Automatic translation of this blog page: Terjemahan otomatis hal blog ini

Jumat, 14 Oktober 2011

Warisan Seni Budaya Minangkabau yang Terlupakan

Oleh Nasbahry Couto



Masih banyak aspek seni dan budaya Minangkabau itu yang belum diungkap dan dibicarakan ,baik di tingkat pendidikan umum (SD,SMP,SMA), maupun PT, di provinsi Sumatera Barat. Sebab yang dibicarakan dalam seni dan budaya Minangkabau itu, mungkin apa yang baik untuk perilaku orang Minang hari ini sebagai kesepakatan budaya, atau hanya sastra lisan, bahkan itu pun sudah tergerus oleh kebudayaan global. Oleh karena itu,  beberapa diantara seni dan budaya Minangkabau lama yang terjadi pada masa lalu itu, akan dikemukakan  oleh penulis dalam bentuk daftar istilah. 
Dari uraian ini kelihatan bahwa beragam kosa kata bahasa Minangkabau yang ada sekarang adalah kosa kata yang baru, sedangkan yang lama hilang lenyap dan tidak diketahui lagi bentuknya. Misalnya kosa kata mengenaui ukiran.

Kosa kata ukiran yang ada sekarang dan yang beredar di internet sebenarnya kosa kata baru, yang diperkirakan muncul pada zaman kolonial Belanda. Yang menghadirkan kosa kata itu adalah sentra-sentra pengukir di nagari-nagari Pandai Sikek, Kamang (bukittinggi) dan Sungai Puar. Hasil-hasil kreasi baru itulah yang kemudian di bukukan oleh para penulis tentang ukiran Minangkabau di kemudian hari seperti Marjani Martamin dkk, dsb. 


Bahan  ini mungkin berguna untuk diketahui generasi penerus budaya Minangkabau, ketimbang dibuang atau dilupakan. Sebagian besar adalah hasil penelitian penulis antara tahun (1996-2000). Cuplikan bahan ini sudah diseminarkan tahun 2002 di Taman Mini Indonesia, yang dibiayai UNESCO. Kemudian diterbitkan dalam bentuk bunga rampai melalui PPKB-LP-Universitas Indonesia Depok tahun 2003, dengan ISBN. 979-354-00-x. dan editor/penyunting: Prof. Dr.Edi Sedyawati. Buku ini dipilih sebagai buku bermutu oleh Program kerjasama antara Pustaka Yayasan Adikarya dengan The Ford Fundation, melalui sebuah proses seleksi. Untuk menghindari ciplakan atau peniruan maka informasi yang diberikan sengaja tidak begitu lengkap.


Glosari Budaya Takbenda dari kosa kata Bangunan Tradisi Minangkabau

  1. Abu di ateh tunggua, Sebutan yang digunakan untuk menggambarkan posisi seorang suami di rumah keluarga istrinya. debu tidak dapat menyatu padu dengan tunggul. suatu saat, bila angin kencang datang, debu dengan mudah akan tercampak dari tunggul. Tunggua (tunggul) adalah batu landasan untuk memasak, biasanya tunggul itu banyaknya tiga buah.
  2. Aka Cino Badaun, “Akar Cina berdaun”
  3. Aka Cino Duo Pilin, “ Akar Cina dua Pilin”, dalam soal pandai dalam adat Minangkabau juga terdapat empat macam akal pandai, 1) aka sajangka (akal sejengkal), yaitu akal orang yang senantiasa merasa dirinya lebih pandai dari orang lain, 2) aka duo jangka (dua jengkal) ukuran akal yang senantiasa merasa sama dengan orang lain, 3) aka tigo jangka (tiga jengkal), ukuran bagi orang yang merasa kurang pandai dari orang lain, 4) aka bajangka-jangka, yaitu ukuran akal orang yang merasa perlu belajar dari orang lain
  4. Aka Cino Sagagang, “Akar Cina Satu gagang”, nama motif, artinya lihat aka Cino duo pilin
  5. Aka, 1)akal, dan bisa juga berarti 2) akar dalam bahasa Minangkabau, dalam adat Minangkabau terdapat empat macam akal, 1) akal panjang yang dimiliki oleh orang bijaksana, 2) aka banyak yang dimiliki oleh orang pandai, 3) akal berbelit yang dimiliki oleh orang licik, 4) akal pendek yang dimiliki oleh orang bodoh (Navis, 1986:97)
  6. Alam takambang dapat diartikan alam semesta termasuk manusia, alam dianggap banyak memberikan pelajaran kepada manusia Minangkabau ‘alam takambang jadi guru’ adalah filsafat hidup manusia Minangkabau yang menggambarkan manusia harus belajar kepada gejala alam dan juga manusia
  7. Alaman "cirano basa", arti kiasan, halaman rumah : tempat mengerjakan alek (kenduri), jika rumah gadangtelah penuh
  8. Aluang bunian, peti peralatan yang dibuat dari kayu masif
  9. Ampiang, makanan yang dibuat dari padi yang masih muda, dipipihkan, dimakan dengan campuran gula, kelapa, kepala susu murni
  10. Anggang, paruan anggang, lambang raja Aditiawarman, Tambo mengatakan :lalulah anggang dari lauik, ka gunuang barapi sandirinyo, handak mancari makananyo....Kedatangan Aditiawarman ke Minangkabau dari majapahit yang dianggat sebagai raja, dilambangkan dalam tambo sebagai burung enggang.
