Automatic translation of this blog page: Terjemahan otomatis hal blog ini

Kamis, 20 Oktober 2011

Pakaian Adat Lambak Ampek


Suatu studi perlambangan (simbolisme)  pada pakaian adat remaja  untuk upacara Dulang Paanta di kecamatan Koto nan Gadang Kabupaten Lima Puluh Kota, Provinsi Sumatera Barat[1]

Zubaidah
Staf Pengajar Seni Rupa FBS UNP Padang
Editor: Nasbahry Couto

Abstract, Apparel traditional Minangkabau society is a symbol that has meaning in accordance with the order of society. Pangulu and Bundo Kanduang seen as a symbol of a leader is an important part in the traditional order in Minangkabau, especially if associated with matrilineal kinship system adopted by the Minangkabau society. Everyone in the traditional order has a ceremonial dress in accordance with their respective positions, ranging from leaders down to ordinary people, children to adults. One of these traditional clothes pile special Ampek used young women in traditional ceremonies. Therefore, this study intends to find out the meaning of heap Ampek clothing used by female adolescents in the Koto district Payakumbuh Fifty Gadang nan City, West Sumatra Province. Based on research results can be noted that the pile Ampek custom clothing worn by young women who have the characteristic red color. The whole structure on the heap Ampek clothing is a symbol that contains the teachings directed against young women in accordance with the character or the nature of women who have unyielding spirit. Clothing Ampek heap as a representation containing the values ​​of personality that is directed to young women in social life and achieve a brighter future to continue the descent.

Keywords:
Lambak Ampek, simbols, nilai filosofi pakaian adat remaja putri

A. Pendahuluan
a. Pakaian Adat untuk Pemimpin Masyarakat (Kaum)
Minangkabau adalah  salah satu diantara nama etnik (suku bangsa) [2] di Indonesia yang dikenal menganut paham sistem kekerabatan matrilineal, yaitu suku anak mengikuti garis keturunan ibu. Sesuai dengan  sistem  kekerabatan masyarakat Minangkabau maka pesukuan dipimpin oleh Pangulu dan Bundo Kanduang. Sebagai pemimpin kaum (Pangulu dan Bundo Kanduang) keduanya memiliki pakaian khusus yang dipakai pada upacara-upacara adat.

 Tiap daerah atau nagari di Sumatera Barat memiliki corak pakaian adat tersendiri, ini adalah contoh pakaian adat pengantin yang dipakai pada upacara adat perkawinan di kota Padang, yang berbeda dengan pakaian adat di daerah lain seperti daerah Solok, Pariaman, Koto Gadang dsb.di Sumatera Barat: Sumber Editor, 2006

Dalam lingkup sebuah kebudayaan, pakaian adalah  bagian yang tidak terpisahkan dari peristiwa-peristiwa budaya, seperti upacara-upacara adat yang berlangsung dalam kehidupan masyarakat. Ibenzani Usman (1991:21) menjelaskan, pakaian tradisional berfungsi sebagai pakaian untuk melaksanakan upacara, baik itu upacara keagamaan, maupun upacara adat. Disamping itu, pakaian tradisional  secara adat berfungsi sebagai cerminan kepribadian atau prestise bagi pemiliknya.


Peta Lokasi : Klik ini untuk mengetahui lokasi penelitian


b. Pakaian Adat untuk Masyarakat Umum

Selain pakaian adat khusus yang digunakan oleh Bundo Kanduang sendiri, ditemukan beberapa pakaian adat yang digunakan oleh semua wanita. Pakaian-pakaian adat ini digunakan untuk sebagai berikut ini.
1.      Pakaian adat untuk anak-anak.
2.      Pakaian adat remaja.
3.      Pakaian adat orang dewasa.
4.      Pakaian adat untuk orang tua.

Masing-masing struktur pakaian adat tersebut, baik elemen bentuk, warna, dan motif hias yang melekat pada pakaian adat tersebut berbeda-beda. Perbedaan tersebut berhubungan dengan status wanita yang memakainya,  dan penggunaan pakaian-pakaian adat  tersebut berkaitan dengan situasi dan kondisi kapan pakaian tersebut digunakan dalam upacara-upacara adat. Keunikan pakaian adat wanita tersebut terlihat pada struktur, warna, dan aksesoris yang digunakan oleh sipemakai pakaian.
c. Pakaian Adat untuk Remaja (Lambak Ampek)
Diantara pengguna pakaian adat yang disebutkan diatas salah satunya digunakan oleh kaum remaja putri (anak gadis remaja) disebut dengan pakaian adat lambak ampek. Secara visual pakaian lambak ampek dilihat dari strukturnya  memiliki arti khusus  yaitu sebagai pengarah yang berkaitan dengan peranan kaum remaja perempuan   yang menggunakannya. Selanjutnya pakaian tersebut membawa tanda yang erat hubungannya dengan sistem kemasyarakatan Minangkabau.

