Automatic translation of this blog page: Terjemahan otomatis hal blog ini

Senin, 16 Juni 2014

Upacara maarak “anak Pisang” atau Turun Mandi: Sebagai cara untuk menghargai anak laki-laki di kawasan Pesisir Sumatera Barat

Oleh : Nasbahry Couto

Hal 1

Anak Perempuan berjilbab, di Kurao, harapan orang tua dan suku.

Tradisi Minang di kawasan Pesisir yang masih hidup sampai sekarang

Tradisi kebudayaan Minangkabau itu unik, bukan hanya karena sifat matrilinealnya [1], tetapi juga karena variasinya yang berbeda-beda antara satu nagari dengan nagari lainnya.[2] Diantara perbedaan tradisi ini, terlihat perbedaan antara tradisi di kawasan pesisir[3] dengan tradisi daerah “darek” di Sumatera Barat yang masih hidup sampai sekarang.
Salah satu tradisi yang penulis amati, berada di daerah pinggiran kota Padang, yang dahulunya adalah kawasan yang sangat terisolir. Yaitu daerah “Kurao Kapalo Banda”, Kelurahan gunung Sarik, Kecamatan Kuranji, Padang. Dapat dikatakan, oleh karena isolasi itulah, maka sisa-sisa tradisi  adat lama itu masih erat melekat pada orang-orang yang tinggal di sini, dan masih dipakai sampai sekarang.

Akibat lain dari akibat isolasi ini, adalah dimana orang tua yang berusia 40-50 tahun rata-rata  buta huruf walaupun sudah memiliki TV di rumah mereka. Oleh karena buta huruf, dapat dikatakan surat kabar tidak laku di kawasan ini, karena mereka tidak bisa membaca. Komunikasi diantara mereka, dan penerimaan informasi,  umumnya berlangsung secara lisan. Demikian juga dalam hal pewarisan adat-istiadat yang dipakai oleh mereka.

Sejarah daerah Kurao Kapalo Banda

Wilayah kurao sebenarnya sangat luas, yang terbentang dari daerah “Tunggul Hitam” daerah pinggir pantai sampai ke kelurahan gunung Sarik, daerah di kaki perbukitan pinggir Kota Padang. Nama-nama Kurao ini oleh masyarakat tempatan jadi beragam, misalnya ada Kurao Pagang (dekat pekuburan umum Tunggul Hitam), Kurao Banda Atas, Kurao Kapalo Banda (di Kelurahan Gunung Sarik). Tradisi di daerah kurao kapalo banda ini yang akan diceritakan pada tulisan ini.

Sejak tahun 80-an, penulis sudah mengetahui bahwa daerah ini, adalah daerah yang terisolir, tetapi sejak dibangunnya jalan raya “by Pas” tahun 90-an yang membelah kawasan ini sejak dari Pelabuhan Teluk Bayur sampai ke daerah Duku, daerah-daerah yang tadinya terisolir menjadi daerah terbuka dan mendapatkan akses ke kota Padang.

Lokasinya di peta klik ini





Salah satu ciri dari keterisolasian daerah ini terlihat dari penduduk yang berusia sekitar 40-50 tahun rata-rata buta huruf. Dengan terbukanya daerah ini maka anak-anak mereka  umumnya sudah mengenyam pendidikan, dan sudah banyak yang menjadi sarjana.

Menurut Agus Chan Bgd  (73), yang penduduk asli daerah ini dan pensiunan Abri, nama  “Kurao Kapalo Banda” (bhs. Minang), atau Kurao Kepala Bandar (bhs.Indonesia) adalah sebuah daerah yang berada di kelurahan Sungai Sapih, Kecamatan Kuranji, Padang. Menurutnya dahulunya Desa ini adalah  sebuah daerah yang berawa-rawa dan padang rumput tidak di huni orang. Daerah ini kemudian di garap dan diperebutkan oleh berbagai suku untuk menggarap tanah di sini untuk pertanian sawah dan ladang.

Istilah Kurao atau “Kapalo Banda" berasal  nama “bandar” sawah yang mengalir mulai dari Kurao Pagang ke Kurao Kepala Banda Atas. Oleh karena itu diberi nama  Kurao Kepala Banda oleh penduduk kemudian, oleh orang-orang Belanda, karena sawah-sawah di sebelah Barat itu airnya mengalir ke arah pantai, maka daerah sebelah Timur diberi nama Banda Kurao Atas. Daerah ini juga sering terjadi banjir dadakan, jika hujan lebat lebih dari 5 jam. Jalan masuk ke desa Kurao Kapalo banda ini kemudian tergenang air setinggi lutut orang, seakan sebuah sungai, dan akan surut 2 jam setelah hujan berhenti.

Menurut cerita, dengan kedatangan penduduk daerah “darek” (darat) maka lambat laun daerah ini di huni oleh penduduk yang dikenal sekarang, dan disebut dengan “urang Kurao” yang terdiri dari suku-suku “bodi chaniago”, “tanjuang”, “Koto”, “Jambak”. Menurut informan, daerah “kurao” ini di zaman Belanda adalah daerah perkebunan Belanda.

Asal kata kurao diperkirakan berasal dari bahasa “Nias”. Memang sudah lazim di kota Padang, banyak nama yang berasal dari bahasa Nias, misalnya daerah Siteba (sitebey) artinya “daerah terlarang”, atau jalan Hiligoo di kota Padang yang artinya “bukit berbunga” (bahasa Nias), kemudian sepotong jalan dari Siteba ke Balai Baru sampai simpang By Pas disebut "Lolongkaran" berkemungkinan juga bahasa Nias.

Konon kabarnya, waktu zaman Belanda daerah Kurao dijadikan perkebunan karet. Yang menjadi buruh di perkebunan Belanda di Kurao ini dahulunya adalah orang Nias, yang di datangkan dari pulau Nias. Walaupun nagari ini kecil tapi besar artinya bagi orang-orang Belanda dahulunya, karena di sini banyak masyarakatnya yang bertani yang hasil pertaniannya sangat berguna bagi Belanda.

Setelah zaman kemerdekaan, daerah Kurao adalah penghasil sagu dan padi sawah,  berikut  palawija seperti mentimun, jagung, cabe, pario, bengkuang, untuk kota Padang dan sekitarnya. Oleh karena daerah ini daerah rawa yang ditumbuhi oleh rumbia (rumbio, bahasa Kurao), maka daerah ini adalah penghasil sagu yang terbesar. Dahulu orang Padang, kalau ke kurao itu selalu membeli “lompong sagu” yaitu semacam “lepat” atau “lapek”(bhs.Minang) yang dibuat dari sagu yang diisi dengan gula enau. Bahan sagu ini juga berguna untuk ternak sapi dan kuda.

Catatan Kaki


[1] Garis keturunan berdasarkan keturunan ibu

[2] Dahulunya Nagari adalah penamaan untuk sebuah komunitas yang terdiri dari empat suku, sekarang nagari diidentikkan dengan sebuah desa (sistem pemerintahan Republik Indonesia yang  baru)

[3] Budaya Minangkabau itu terdiri dari kebudayaan di daerah darek atau darat, dan daerah pesisir.


Artikel ini terdiri dari 4 halaman, untuk melihat seluruhnya, klik kanan semua halaman berikutnya



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Laman yang Sering Dikunjungi