  11. Ati-Ati, Daun Bodi, nama motif ukiran
  12. Atok "rabun sani", atap bagian pinggir kiri kanan rumah gadang, dianggap buta
  13. Atok “panji alam”, atap tengah yang berada lebih tinggi setingkat melingkup atap rabun sani
  14. Atok saga, istilah di Pariangan, atap yang dibuat dari ijuk,istilah lain adalah atok saga labah mangirok (Pariangan)
  15. Bada Mudiak, ikan kecil mudik, perilaku ikan kecil yang beriringan, nama motif ukiran
  16. Balai adat adalah bangunan (gedung) sarana pertemuan untuk ninik mamak(pangulu) dalam suatu nagari, untuk membicarakan segala sesuatu yang tumbuh pada anak kemenakan (penduduk nagari)
  17. Balai, lantai pada lanjar pertama dalam rumah gadang, balai bisa juga berti tempat pertemuan upacara adat
  18. Bandua ' buayo jantan", arti kiasan, sama dengan bandua ula
  19. Bandua "'sitakuik sayang", arti kiasan,sama dengan bandua ayam, karena dia rendah orang takut akan jatuh ke bawah rumah gadang
  20. Bandua ayam ‘ bagian bawah jendela yang tingginya sekitar 30-40 cm’Bandua ayam adalahbagian bawah jendela, dinamakan demikian kerena ayam sering bertengger disana sebelum masuk ke rumah gadang
  21. Bandua ula garang, arti kiasan, istilah khusus di Pariangan, bandua ini adalah bagian lantai yang ditinggikan di depan bilik . Oleh karena terletak dibawah diibaratkan ular ‘garang’ganas (Pariangan)
  22. Bandua ula’ yaitu bagian lantai yang ditinggikan di depan bilik, bandua ini ada yang lurus saja dan ada yang berbentuk letter U
  23. Bantuak bak tanduak kabau, arti kiasan, Bentuk seperti tanduk kerbau darigonjong rumah gadang,
  24. Baralek gadang, upacara adat tradisional yang diselenggarakan secara besar-besaran
  25. Barayun, “berayun”, terombang ambing
  26. Batagak Penghulu, menobatkan seseorang yamg dipercaya menjadi kepala suku
  27. Batang lintabuang, sejenis bambu yang kuat sekali yang tumbuhnya dekat sungai, banyak dipergunakan untuk galah
  28. Batu sandi “raja bersila”, arti kiasan. Batu sandi adalah batu yang digunakan untuk alas tiang rumah gadang, bentuknya agak membulat agar air turun dan tidak merusak tiang. Cekungan tiang mengikuti batu sandi agar kokoh letaknya. Batu itu dianggap sebagai raja yang duduk bersila
  29. Batu tapakan 'sijangek liek", Batu tapakanadalah batu di bawah jenjang tempat untuk mencuci kaki sebelum masuk ke rumah gadang, secara visual batu ini licin di dekatnya di letakkan tempat air dan sendok untuk menyeduhnya
  30. Biku-Biku, ombak-ombak, perilaku alam, turun dan naiknya gelombang, nama motif ukiran
  31. Biliak "bakalambu rumin", maksudnya adalah kamar tempat pengantin atau yang sudah berkeluarga. Di Belimbing, disebut biliak saja .
  32. Biliak 'alung bunian', kotak kayu masif yang dipahat sehingga terbentuk rongga dengan penutup di atasnya. (Alung artinya peti, bunian artinya hunian/simpanan) berfungsi sebagai peti penyimpan barang berharga (simpanan bundo kanduang, simpanan mande) atau penyimpan peralatan pertanian seperti cangkul dan sebagainya. Kadang-kadang peti ini disimpan pada serbuah bilik, yang terletak pada tengah ruang setentang dengan dengan pintumasuk-keluar . Di Belimbing kotak ini di letakkan pada kiri-kananpintu masuk..
  33. Bodi, Caniago, Koto dan Piliang, empat suku asal masyarakat Minangkabau. Dari keempat suku ituini kemudian berkembang suku-suku lainnya, dan sekarang diperkirakan ada 96 suku di Minangkabau .
  34. Bubungan, kayu memanjang paling atas sekali, atap bubungan berada pada puncak atap yang mendatar’
  35. Bundo kanduang, nama kehormatan yang diberikan kepada pemimpin penghuni rumah gadang (dahulu) sekarang  adalah nama pemimpin wanita di suatu nagari yang dihormati
  36. Bungo Kacubuang, bunga kecubung, nama motif ukiran rumah gadang desa Pariangan
  37. Bungo Padi, bunga padi, nama motif ukiran pada dinding depan rumah gadang di Pariangan
  38. Bungo Puluik-Puluik, bunga pulut-pulut, nama motif ukiran pada dinding depan rumah gadang
  39. Bungo Sakek, nama motif ukiran rumah gadang terdapat pada kepala tiang
  40. Bungo Satangkai, bunga setangkai, nama motifukiran rumah gadang terdapat pada desa Pariangan. Mitos yang terdapat pada tambo diceritakan Sang Sapurba yang bergelar Sri Maharaja Diraja yang beragama Hindu pergi mencari tanah baru ke Sungai Tarap, menemukan bunga teratai yang disebut bunga setangkai. Negeri itu kemudian dinamakan Bunga Setangkai, yaitu nagari kedua setelah Pariangan Padang Panjang.
  41. Cadiak-Pandai, (cerdik pandai), yaitu salah satu unsur dari Tigo tungku sajarangan (pimpinan informal) masyarakat Minangkabau. Unsur ini mulai kelihatan peranannya setelah masyarakat Minangkabau memeluk agama Islam.
  42. Camin-camin, cermin-cermin, tempelan kaca cermin bulat pada pada ukiran rumah Koto Piliang
  43. Cempago Pandan, cempaka pandan, nama motif ukiran rumah gadang terdapat pada ukiran mahkota bintang
  44. Cibuak adalah tempat membasuh kaki di dekatbatu tapakan
  45. Cupak, gantang atau takaran
  46. Datuak,Datuk,sama dengan penghulu, laki-laki atau mamak yang diangkat menjadi kepala suku atau kaum dalam masyarakat tradisional Minangkabau
  47. Dindiang "parisai alam", arti kiasan, daridinding hari maksudnya untuk menangkis angin, hujan dan juga pengaruh gaib
  48. Dindiang "tabir tirai", dinding luar dari bilik yag dihiasi dengan hiasan tirai, dan ada pula yang diukir
  49. Dindiang angin alang katabang', arti kiasan, sama dengan dindingsingok/dinding hari, bentuknya dianggap seperti elang akan terbang (Belimbing )
  50. Dindiang banamo "situtup mati', arti kiasan, sama dengan dinding hari (di luar) di dalam namanya situtup mati(supayo angin jan ka lalu supayo hujan jan ka masuak)
  51. Dindiang hari adalah dinding sebelah kiri dan kanan rumah gadang
  52. Dompa-dompa, list plank
  53. Dubalang, salah seorang dari 4 perangkat pemerintahan adat nagari yang dikenal dengan istilah urang ampek jinih
  54. Dusun, perkampungan kecil tahap kedua, setelah taratak. Tempat tinggal masyarakat petani yang dibentuk oleh beberapa suku pendatang. Jika telah berkembang menjadi 4 suku maka baru boleh disebut nagari.