Herman dalam Ariusmedi (2003:89) menjelaskan bahwa, pakaian adalah  salah satu simbol nonverbal yang signifikan dalam mengkomunikasikan aspek-aspek tertentu dari kepribadian, usia, jenis kelamin, peran, status, dan situasi. Lebih dari itu, pakaian, apapun bentuk, jenis, warna, dan coraknya ternyata menyampaikan pesan atau mengenai sipemakainya. Bukan saja menyampaikan hal-hal yang bersifat fisik tetapi juga menyampaikan hal-hal yang bersifat non-fisik. Berdasarkan penjelasan di atas secara visual dapat diasumsikan bahwa struktur, elemen bentuk, warna, motif hias dan perangkat aksesoris yang digunakan pada pakaian-pakaian adat kaum remaja lambak ampek adalah menyatakan  simbol tertentu.

Fungsi dan makna simbol tersebut memiliki muatan khusus, dan berkaitan dengan tatanan hidup masyarakat Minangkabau. Muatan-muatan makna pakaian adat lambak ampek dianggap mengacu kepada falsafah adat  Minangkabau, alam takambang jadi guru  (alam terbentang dijadikan guru) yang berdasarkan adaik basandi syarak, syarak basandi kitabullah (adat bersendikan syariat, syariat bersendikan kitabullah).
B. Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan adalah metode etnografi yang hasilnya berupa deskripsi-deskripsi verbal. Spradley (1997:29) menjelaskan bahwa hasil akhir dari pembuatan etnografi adalah suatu deskripsi verbal mengenai situasi budaya yang dipelajari. Selanjutnya melalui metode ini, pemaknaan terhadap simbol-simbol yang terdapat pada objek penelitian baik secara visual maupun pengamatan terhadap perilaku sosial yang bisa diamati secara langsung, dan dapat diinterpretasikan secara deskripsi verbal.

Daerah penelitian dilakukan di kecamatan Koto nan Gadang Kabupaten Lima Puluh Kota, Provinsi Sumatera Barat. Sumber data yaitu data visual  berupa struktur, warna, dan motif hias dan elemen estetis lainnya, data verbal berupa informasi yang diperoleh melalui informan. (Lokasi penelitian klik kanan disini)
  
Sebagaimana yang dikemukakan oleh Spradley dalam Sanapiah (1990:44,45) bahwa informan adalah orang yang menguasai dan memahami sesuatu melalui proses engkulturasi yang bukan sekedar diketahui tetapi juga dihayati, disamping itu mereka masih tergolong berkecimpung dalam kegiatan yang tengah diteliti. 

Sedangkan Teknik pengumpulan data adalah observasi, catatan lapangan, wawancara , dokumentasi.  Menurut Bogdan dan Biklen dalam Moleong (2000:153), bahwa catatan lapangan adalah catatan tertulis tentang apa yang didengar, dilihat, dialami, dan dipikirkan dalam rangka pengumpulan data dan refleksi terhadap data dalam penelitian kualitatif.
Sementara Lincoln dan Guba dalam Moleong (2000:135) menjelaskan bahwa wawancara bermanfaat untuk  mengkonstruksi mengenai orang, kejadian, kegiatan, organisasi, perasaan, motivasi, tuntutan,  kepedulian dan lain-lain.  

Prosedur analisa data menggunakan analisa interpretasi yang didiskripsikan. Dengan penekanan kepada kajian budaya seperti antropologi budaya, semiotik, estetika, serta ilmu lain yang erat hubungannya dengan kajian budaya rupa, dan melakukan pemeriksaan terhadap keabsahan data.  

Setya Yuwana (2001:80-83) menjelaskan bahwa untuk memeriksa keabsahan data perlu dilakukan triangulasi sumber data, pengumpul data, metode pengumpul data, dan triangulasi teori yang dilakukan dengan  mengkaji berbagai teori yang relevan. Tahapan-tahapan dalam menganalisis data kebudayaan yaitu, open coding, axial coding dan selective coding.
C. Temuan Penelitian
Dari penelitian pakaian adat  di lokasi penelitian, ditemukan beberapa struktur, bentuk dan elemen pakaian  ini sebagai berikut ini.
1.      Tangkuluak cawek
2.      Talakuang beledru
3.      Sandang simburan atau Salendang balapak,
4.      Sungkuik mato,
5.      Baju kuruang (kurung) basiba baminsia,
6.      Lambak ampek,
7.      dan Sarung jawa.  
8.  Selanjutnya pakaian Lambak ampek yang dipakai oleh anak remaja putri berumur 17 – 20 tahun (aqil balig).

