Automatic translation of this blog page: Terjemahan otomatis hal blog ini

Minggu, 30 November 2014

Mengantar Nasi lamak pada acara Perkawinan di Daerah Pinggiran Kota Padang

Oleh Nasbahry Couto


Pada suatu ketika, sekitar tahun 2007, penulis dan sekeluarga menerima “Nasi lamak” oleh penduduk kampung dimana penulis tinggal. Kami memang penduduk baru di sebuah komplek perumahan, di mana lokasi rumah kami dekat sekali dengan lokasi rumah penduduk asli di sini. Untuk pertama kali kami heran, maklumlah istri penulis adalah orang Jawa Barat, asal Cimahi, yang baru datang merantau ke Sumatera Barat sejak tahun 2000-an. Sesudah menerima “nasi lamak” itu, rupanya kami harus mengembalikan piring nasi lamak itu dengan sepotong kain batik. Rupanya kami sudah dianggap atau masuk sebagai pihak keluarga pula oleh yang mengantarkan nasi lamak itu, dan harus mengikuti adat istiadat yang berlangsung di sekitar tempat tinggal kami.

Laman yang Sering Dikunjungi

Industri Kreatif

Loading...

Budaya Takbenda

Loading...

Wacana Herbal

Loading...