  55. Eto, (hasta), ukuran Minangkabau, sama dengan panjang dari ujung jari ke pangkal lengan (lebih kurang 50 cm)
  56. Gadiang-gadiang "manahan ulak",gadiang-gadiang adalah konsen, arti kiasan, dari konsen jendela menahan tolak dan dorong
  57. Gajah Maharam, tipe rumah gadang yang bentuknya besar/tidak ramping. Tidak memiliki anjung. Pintu masuk dan keluar sama. Tidak ada jalan tembus ke belakang.
  58. Galundi Nan Baselo, tempat pemukiman pertama nenek moyang orang Minangkabau menurut tambo, lokasinya di Pariangan sekarang
  59. Gonjong adalah ujung atap yang runcing dan melengkung ciri khas bangunan Minangkabau
  60. Gonjong batajuak 'bapucuak rabuang",gonjong itu beruas-ruas, tiap ruas itu ada artinya, istilah ini ada di Belimbing.
  61. Gonjong 'sitombak sati", artinya gonjong yang lurus (tipe lama), sekarang gonjongrumah gadang pakai mahkota. Bentuk gonjong ini masih ada di Solok dan di tempat lain. Ada juga yang mengatakan gonjong yang dua ditengah adalah sitombak sati (Pariangan). Artinya ‘yang melintasi disana’ mati; pepatahnya adalah : “ Tabujua lalu tabalintang patah, kabawah inyo indak baurek, kaateh indak bapucuak, ditangah dilariak kumbang “. Memperlihatkanpenghuni rumah gadang itu adalah orang-orang adat, keramat yangbertuah.
  62. Halaman "siranjano", arti kiasan, halaman rumah : tempat bermain anak muda, bergelanggang
  63. Hinduisme, faham, ajaran agama hindu yang masih hidup dalam rangka pembangunan rumah gadang. Antara lain dengan digantungkannya setandan pisang, beberapa buah kelapa yang telah tumbuh tunasnya, dan sepotong kain pada kayu perabung sebagai sesajen. Darah dari ternak yang dipotong ditebarkan di tanah perumahan dan pada tonggak. Adakalanya seekor ayam dipotong langsung di atas kuda-kuda yang telah terpasang dan darahnya ditebarkan di sekitar bangunan
  64. Ijuk ‘bahan atap dari pohon aren’
  65. Induak janjang "sitanggo naik', kepala jenjang, tempat pegangan anak jenjang
  66. Itiak Pulang Patang, itik pulang petang, perilaku itik yang beriringan pulang kekandang, nama motif ukiran rumah gadang
  67. Jalo Taserak, jala tersebar, nama motif ukiran sebagai tanda aturan/hukum laras Bodi Caniago
  68. Jambua’ sambungan lambai-lambai bawahpapan banyak.
  69. Janjang "sirandah hati", anak jenjang karena dipijak terus disebut si randah hati, tapi dia berguna bagi orang yang naik rumah gadang” Bajanjang naiak batanggo turun”, yang pertama terpijak dan terakhir terpijak.
  70. Janjang, janjang / jenjang ada dua macam yang asli di Padang Panjang Pariangan tidak beratap, perkembangan kemudian jenjang memiliki atap. Atap bergonjongdinamai tajuak.
  71. Kaba, cerita legenda tradisional yang disampaikan dati mulut ke mulut
  72. Kabun bungo bakuliliang, haman rumah, sebagian rumah gadang memiliki kebun bunga
  73. Kalalawa bagayuik, kelelawar bergantung,hiasan yang berciri lengkung sayap kelelawar, berbentuk setengah lingkaran, terdapat pada singok rumah gadang
  74. Kalangkang :pembatas pada jendela agar anak-anak tidak jatuh kebawah jendela’
  75. Kaluak Paku Bacamin, lengkung tunas pakis muda bercermin, nama motif ukiranrumah gadang terdapat pada panil tegak singok
  76. Kaluak Paku Baradai, lengkung tunas pakis muda berjumbai, nama motif ukiranrumah gadang terdapat pada Redeang Suduik rumah gadang
  77. Kaluak Paku, lengkung tunas pakis muda, nama motif ukiran
  78. Kandang "pautan bantieng", kandang adalah kolong rumah yang dipergunakan sebagai tempat tinggal ternak, pautan bantiang artinya tempat mengikat ternak. Di Pariangan tidak ada lagi mengingat untuk kebersihan dan kesehatan masyarakat, tidak baik hidup sama-sama dengan ternak.
  79. Kasau "hubungan lidah", arti kiasan, Kasau :diatas kasau adalah lae, diatasnya ijuak jadi fungsinya untuk penyambung pengikat, itu sebabnya disebut hubungan lidah
  80. Kasau "sisaruang lambiang, arti kiasan, kasauyang terletak di depan pintumasuk/keluar tempat menyisipkan lembing atau parang, persiapan jika ada musuh datang menyerang
  81. Kasau "tupai bagayuik", arti kiasan, ujungkasau yang menjulur keluar dekat dinding hari
  82. Kasau (unsur konstruksi) kayu bagian bawah sekali dekat paran, diatas kasauadalah lae
  83. Kaum, himpunan keluarga keturunan yang sesuku
  84. Kayu kampia sasak adalah kayu yang setentang dengan tiang pada dinding hari, nama khas Pariangan
  85. Kayu pacah ruang artinya kayu pembagi uang dinding sasak, nama khas pariangan
  86. Keluarga besar (extended family) format suatu keluarga yang anggotanya terdiri atas beberapa keluarga dari tiga generasi atau lebih.