Pakaian ini berfungsi sebagai pakaian untuk  mengantar penganten pria kerumah penganten wanita, batagak pangulu, dan balanjo kapasa pada upacara adat batagak pangulu. 

a. Tangkuluak Cawek
Tangkuluak Cawek yaitu tangkuluak khusus digunakan untuk pakaian anak gadis remaja yang sudah akil balig. Tangkuluak Cawek pada awalnya berasal dari salah satu perangkat pakaian kebesaran Pangulu. Perangkat pakaian tersebut dinamakan dengan Cawek. Bagi Pangulu, Cawek ini adalah  kelengkapan pakaian kebesaran yang berfungsi sebagai Cawek atau pengikat pinggang. Kain Cawek ini berwarna merah dan memiliki motif tumpal, bagi masyarakat Minangkabau disebut dengan Pucuk Rebung.

Tangkuluak Cawek
b. Baju Kurung Beludru Merah
Baju Kurung Beludru Merah, khusus untuk anak gadis bajunya berwarna merah, memiliki minsia dengan warna kuning keemasan.

Baju beledru merah
c. Sandang Simburan
Sandang Simburan, sandang ini disebut juga dengan salendang (selendang). Kain sandang Simburan terbuat dari tenunan  benang makau, di Minangkabau disebut dengan selendang Balapak. Kain ini  khusus digunakan untuk selendang pakaian adat anak gadis remaja. Tata cara memasangkan selendang tersebut pada gadis remaja adalah dengan meletakkan kain di atas bahu sebelah kanan dan kedua ujungnya dipertemukan pada pinggang sebelah kiri dan dibiarkan terurai.

 Sandang Simburan
d. Sungkuik Mato
Sungkuik Mato, pengertian Sungkuik Mato adalah penyungkup mata. Cara penggunaannya yaitu dipasangkan pada bahagian belakang tubuh menutupi punggung. Dasar kain terdiri dari beledru warna hijau dan merah, ukuran 60 x 25 cm. Pada dasar kain yang berwarna merah terdapat motif tabur terbuat dari kuningan dan sekeliling pinggir kain sungkuik diberi minsia.

Sungkuik mato
e. Lambak Ampek
Lambak Ampek, pengertian dari Lambak Ampek yaitu sarung yang  memiliki minsia sebanyak empat buah. Diantara ke empat minsia  terdapat  warna hitam, merah hati, dan biru tua. Kain Lambak Ampek khusus digunakan untuk pakaian adat anak remaja putri yang sudah akil balig.

   
Lambak ampek dan sarung

 Sarung, pengertian sarung adalah kain yang digunakan untuk menutupi tubuh bahagian bawah atau kaki. Fungsi sarung pada pakaian adat kaum remaja di nagari Koto nan Gadang yaitu sarung yang dipasangkan pada bahagian dalam kain lambak ampek. 

  
 Pakaian adat lambak ampek

D. Pembahasan
a. Perlambangan Tingkuluak Cawek

Tingkuluak Cawek,  sebagaimana yang dijelaskan sebelumnya bahwa Cawek Pangulu, difungsikan sebagai penutup kepala untuk pakaian anak gadis remaja disebut tanggkuluak cawek.   Makna dari  fungsi Cawek tersebut pada pakaian Lambak Ampek  adalah bahwa Pangulu harus mampu memimpin dan menyatukan anak kemenakan sehingga masing-masing merasa terikat dalam kesatuan dengan penuh rasa kekeluargaan. Museum Sumbar (1997: 60). Cawek adalah simbol pangulu dalam pepatah disebutkan:

Penghulu lantai nagari, kamalantai dusun jo taratak, kamalantai koto jo nagari, malantai korong jo kampuang, malantai sawah jo ladang, malantai surau jo musajik, malantai labuah jo tapian, malantai anak-kamanakan.

