di USM Malaysia program Ph.d tentang kebijakan politik dan perubahan sosial budaya terhadap perkembangan tari.


Laman yang Sering Dikunjungi