  87. Keluarga kecil (nuclear family), Format suatu keluarga yang anggotanya terdiri atas sepasang suami istri dan anak-anaknya. Anak-anak dalam definisi ini dapat juga berarti anak angkat, yang diadopsi oleh pasangan suami istri itu (Harsoyo, Pengantar Antroplolgi, 1988:146)
  88. Kias,metafor. Dalam bahasa Minangkabau banyak sinonim kata kias seperti sindia (sindir), hereanggendeang (hereng-gendeng), kato malereng (kata melereng = tidak langsung). Kias sebagai medium komunikasi tidak hanya menggunakan kata, tetapi juga rupa. Misalnya ukirantantadu manyasok bungo (ulat mengisap bunga). Mengkiaskan kehidupan orang semenda di rumah gadang.
  89. Kipeh Cino, kipas Cina, motif ukiran, terdapat pada ujung panil-panil
  90. Koto, perkampungan tahap ketiga yang lebih dari 2 suku asal, bangunan rumah gadang sudah ditemukan pada koto. Dalam pemerintahan Belanda Satu nagari terdiri dari beberapa koto
  91. Kupang-kupang "si awang labiah",kupang-kupang adalah bagian balok bubungan yang menonjol keluar.”Si awang labiah” adalah istilah untuk keratan kayu yang datang dari luar artinya kayu yang berlebih. Dengan adanya kupangtadi maka papan atau dinding itu tidak bisa bergerak lagi. Kupang-kupang diibaratkan orang semenda (sumando) yang datang dari luar untuk mengokohkan kedudukan gadis dalam rumah gadang, bila sudah bersuami
  92. Kupang-kupang tupai managun ‘sambungan balok bubungan, sama dengan di atas, tetapi di ibarakan sebagaitupai mangun
  93. Labuah ‘lantai pada lanjar kedua antarabandua dan balai dalam rumah gadang
  94. Labuah bapintu gobang, Labuah adalah jalan raya, jalan akan masuk ke nagar sama arti dan fungsinya dengan jenjang dan pintu masuk ke rumah gadang. Jika rumah gadangberpintu dan berjenjang. Nagaribalabuah dan bergerbang. Menurut informasi bentuk gerbang itu tiang saja dua buah kiri-kanan jalan persegi empat, sebab dia menahan /menolak bala empat jurus: yang empat itu menurut Minangkabau :kulik, urek, dagiang, tulang (manusia), (isi manusia) hati, jantuang, rabu, buah pungguang, (Islam) Imam, Islam, Tauhid, Makrifat,
  95. Lae "siundang-undang", arti kiasan, undang-undang tempat bergantung atap, jika sudah dapat hasil keputusan rapat maka ditampunglah dia pada undang-undang (aturan). Lae menampung semuanya dibawah atap.
  96. Lae "suko mananti", arti kiasan, sama dengan diatas
  97. Laka, Landasan tempat untuk meletakkan periuk, belanga. Laka dibuat dari rotan yang panjang satu laka, saluak laka’ adalah nama motif ukiran yang mengibaratkan laka. Kadang-kadang saluak laka dibuat dari bahan lidi daun pohon kelapa
  98. Lamari tanam’ lemari yang ditanamkan pada dinding sebelah kanan pintu masuk
  99. Lambai-lambai, Pengapit papan: papan atau kayu pengapit kepala papan atau panil kedalam (panin adalahpapan bhs. Minangkabau)papan-papan itu dipegang olehlambai-lambai . Kalau dibawah antakan dindiang namanya(balok)
  100. Lambak adalah kayu penutup (bhs.Minang artinya palampok) les penutup atau pengakhiran setiap bagian papanatau dinding
  101. Langik-langik balipek tilam panjang, plafon yang berlapis tilam panjang, jika telah diadakan pesta di rumah gadang maka dipasanglangik-langik balipek tilam panjang
  102. lanjar, batas-batas ruang dari muka ke belakang, batas ruang ini dilihat dari pasangan tiang. Ada bangunan dengan lanjar dua (rumah lipek pandan dengan gonjong dua) berarti pasangan tiangnya tiga baris, lanjar tiga (rumah balah bubuang dengan gonjong empat), pasangan tiangnya empat baris. Bangunan dengan lanjar empat (rumah gadang gajah maharam dengan gonjong empat)
  103. Lantai "palupuah', Lantai yang dibuat dari bambu yang dicencang, di Minangkabau disebut ‘palupuah’
  104. Lantai "tampek baretong', lantai di balai-balai,balai adat
  105. Lantai 'alam takambang", arti kiasan, lantaitanah, bisa juga berarti lantaidibawah bandua ula
  106. Lapiah 4, “Jalinan empat” nama motif ukiranrumah gadang terdapat pada tiang Salangko
  107. Lapiah Jarami, “ Jalinan jerami” nama motifukiran rg terdapat pada les bawah pereng
  108. Lapiah Tigo, “ Jalinan tiga” nama motif ukiran
  109. Lapiak "pardani", Tikar permadani
  110. Lapiak hamparan, tikar pandan atau rumput
  111. Lareh nan duo, (Laras yang dua) dua klasifikasi utama sistem pemerintahan masyarakat serta pengelompokan sukunya, yaitu Kelarasan Bodi Caniago (sistem pemerintahan demokrasi) dan Kelarasan Koto Piliang (sistem pemerintahan aristokratis)
  112. Lareh Nan Panjang, faham sosial di Minangkabau yang tidak berpihak ke Koto Piliang dan Bodi Caniago
  113. Lareh, faham sosial di Minangkabau yang bersifat demokratis (Bodi Caniago), bersifat otokratis (Koto Piliang), dan bersifat netral ( Lareh Nan Panjang/lareh nan Bunta). Masing-masing di cetuskan oleh Datuk Parpatih Nan Sabatang, Datuk Ketumanggungan, dan Datuk Bandaro kayo/Dt.Sri Nan B., Lareh Koto Piliang adalah penerusan dari sistem kerajaan yang bersifat feodalistik yang bercampur dengan sistem matrilineal, nagari-nagari yang berpaham KP terikat dengan sistem kerajaan yang ada di Minangkabau, misalnya kerajaan dibawah raja Aditiawaman. Sedangkan Bodi Caniago yang dipimpin oleh Dt.Parpatih Nan Sabatang di luar sistem kerajaan itu . Pada Pada Zaman Belanda istilah ke-lareh-an / kelarasan dijadikan sebagai istilah teritorial, yang dipimpin oleh Tuangku Laras yang bergelar Datuk. Dibawah kelarasan terdapat nagari-nagari.Pada mulanya aliran kalarehan menjadi anutan suku kemudian menjadi anutan nagari (karena pengaruh kerapatan adat nagari).