Artinya, Penghulu lantai nagari, akan melantai dusun dan taratak, melantai kota dan nagari, melantai korong dan kampung, melantai sawah dan ladang, melantai surau dan mesjid, melantai jalan dan tepian, melantai anak-kemenakan. Idrus Hakimi (1988:160) menjelaskan. pengertian lantai atau melantai adalah dasar dari sebuah bangunan baik itu rumah, tempat tinggal, mesjid, balai adat dan lainnya. Jika dihubungkan dengan tanggung jawab seorang Pangulu, kata-kata melantai konotasinya adalah meletakkan dasar adat, kepada segenap sistem kemasyarakatan di dalam sebuah nagari, berupa aturan-aturan adat. Kemudian bagaimana melaksanakan aturan-aturan atau hukum-hukum di masing-masing nagari namun tetap mengacu kepada adat yang diadatkan. Dengan demikian Cawek sebagai simbol Pangulu, dijadikan pula untuk kain penutup kepala (tangkuluak) dan menjadi simbol pada pakaian adat gadis remaja. Artinya pangulu bertanggung jawab mendidik dan memberikan pembelajaran adat terhadap anak dan keponakan sebagai kesiapan mental mereka dalam menghadapi keragaman masyarakat. Sebaliknya kaum remaja putri harus mentaati dan menjunjung tinggi seluruh ajaran adat berdasarkan syariat Islam. Selanjutnya tanggkuluak cawek  memiliki warna merah sebagai perlambangan sumangaik ka untuak palawan dunie (semangat untuk melawan dunia). 

Dapat disimpulkan warna merah tangkuluak cawek  meisyaratkan terhadap kaum remaja putri harus semangat dan  kuat dalam menjalani kehidupan. Sementara yang dikatakan tangkuluak adalah kain yang dilipat, dan hasil lipatan tersebut menyerupai  bentuk sepasang kerucut diatas kepala.

Kemudian ketika melipat kain cawek tersebut, harus pula membentuk pola segitiga berdasarkan garis lipatan kain  pada kening ketika tangkuluak dipasangkan diatas kepala.  
Dapat disimpulkan tangkuluak menyerupai sepasang bentuk kerucut sebuah rumusan yang dapat ditafsirkan sebagai ikonografi dari gading, tanduk kerbau, dan atap rumah bagonjong yang memiliki konotasi kokoh, makmur, dan pelindung. Tangkuluak cawek yang berkonotasi sebagai kokoh, makmur dan pelindung, dapat pula dihubungkan dengan sifat manusia yaitu melindungi dan bertanggung  jawab sesuai aturan adat adalah  kebutuhan  utama untuk kelangsungan hidup. Struktur tangkuluak cawek seperti yang dijelaskan di atas melambangkan bahwa kaum remaja putri harus berperilaku dalam menjalani kehidupan menjunjung tinggi  dan melaksanakan aturan-aturan dan norma-norma adat. 
 
Dari penjelasan diatas dapat dikatakan bahwa Tangkuluak Cawek adalah simbol yang memiliki nilai semi sakral. Haris Sukendar (1984:65) menjelaskan bahwa simbol-simbol semi sakral melambangkan sifat-sifat raja, lambang kekuasaan dengan bentuk menyerupai segi tiga runcing, serta simbol ketua adat. Sejalan dengan penjelasan di atas maka simbol yang melekat pada Tangkuluak Cawek berisi nilai-nilai adat dan ditujukan kepada gadis remaja. Nilai adat tersebut berisi norma-norma dan aturan yang harus dipelajari dan dilaksanakan oleh kaum remaja yang akan menjadi seorang pemimpin dalam masyarakat, yaitu Bundo Kanduang.
b. Perlambangan Sandang Simburan
Sandang Simburan, cara memasang selendang simburan yaitu dengan meletakkan kain selendang pada bahu sebelah kanan, kemudian dipertemukan pada pinggang sebelah kiri dan kedua ujung selendang tidak diikat dibiarkan terurai.  Makna dari tata cara yang seperti demikian adalah sejalan dengan makna Tangkuluak Cawek bahwa gadis remaja sudah diberi beban secara adat, mempelajari dan melaksanakan aturan-aturan sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam adat. Seandainya terdapat kesalahan dan kekhilafan dari perilaku kaum remaja dalam masyarakat, maka mereka belum bisa diberi sangsi secara adat, karena masih dalam  pengawasan orang tua dan mamak (paman).
c. Perlambangan Sungkuik Mato
Sungkuik Mato memiliki warna merah artinya adalah untuak palawan dunia (untuk melawan dunia), kemudian motif tabur dari bahan kuningan, gambaran sebagai tando awak urang lai (tanda kita orang berada) maksud warna dan motif tabur tersebut menandakan bahwa orang yang menggunakan sungkuik mato mempunyai ekonomi yang mapan. Namun demikian sungkuik harus diletakkan di belakang atau dibahagian punggung artinya rendah hati.  Beberapa penjelasan sungkuik mato tersebut adalah  cerminan sifat seseorang, yaitu sebagai seorang remaja putri sesuai dengan fitrahnya memiliki sifat suka berangan-angan dan suka memandang kepada yang lebih tinggi dari dirinya sendiri. Namun demikian harus diarahkan kepada yang positif yaitu dijadikan sebagai spirit yang tinggi untuk mengikuti hal-hal yang bersifat dunia. Tetapi harus pandai  mewaspadai diri dan ingat dengan minsia (batas) yang melambangkan nilai-nilai adat bahwa segala sesuatu sesuai dengan batasan aturan. Dengan demikian Sungkuik Mato adalah  perlambangan yang memuat nilai-nilai spirit yang tinggi namun harus pandai menempatkan diri sesuai dengan situasi dan kondisi dimanapun berada.
d. Baju Kurung Beludru Merah
Baju Kurung Beludru Merah, khusus untuk anak remaja putri memiliki baju berwarna merah, dan memiliki minsia dengan warna kuning keemasan. Sebagaimana yang telah diuraikan terdahulu, pakaian untuk anak gadis memiliki warna cerah, memberikan spirit yang tinggi sesuai dengan sifat usia wanita yang menggunakannya.
e. Lambak Ampek
Lambak Ampek, yang berfungsi untuk menutupi kaki atau perangkat sarung memiliki warna merah dengan empat minsia. Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa warna merah dikatakan untuak palawan dunia. Secara psikologis warna merah berarti berani, bergairah, semangat yang berhubungan dengan  jiwa dan kepribadian seseorang. Warna berpengaruh terhadap mentalitas seseorang yang bisa mengarah kepada perobahan tata laku, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa warna-warna cerah memiliki psikologis yang mengarah kepada semangat dan sifat keaktifan. Konotasi dari warna ini kalau dihubungkan kepada sifat anak usia remaja adalah spirit yang kuat, memiliki perilaku yang menonjol sesuai dengan perkembangan jiwa anak usia 17-20 tahun. Warna merah pada Lambak Ampek melambangkan sifat spirit yang tinggi gadis remaja.  Selanjutnya lambak mempunyai minsia empat buah, artinya semangat yang tinggi harus sesuai dengan aturan adat, atau disebut dengan  jalanko ado batehnyo (berjalan ada batasnya).  Empat minsia pada pakaian melambangkan aturan-aturan yang kuat untuk dipelajari dan dilaksanakan oleh gadis remaja.