  114. Lasuang artinya lesung adalah tempat menumbuk padi
  115. Luhak nan tigo, ( Tiga Luhak ) wilayah kumpulan nagari-nagari di Minangkabau yang terdiri dari Luhak Tanah Data, Luhak Agam, dan Luhak Limo Puluah Koto, luhak-luhak ini kadang-kadang juga disebut dengan daerah Darek (darat)
  116. Lumuik Hanyuik, “ Lumut hanyut”, nama motifukiran rumah gadang
  117. Mamak kapalo warih, (mamak kepala waris) Mamak yang tertua (tidak mesti bergelar datuk/pengulu) dari suatu kaum, yang bertugas mengatasnamakan hak-hak kaum untuk urusan luar, dan mengatur penggunaan harta pusaka tinggi bagi semua kemenakannya.
  118. Mamak tungganai, mamak tertua dalam suatu keluarga, yang sekaligus bertugas sebagai kepala keluarga di rumah (rumah gadang) tersebut
  119. Mamak, saudara laki-laki ibu, jadi ‘tungganai’ rumah gadang, bisa jadi datuk atau kepalasuku
  120. Mangkuto bintang, “ Mahkota bintang” nama motif ukiran rumah gadang terdapat pada atas pintu bilik
  121. Mangkuto rajo, Mahkota raja, ‘hiasan di atas pintu bilik rumah gadang
  122. Matoari Jo Saluak Laka, “Matahari dengan jalinan laka” nama motif ukiran rg terdapat pada singok
  123. Matoari, matahari, nama motif ukiran
  124. Matrilokal, suatu pola bermukim dengan ciri pasangan suami-istri bermukim dirumah keluarga pihak istri.
  125. Mudiak, mudik, menuju kehulu sungai, bada mudiak, nama motif ukiran, yang mengibaratkan bada,ikan kecil pergi kehulu berbondong-bondong
  126. Nagari, klassifikasi tertinggi dari sistem wilayah administrasi Minangkabau, yang minimal terdiri dari 4 suku. Untuk masa sekarang dapat dianalogikan dengan “kota”. Urutan hirarkhis wilayah tersebut adalah Taratak, Dusun, Koto dan Nagari.
  127. Niniak mamak, ninik mamak adalah keturunan kelima bila dihitung dari anak, sedangkan mamak adalah keturunan ke dua bila dihiting dari anak. Keduanya berasal dari rumpun ibu yang sama.
  128. Pagar sasak bakuliliang, pagar bagian gelungsalangkp rumah gadang yang dibuat dari bilah bambu
  129. Pagu artinya adalah plafon atau langit-langit yang dibuat agak rendah yang berfungsi sebagai tempat barang.Pagu ini dibuat dari bambu
  130. Pakarangan balingkuang batu "lareh sabalik", Pekarangan rumah yang dilingkungi oleh batu, ditengah pekarangan dipelihara rumput
  131. Palanca "pandai baretong", arti kiasan, Kayu yang membujur sepanjang rumah, menghubungkan tiang dengantiang. Kayu ini yang menentukan jarak antara tiang, itulah maka disebut pantai berhitung (baretongartinya berhitung)
  132. Palanta, tempat duduk dibuat dari bambu disekeliling halaman jika ada kenduri besar di rumah gadang, maka disediakan palanta di depan rumah untuk menampung tamu yang berlebih, tempat ini di buka lagi jika kenduri selesai
  133. Palupuah adalah lantai atau dinding dari bambu yang dicincang
  134. Pamipiran bak sisiak ikan nun, arti kiasan, bagian pinggir atap yang sejajar dengan dinding hari, dibuat dengan seng, dahulu dibuat dengan bahan tali untuk pengikat ijuk
  135. Panin bandua adalah pasangan papanmendatar di bawah jendela ada dua atau tiga baris
  136. Papan banyak adalah papan yang dipasang tegak sebelah jendela rumah gadang
  137. Paran "alang babega", Seisi rumah dia kungkung, diatas, dia mengetahui atau dianggap melihat. Alang babega, adalah burung elang yang terbang melingkar melihat kebawah (asosiasi)
  138. Paran "sambutan kato", Paran yang sebaristiang di tengah rumah gadang
  139. Paran adalah penyangga yang membentang diatas tiang. Paran ini untuk meletakkan atap rumah gadang,ada dua jenis paran memanjang dan melintang
  140. Paran 'ula mangiang", paran bagian pinggir tengah rumah .
  141. Paruah Anggang, paruh enggang, nama motifukiran rumah gadang terdapat pada jambua sudut bangunan. Melambangkan raja Aditiawarman anggang nan datangdari lauik
  142. Pasak pintu "undang salapan", sejenis pasak pintu kuno Minangkabau
  143. Pasak pintu kato mandareh, pasak pintupakai kura-kura
  144. Pasak pintu lidah kaitan, sama dengan pasak baling-baling
  145. Pasak rumah 'kungkuang sabalik, pasak pakai ampang-ampang
  146. Patrilokal, suatu pola bermukim dengan ciri pasangan suami istri yang bermukim di rumah keluarga pihak suami.
  147. Pautan kudo, tengah dibawah kandang tempat pautan kuda
  148. Penghulu andiko,penghulu suku yang berwenang memerintah dilingkungan anggota sesuku, terutama dalam kepentingan korong kampung seperti membangun rumah gadang, perhelatan dan sebagainya.