Menurut ajaran adat Minangkabau ada empat sifat yang harus dilaksanakan anak gadis yaitu mamakai raso jo pareso, manaruah malu jo sopan (memakai rasa dan periksa, menerapkan malu dengan sopan). Untuk melaksanakan keinginan disesuaikan dengan aturan adat yaitu, maminteh sabalun anyuik, malantai sabalun lapuak, ingek-ingek sabalun kanai, sio-sio nagari alah.  (memintas sebelum hanyut, melantai sebelum lapuk, ingat-ingat sebelum kena, sia-sia nagari hancur binasa).

Selanjutnya bagaimana ajaran  tentang memelihara harga diri yaitu, budi jan tajua, paham jan tagadai, nan kayo iyolah kayo budi, nan mulieh iyolah mulieh di baso, (budi jangan sampai terjual, paham jangan sampai tergadai, yang kaya ialah budi, yang mulia ialah basa-basi). Supaya sukses dalam pergaulan yaitu, tahu dijalan mandata, jalan mandaki, jalan manurun, jalan malereng, (mengetahui jalan mendatar, jalan mendaki, jalan menurun, jalan melereng). Untuk mencapai akhirat yaitu, beriman, bertauhid, Islam, dan berma’rifat. Beberapa aturan tersebut diatas menyampaikan nilai-nilai kepribadian yang harus dilaksanakan oleh remaja dalam pengawasan orang tua dan adat.  Selanjutnya aturan tersebut diarahkan kepada anak usia remaja yang harus memiliki batas sesuai dengan aturan adat bersendikan syariat Islam. Dengan demikian Lambak Ampek adalah simbol pakaian adat yang memuat nilai-nilai kepribadian yang diarahkan kepada kaum remaja.
f. sarung
Fungsi sarung sebagai pendamping lambak secara tersirat digunakan sebagai kain sarung untuk melaksanakan shalat. Makna sarung yang difungsikan sebagai sarung untuk kelengkapan shalat yaitu melambangkan aturan nilai-nilai agama, bagaimanapun kesibukan di dunia, syariat Islam harus tetap dijalankan.