  149. Penghulu pucuak/pucuk/tertinggi, penghulu tertinggi di nagari yang terdapat pada adat berlaras Koto piliang
  150. Pintu "sibintang siang",sejenis pintu daripapan yang bisa dinaik-turunkan untuk membukanya
  151. Pintu "suluah jo bendang", sejenis pintu di dinding hari gunanya untuk menerangi ruang rumah gadang, jelas orang yang akan naik,jelas orang yang kan tiba
  152. Pintu angin lubang atau ‘kisi-kisi atau tarawang di atas jendela’untuk lobang angin
  153. Pintu artinya jendela, di Minangkabau tidak dikenal nama jendela, semua dikatakan pintu saja baik pintumasuk maupun jendela.
  154. Pintu diujung "dubalang sati', sama dengan diatas, gunanya untuk melihat /meninjau musuh yang akan datang
  155. Pintu gobang "pangulu alam", pintu gerbang nagari untuk mengetahui orang yang akan masuk nagari
  156. Pintu jika ada dua buah pintu masuk pada rumah gadang. Maka pintu yang sebelah kanan menunjukkan ninik yang tuo dan sebelah kiri ninik yang mudo. Jadi ada dua kelompok turunan yang mendiami rumah gadang berdasarkan tua dan muda
  157. Pintu kaciak duduak tungganai, jendela tempat menerima ‘bawaan’ pada waktu perhelatan,Yang menerima bawaan itu adalah tungganairumah gadang. Jika rumah itu 5 ruang maka pintu itu yang ke dua dari pintu masuk. Jika 7 ruangpintu yang ke 3 .Jika rumah 9 ruang pintu yang ke 5. Orang Minangkabau tidak membedakanpintu dengan jendela semuanya disebut pintu saja
  158. Pintu kaciak sigajah bujang, jendela yang diujung sekali dari rumah gadang(kiri atau kanan).
  159. Pintu ketek "santan taruah', tempat orang dapur mengeluarkan sisa-sisamakanan waktu terjadi perhelatan. Santan adalah sari air kelapa seperti susu, taruah artinya tertumpah. Pintu ini untuk menembus ke ruang belakang. ada di Solok. Sebab keluar-masuk di pariangan dari depan semua.
  160. Pintu matoari tarabik, pintu depan
  161. Pisang Sasikek, pisang satu sisir, nama motifukiran rumah gadang terdapat pada mahkota bintang
  162. Pucuak Rabuang, pucuk rebung, pucuk bambu muda, nama motif ukiran rumah gadang
  163. Pusako randah, (pusaka rendah) yaitu harta hasil pencarian sepasang suami istri yang diwariskan pada anak-anaknya. Bila harta ini jatuh ketangan cucu, maka ia telah tergolong harta pusaka tinggi.
  164. Pusako tinggi, (pusaka tinggi), harta hasil pencarian generasi nenek keatas, yang sulit ditelusuri asal-usulnya
  165. Rabuang, bambu muda, biasanya untuk sayur oleh orang Minangkabau . sudah tua namanya betung, bambu. ‘Pucuak rabuang, nama motif ukiran yang mengibaratkan ‘ muda berguna, tua terpakai’
  166. Rajah Kapuak, rajah artinya tanda, kapuk artinya lumbung, nama motif ukiranterdapat pada ujung rasuk rangkiang
  167. Rajah Sulaiman, tanda Sulaiman, nama motifukiran berbentuk jajaran genjang, saik ajik
  168. Rajo babandiang, nama rumah gadang, Sama dengan rumah gadang bapaserek. Suatu tipe rumah gadang di Luhalk Lima Puluh Kota. Maksudnya bagian tengah rumah gadang diseret kebelakang
  169. Rangkiang sibayau-bayau ditangah,rangkiang sibayau-bayau degan tanda sembilan tonggaknya
  170. Rangkiang sitinjau lauik ditangah, dengan tanda empat tonggaknya
  171. Rangkiang suko mananti dikiri, dengan tanda empat tongggaknya untuk menanti yang menerima/menyapa orang terlebih dahulu
  172. Rangkiang, asal katanya Ruang Hiang dewi Sri (Dewi Padi).Ruang = menjadi rang ejaan Minangkabau. Tempat penyimpanan padi dengan ciri atap gonjong, yang beratap pelana disebut kapuk
  173. Rantau Cino, (Rantau cina), pola merantau yang yang mentradisi sejak awal abad ke-20, yang berciri, dibawanya anak dan istri bermukim, menetap di kota rantau
  174. Rantau pipik, (pipit adalah sejenis burung pemakan padi, warnanya coklat dan tubuhnya kecil), Pola merantau orang (lelaki) Minangkabau dahulu. Laki-laki Minangkabau pergi sendirian mencari penghidupan di rantau, sementara istri dan anaknya ditinggalkannya dengan mertua di kampung. Dalam periode tertentu, perantau ini pulang kampung untuk beberapa minggu mengantarkan hasil pencaharian, kemudian kembali lagi ke rantau.
  175. Rantau, daerah-daerah dalam wilayah Minangkabau yang berada diluar Luhak nan tigo, dan daerah -daerah yang berada di luar wilayah Minangkabau sendiri
  176. Rasuak "Salam bajawek", pertemuan ujung rasuk yang masuk tiang dimanaantara yang datang dan yang menerima pas, tidak kurang dan tidak berlebih
  177. Redeang suduik ‘hiasan sudut berbentuk bidang miring pada bagian pinggir bangunan rumah gadang, biasanya diukir dengan motif kaluak paku baradai
  178. Rumah Adat atau Rumah gadang (gadang artinya besar); rumah tradisional masyarakat Minangkabau dengan ciri khasnya atap yang berbentuk tanduk kerbau. Rumah ini dibangun dengan dana bersama (kaum), dan didirikan di atas tanah pusaka tinggi. di rumah ini masyarakat Minangkabau dahulu hidup dalam bentuk keluarga besar.
  179. Rumah baanjuang adalah rumah gadangberanjung
  180. Rumah gadang paserek artinya tipe rumah gadang di Lima Puluh Kota,
  181. Rumah gadang basa batuah, artinya rumah orang besar bertuah
  182. Rumah gadang sangkaran gadiang adalah tipe rumah gadang di LNP,
  183. Rumah gadang Sitinjau lauik adalah tiperumah gadang Koto Piliang , biasanya beranjung.
  184. Rumah individual adalah rumah-rumah yang dibangun atas hasil pencaharian per keluarga, didirikan di atas tanah pusaka tinggi atau bukan.
  185. Rumah pangulu adalah rumah Datuk /ninikmamak
  186. Rumah puti jo rajo adalah rumah raja
  187. Saik Ajik, nama motif ukiran rumah gadang
  188. Sajurai,jurai merupakan garis keturunan mulai dari anak sampai ketingkat nenek
  189. Salajang kudo balari, arti kiasan, tentang ukuran rumah gadang
  190. Salangko ‘ penutup bagian kolong biasa berbentuk lengkung dan ada yang datar saja
  191. Salangko adalah bagian penutup kolong rumah gadang
  192. Salangko, kolong bagian depan rumah gadang
  193. Salimpat dan pucuak rabuang, nama motifukiran, salimpat sebangsa tumbuhan menjalar, yang bentuk daunnya seperti hati. Menkiaskan kata putus oleh penghulu
  194. Salodang, kelopak bunga pinang yang tua, biasa dipakai untuk nyiru atau mainan anak-anak
  195. Saluak Laka, jalinan laka, nama motif ukiran
  196. Sandi "tadung manonggok', arti kiasan, tentang batu sandi
  197. Sangkutan Aguang, maknanya sebagai kebesaran dari rumah gadang. Jika bagian ini dipotong maka akan dibicarakan orang bahwa rumahnya tidak memiliki ini. Kurang nilainya. Aguang mirip dengan talempong . “Babunyi aguang jo momongan tatagak marawabasa”
  198. Sangkutan gandang ditangah, Sama dengan sangkutan aguang, biasanya sebelah kiri kanan pintu masuk
  199. Sapik Kalo, jepitan kalajengking, nama motifukiran rumah gadang di Pariangan
  200. Sasak bintang bakilatan, arti kiasan, dindingsasak lipek pandan tetapi diberi tafsiran berkilat
  201. Sasak lambuang’ sasak lapis pertama pada dinding hari (nama khas Pariangan)
  202. Sasak panjang ‘ sasak bagian belakang rumah gadang’
  203. Sasak sisampiang /sasak randah ‘sasak lapis kedua dinding hari (nama khas pariangan)
  204. Sayap singok adalah bagian kiri kanan bagian bawah singok, biasanya diukir
  205. Sikambang manih, “sikembang manis” nama motif ukiran
  206. Singok ‘ dinding dibawah gonjong, bagian dari dinding hari’
  207. Sondak langik,/ sarasah/tonggak laju ‘kayu tempelan yang berukir ditengah-tengah singok’
  208. Suku, kelompok segaris keturunan ibu, satu suku berasal dari 5 keturunan. Menurut sejarahnya suku asal di Minangkabau adalah Koto, Piliang (Paham Dt.Ketumanggungan), Bodi dan Caniago (Dt.Perpatih nan Sabatang), kemudian terjadi pemekaran oleh Dt.nan Sakalok Dunia/Banego-nego, membawa 5 suku yaitu Kutianyia, Patapang, banuhampu, Salo dan Jambak (yang berpaham LNP). Nama suku diambil dari nama daerah asalnya. Pengembangan suku di Minangkabau terjadi 1) pemekaran karena pertambahan penduduk, 2) pemekaran kerana pemukiman baru,3) kedatangan bangsa lain ke Minangkabau . Nama suku diambil dari asal bangsa yang datang ke Minangkabau misalnya suku Melayu (Riau), Mandahiling (Batak), Kampai, Singkuang dari sinkiang/Cina, dan Bendang. Pengambilan nama suku ada yang berasal dari nama tumbuh-tumbuhan, nama benda, nama desa, dan nama asal suku bangsanya, nama orang
  209. Sumando, suami dari pihak wanita suku tertentu di Minangkabau
  210. Surau,fungsinya semula adalah sebagai asrama laki-laki, duda dan bujangan. Setelah Islam masuk ke Minangkabau sebagai tempat ibadah suku dan belajar mengaji.
  211. Tabia gadang adalah tabir besar nama dekorasi kain dalam rumah gadang
  212. Tagaknyo ' gajah bamanuang', arti kiasan, tentang rumah gadang, peringatan tentang rumah gadang supaya jangan di ganggu-ganggu.
  213. Tajuak berpuncak rabuang, tajuak adalahgonjong rumah janjang
  214. Tali tigo sapilin, istilah lain dari tigo tungku sajarangan, yang berkonotasi menunjukkan kekuatan dari tiga unsur itu.