Simbolisme Pakaian Adat Lambak Ampek dalam Upacara Adat perkawinan di nagari Koto nan Gadang di Payakumbuh


Upacara Dulang Paanta
Pakaian Lambak Ampek, dalam upacara adat perkawinan Koto nan Gadang digunakan pada prosesi upacara Dulang Paanta (Dulang Pengantar) yaitu sebuah prosesi mengantar penganten laki-laki ke rumah penganten perempuan, dengan membawa makanan adat di dalam Dulang. Pada prosesi ini terjadi baarak (arak-arakan) yang terdiri dari seluruh kaum ibu pihak laki-laki termasuk anak perempuan yang memakai pakaian adat masing-masing.
Kaum remaja dengan pakaian Lambak Ampek diatur sedemikan rupa dalam upacara adat arak-arakan.  Posisi kaum remaja tersebut berada di belakang kaum ibu yang menggunakan pakaian adat dan dibahagian depan rombongan arak-arakan penganten laki-laki.  Selanjutnya ketika arak-arakan pengantar mempelai laki-laki sampai di rumah penganten perempuan, para anak perempuan yang berpakaian Lambak Ampek ditempatkan berdekatan dengan kedua penganten, yaitu di Pelaminan.

Makna keikut sertaan pakaian Lambak Ampek dalam upacara ini adalah bahwa anak gadis dalam budaya Minangkabau sering disebut dengan anak pingitan. Anak pingitan sesungguhnya adalah, bahwa segala perilaku dan kebebasannya terbatas, selalu diawasi oleh keluarga, dan masyarakat lingkungan. Sebagaimana makna simbol yang melekat pada pakaian adat Lambak Ampek bahwa pengguna pakaian tersebut memiliki keterbatasan sesuai dengan status usia dan harkatnya sebagai seorang wanita.


   
Pakaian lambak ampek yang dipakai remaja putri di Payakumbuh dalam upacara adat

Di samping itu makna simbol pada pakaian Lambak Ampek menunjukkan, bahwa mereka sudah diberi tanggung jawab yaitu mempelajari tatanan adat. Tujuannya adalah sebagai acuan untuk berperilaku yaitu para gadis remaja secara adat harus memahami dan mulai melaksanakan norma-norma sesuai dengan tatanan adat Minangkabau. 

Oleh sebab itu pakaian Lambak Ampek adalah  simbol keberhasilan dari proses pendidikan yang dilakukan oleh kedua orang tua dan keluarga menjelang akil balig. Proses pendidikan adat tersebut sudah dimulai sejak usia anak-anak yaitu dengan adanya para orang tua yang sudah melibatkan mereka ke dalam lingkungan adat. Seperti diawali dengan melibatkan anak-anak dengan pakaian adat yang disebut dengan Pisang Saparak, Bacawek Salai (pakaian untuk anak-anak dalam upacara). Jadi konsep pendidikan  adat dalam pakaian Lambak Ampek  adalah  proses pemberian pendidikan tatanan adat, yang sudah dimulai sejak usia anak-anak  yaitu mereka diperkenalkan terhadap lingkungan masyarakat adat. Keikut sertaan gadis remaja dalam upacara, maknanya adalah memberi kebebasan untuk menampilkan diri di muka orang banyak, yang dilingkungi oleh adat.


Gadis remaja disebut dengan bunga yang sedang kembang, sebagai belahan jiwa bagi kedua orang tuanya, secara psikologis mereka sedang memiliki sifat dengan semangat yang tinggi. Kadang-kadang kaum remaja tidak menyadari apa yang seharusnya pantas dan belum pantas untuk dilakukan.

Oleh sebab itu dalam prosesi upacara ia ditempatkan dibahagian tengah karena mereka dianggap sebagai  bunga yang harus dijaga dan dipelihara. Secara halus memberikan isyarat kepada masyarakat bahwa mereka sudah bisa dipersunting untuk dijadikan istri dan menantu. Karena mereka beranjak menjadi dewasa dan akan menjadi calon ibu yang akan menggantikan generasi yang akan datang. Seperti dalam adat dikatakan anak gadis sumarak korong jo kampuang (anak gadis semarak korong dengan kampung).

Bagi orang Minangkabau anak gadis adalah   sebuah harapan yang akan mengembangkan keturunan sebagai generasi yang akan mewarisi suku dan harta pusaka. Keikut sertaan mereka dalam upacara secara langsung berarti mereka sudah mencoba melaksanakan tatanan adat sebagaimana mestinya.  Kehadiran gadis remaja yang berpakaian Lambak Ampek, dalam pandangan adat adalah  penampilan yang sangat rancak (cantik), dan kecantikan tersebut dipakai sebagai media untuk tampil di hadapan urang banyak (keramaian upacara)  sebagai kapalawan dunie (pelawan dunia). Artinya kehadiran mereka di antara peserta upacara adalah sebagai simbol bahwa mereka tetap mengikuti perkembangan zaman.