  215. Tambo, berasal dari bahasa Sansekerta ,tambay atau tambe berarti bermula. Tambo merupakan kisah yang disampaikan secara lisan oleh tukangkaba (kabar), yaitu cerita lama tentang asal-usul Minangkabau
  216. Tampuak Manggih, tampuk buah manggis, nama motif ukiran rumah gadang
  217. Tanah "palinggam", arti kiasan, artinya tanah tempan bermusyawarah, tempat mendirikan sesuatu perhitungan, bermufakat dalam suatu tempat di ruangan lepas itu yang palinggam. Tanah palinggam adalah tempat tanah mendirikan rumah gadang
  218. Tanah pusako rendah,yaitu tanah sebagai hasil mata pencarian suami istri orang Minangkabau
  219. Tanah pusako tinggi, yaitu tanah suku yang dikuasai oleh pihak suku, kaum atau paruik. Tanah ini tidak bisa dijual kecuali dalam beberapa hal, misalnya untuk tujuan pembiayaan seorang anak gadis tua yang belum bersuami
  220. Tangga 'limo ", arti kiasan, jumlah anak tangga memiliki yang disebut bermakna atau arti tertentu sebgai kesatuan yang mengarah ke rumah gadang:’ kemenakan, mamak, pengulu, mufakat, kebenaran ‘ jika (7) tambahannya adalah ‘undang dan buatan’; untuk penguatkan kebenaran itu tad. Kemenakanbarajo ka mamak, mamakbarajo ka pangulu, pangulubarajo ka mufakat, mufakat kakebenaran, yang benar diatur olehundang jo buatan (apabila suatu masalah, kalau dicari dalam undang-undang tidak bertemu, maka mufakat pangulu, dicari kata buatan, buatan arek karang badagok, diasah indak layua, dibubuik inyo indak mati
  221. Tantadu Manyasok Bungo, tantadu, “ sejenis ulat, manyasok, mengisap bunga “nama motif ukiran ukiran rumah gadang
  222. Tapakan "bak minyak panuah', arti kiasan, batu di bawah tangga. Kalau dia terlenggang tertunggang, jadi dia tidak boleh tergoyang-goyang, tetap letaknya. Sebab akan diinjak -injak oleh orang lalu. Jadi hasil mufakat yang bak minyak penuh itu, jadi jangan digeser-geser. Gunanyabatu tapakan ini untuk cuci kaki, yang lain untuk meletakkan sendal, bisa juga untuk peletakkan perhitungan
  223. Tiang "maharajo basa", artinya tiang tua.Tiang yang empat sederet dengantiang tuo ada yaitu unsur yang empat, air artinya saudara yang akan menjernihkan segala sesuatu dalam batang tubuh, api artinya alim, angin artinya penggerakkan, tanah artinya hakim peneguhi ( Adat zaman jahiliah “berat dipikul ringan dijinjingan”, adat zaman Islamiah, sesudah perjanjian marapalam “barek sakadar katapikua, ringan sekedar ka tajinjiang”, sistem paksa tidak ada). Kalau dahulu adat bersendikan alur dengan patut, sesudah perjanjian marapalam, adat bersendikan sarak, sarak bersendikan kitabullah) keterangan empat jenis adat itu adalah perbedaan antara adat yang mengatur batin dan adat mengatur fisik
  224. Tiang banamo "kato hakikaik", arti kiasan,tiang yang ditengah rumah, hati, hakiki dia mengetahui sekelilingnya. Bagaimana pergerakan mata hati mengetahui, bagaimana pendengaran telinga hati mengetahui
  225. Tiang limo baririk kabalakang, sebenarnya lima baris tiang
  226. Tiang panjang "rajo badiri", dua buah kiri kanan sebagai tiang yang paling panjang
  227. Tiang tangah "rajo nan mulia", tiang tengah rumah gadang
  228. Tiang tapi "rajo nan bungsu "tiang yang paling pinggir
  229. Tiang tapi rajo nan manjo, tiang yang melekat ke dinding
  230. Tiang tuo "rajo batuah", tiang yang disudutrumah gadang bagian depan
  231. Tigo tungku sajarangan, tiga tungku sejerangan, yaitu pimpinan informal masyarakat Minangkabau yang terdiri dari tiga unsur, yaitu ninik mamak, cerdik pandai dan alim ulama
  232. Tirai Bungo Intan, tirai bunga intan, nama motif ukiran rumah gadang
  233. Tirai 4 Angkek, tirai Empat Angkat, empat angkat adalah suatu nama negeri di Bukittinggi, bentuk tirai itu dianggap berasal dari negeri itu, nama motif ukiran
  234. Tirai asam sauleh, tirai langit-langit dari kain dipasang
  235. Tirai Bungo Lado, tirai bunga lada, nama motifukiran rumah gadang dan rangkiang
  236. Tirai tagantuang awan sanjo, nama dekorasi dari kain pada rumah gadang, arti kiasan,
  237. Tungku ‘ tempat memasak dalam rumah gadang, asap tungku juga berfungsi sebagai pengusir nyamuk
  238. Tupai-Tupai Sabalah, tupai-tupai sebelah, nama motif ukiran terdapat pada Galuang Kampia Sasak di Pariangan
  239. Tuturan adalah pinggir bawah atap
  240. Tiang panjang "rajo badiri", dua buah kiri kanan sebagai tiang yang paling panjang
  241. Tiang tangah "rajo nan mulia", tiang tengah rumah gadang
  242. Tiang tapi "rajo nan bungsu "tiang yang paling pinggir
  243. Tiang tapi rajo nan manjo, tiang yang melekat ke dinding
  244. Tiang tuo "rajo batuah", tiang yang disudutrumah gadang bagian depan
  245. Tigo tungku sajarangan, tiga tungku sejerangan, yaitu pimpinan informal masyarakat Minangkabau yang terdiri dari tiga unsur, yaitu ninik mamak, cerdik pandai dan alim ulama
  246. Tirai Bungo Intan, tirai bunga intan, nama motif ukiran rumah gadang
  247. Tirai 4 Angkek, tirai Empat Angkat, empat angkat adalah suatu nama negeri di Bukittinggi, bentuk tirai itu dianggap berasal dari negeri itu, nama motif ukiran
  248. Tirai asam sauleh, tirai langit-langit dari kain dipasang
  249. Tirai Bungo Lado, tirai bunga lada, nama motifukiran rumah gadang dan rangkiang
  250. Tirai tagantuang awan sanjo, nama dekorasi dari kain pada rumah gadang, arti kiasan,
  251. Tungku ‘ tempat memasak dalam rumah gadang, asap tungku juga berfungsi sebagai pengusir nyamuk
  252. Tupai-Tupai Sabalah, tupai-tupai sebelah, nama motif ukiran terdapat pada Galuang Kampia Sasak di Pariangan
  253. Tuturan adalah pinggir bawah atap

Catatan: Sumber dari kosa kata di atas adalah dari analisis pidato adat, terlihat bahwa banyak dari kosa kata itu tidak dapat lagi diperlihatkan bentuk aslinya, misalnya Pasak pintu "undang salapan", bagaimanakah bentuk aslinya? Hal ini memperlihatkan lenyapnya budaya takbenda minang lama.




Laman yang Sering Dikunjungi