Dalam adat Minangkabau penampilan seperti di atas adalah  sebuah anjuran yang bermanfaat untuk memberikan pengalaman baru kepada segenap anak perempuan yang berada dalam fase pertumbuhan. Peristiwa upacara adalah  wadah yang sangat strategis bagi mereka untuk memperoleh pengalaman baru. Karena kaum perempuan yang menggunakan Lambak Ampek, pada gilirannya ke depan, akan memasuki fase yang lebih tinggi yaitu fase berumah tangga. Oleh karena itu keberadaan pakaian Lambak Ampek untuk gadis remaja adalah  ajang pelatihan, pelajaran, dan pemahaman akan tanggung jawab yang telah menunggu ketika mereka harus membina sebuah rumah tangga di masa depan. Makna dari pakaian Lambak Ampek dalam upacara adat yaitu menghantar anak perempuan kemasa dewasa tanpa pernah lepas dari pengawasan sosial.

 E. Daftar Pustaka
1.      Ariusmedi. 2003. Bahasa Rupa pada Pakaian Penghulu. Kajian tentang Elemen, Pola, dan Makna Simbolis (Tesis) Bandung: ITB Bandung
2.      Darwis Thaib. 1965. Seluk Beluk Adat Minangkabau. Bukittinggi; N.V. Nusantara
3.      Haris Sukendar. 1987. Konsep-Konsep Keindahan Pada Peninggalan Megalitik
4.      dalam estetika dalam Arkeologi Indonesia. Jakarta; Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia
5.      Ibenzani Usman. 1991. Perubahan-Perubahan Motif, Pola dan Material Pakaian Adat Pria Minangkabau. Pusat Penelitian IKIP Padang
6.      Idrus Hakimi. 1988. Rangkaian Mustika Adat Basandi Syarak di Minangkabau. Bandung: Remaja Rosdakarya
7.      Lexy. J. Moleong. 2000. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
8.      Muzni Ramanto. 2009. Psikologi Warna. Padang; Seni Rupa FBSS UNP Padang
9.      Setya Yuwana Sudikan. 2001. Metode Penelitian Kebudayaan. Surabaya: Citra Wacana
10.  Sanapiah Faisal. 1990. Penelitian Kualitatif Dasar-Dasar dan Aplikasi. Malang: Penerbit YA 3

Penulis/ Peneliti
Dra. Zubaidah Agus, M.Sn. 


Kelahiran Bukittinggi, 25 April 1958. Lulusan Kependidikan Seni Rupa IKIP Padang th 1984, Pasca Sarjana ITB Jurusan Seni Murni th 2001. Banyak mengadakan penelitan tentang budaya visual tradisi Minangkabau khususnya tentang pakaian adat wanita. Konstribusi pada blog ini adalah dalam membahas karya seni, mengisi tulisan ilmiah dan populer budaya visual khususnya tentang hasil penelitian.



Pakaian anak remaja awal abad ke 19 di Minangkabau, 
sumber:http://www.geheugenvannederland.nl

Pakaian Tradisional Minangkabau (Umum)

Baju Kurung  “Basiba”

Baju Kurung atau baju kuruang basiba merupakan pakaian kaum perempuan Minangkabau yang sudah dikenal identitasnya dan menjadi identitas perempuan Minang. Baju kuruang ini adalah pakaian Bundo Kanduang sebagai Limpapeh Rumah Nan Gadang, keistimewaan baju kuruang basiba adalah longgar dipakai, sehingga tidak membentuk lekuk tubuh.

Asal kata basiba

Orang tua kita yang masih hidup semenjak zaman penjajahan sampai sekarang, diantara mereka masih mempertahankan kebiasaan mereka sampai sekarang; makan sugi, pakai baju guntiang cino jo guntiang basiba. Tetapi darimana asal kata basiba ini dan apa artinya ?
Salah satu tafsiran kata basiba adalah berasal dari tiga tanda jahitan yang berawal dari ujung ketiak wanita yang di kasih pita (bis) yang sesuai dengan warna baju, dan di tambah lagi dengan lipatan yang indah sebagai penghiyas baju di bagian pasangan baju (rok). Baju basiba juga termasuk kedalam daftar baju kurung yang longgar, tidak bersaku, dan panjang baju di bawah lutut. Pembuatan baju basiba di perkirakan dalam ukuran 4 sampai 8 cm, tanpa kopnat, dan tanpa sempit.

Baju kurung ini adalah baju longgar, dalam (sampai ke lutut), basiba, pakai kikiek di katiak, lengan panjang dan dalam (sampai kepergelangan), basalendang (memakai selendang) penutup kepala dan pakai kain sarung (sarung Jawa/Jao) menutupi kaki sampai ke mata kaki.
Baju kuruang (kurung)  ini biasanya menggunakan bahan dasar kain beludru berwarna merah. Sedangkan baju kuruang (kurung) untuk  penganten banyak menggunakan warna  merah, biru, coklat tua, dan ungu. Sekarang banyak pula muncul beludru dengan warna-warna baru seperti warna pink, oranye, dan sebagainya. Biasanya baju tersebut berpotongan longgar, memakai siba pada kedua pada kedua sisinya.

Permukaan baju kurung ini ditaburi ragam hias dengan sulaman benang emas. Di pinggir lengan kiri dan kanan, serta pinggir baju bagian bawah diberi minsie. Minsia adalah jahitan tepi yang berbentuk melingkar dengan menggunakan benang emas. Hiasan ini sering pula menggunakan ragam hias khusus yang terbuat dari bahan logam yang berwarna keemasan dijahitkan ke baju.

Pakaian basiba, masih di pertahankan di daerah Padang Panjang Provinsi Sumatera Barat. Pakaian ini digunakan oleh para siswi hampir di semua sekolah-sekolah, pesantren, dan juga masyarakat umum kaum wanita.

Tetapi, jangan heran jika  baju basiba akhir-akhir ini identik dengan pakaian masyarakat Malaysia, pakaian yang sempat diklaim hak ciptanya oleh negeri jiran tersebut. Baju kurung basiba sampai di negeri tetangga berawal dari zaman pejuangan dahulu, banyak para pejuang Minang yang di asingkan oleh pemerintahan setempat karena ada beberapa ketidak patuhan rakyat pada aturan penjajahan, konon kabarnya  saat itu  kerajaan Pagaruyung mengutus beberapa alim ulama, cadiak pandai, dan pesuruh  bundo kanduang untuk berpencar dan mendirikan satu kelompok pejuang nagari, dengan tujuan agar budaya Minang ini tidak punah .

Makna Baju Kurung
Baju yang bertabur warna emas ini dianggap orang memiliki makna yang luas dan dalam. Makna yang utama adalah memberikan gambaran sifat sosial dari pemakainya. Jahitan pinggir yang disebut minsie melambangkan jiwa demokrasi yang luas yang berlaku di Minangkabau. Yaitu demokrasi yang memiliki aturan dan batas-batas yang telah ditentukan dalam adat “dilingkungan alur dan patut”, yang bersandar pada semboyan “adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah” (adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah).


Baju kurung basiba remaja: 

Dalam pakaian adat wanita Minangkabau umumnya, baju kurung telah  menjadi baju pakaian adat wanitanya dengan berbagai variasi bahan dasar, ragam jenis serta teknik ragam hiasnya. Bahan dasar baju pakaian adat wanita umumnya terdiri dari  kain bertabur, kain borkat, kain tuf, kain saten, kain sutra dan kain beludru.

Umumnya pakaian wanita  minang  tidak menonjolkan bagian tubuh yang bisa menimbulkan ransangan seksual bagi lawan jenisnya, dalam hal ini baju kurung dalam pepatah adat disebut sebagai : kain pandindiang miang, ameh pandindiang malu” (kain pendinding / pembatas miang, emas pendinding / penutup malu ) artinya pakaian itu betul-betul menutup seluruh tubuh agar tidak  tidak menampakkan aurat.

Oleh karena orang Minangkabau umumnya beragama Islam, maka ada ketegasan  agar tidak memberi ransangan seksual bagi lawan jenisnya dengan demikian maka pemakaian baju kurung atau baju lapang, basiba sangat disukai oleh kaum wanitanya.


[1] Catatan editor : dengan tidak mengurangi rasa hormat, dan salut atas penelitian ini yang mengungkap sistem simbol pakaian adat remaja Minangkabau di lokasi penelitian, terpaksa judul ini dirobah oleh karena  di Minangkabau berlaku adat selingka nagari, artinya baik bentuk, corak maupun simbolisme pakaian adat ini tidak berlaku umum di lingkaran budaya Minangkabau. Judul asli penelitian ini adalah : Simbolisme Pakaian Adat Lambak Ampek terhadap Perilaku Kaum Remaja dalam Lingkungan Adat Minangkabau, yang di biayai oleh DIKTI, dan  yang dimuat pada Jurnal Ranah Seni, Seni Rupa FBSS UNP Padang pada edisi bulan Januari-Juli- 2011.

[2] Kelompok etnik atau suku bangsa adalah suatu golongan manusia yang anggota-anggotanya mengidentifikasikan dirinya dengan sesamanya, biasanya berdasarkan garis keturunan yang dianggap sama.[1] Identitas suku pun ditandai oleh pengakuan dari orang lain akan ciri khas kelompok tersebut[2] dan oleh kesamaan budaya, bahasa, agama, perilaku 
atau ciri-ciri biologis



Baju kurung Moderen,