Automatic translation of this blog page: Terjemahan otomatis hal blog ini

Senin, 16 Juni 2014

4Upacara maarak “anak Pisang” atau Turun Mandi: Sebagai cara untuk menghargai anak laki-laki di kawasan Pesisir Sumatera Barat

Oleh : Nasbahry Couto

hal 4

(2) Persiapan Pakaian adat yang dipakai pada acara “maantaan anak pisang”. Di rumahnya, atau di tempat penyewaan pakaian adat, istri Isul dengan anak aki-lakinya kemudian memakai pakaian upacara adat, pakaian pengantin. Anaknya laki-laki juga memakai pakaian upacara adat. Anak dengan ibunya ini kemudian di jemput oleh ayahnya (Isul) dan di antar ke rumah “mak Naziar (rumah pihak bako dari anaknya). Disini dia disambut oleh pihak bakonya. [10]

 
Pemain rebana

(3) Persiapan penyambutan dan pengarakan dengan pemain rebana. Dalam rangka penyambutan ini kemudian disajikan nyanyian rebana, oleh orkes rebana. Biasanya orkes rebana ini adalah grup musik yang ada di kampung pihak laki-laki



Rebana Asli dari Pesisir Sumatera Barat


Contoh Video Penyanyi Rebana yang sudah bernada Islam

Orkes musik rebana, biasanya terdiri dari seorang penyanyi, seorang pemain orgen pengiring, seorang penabuh drum, tiga orang pemain “giriang-giriang”  dan seorang penabuh tabuh.   Umumnya yang dinyanyikan adalah lagu-lagu yang bernafas Islam, misalnya pujian terhadap Tuhan dan Nabi, atau nasihat tentang bagaimana hidup di dunia dan akhirat.











Acara makan sebelum berangkat

Kemudian anak dengan ibunya makan bersama di rumah bakonya, sambil menikmati sajian lagu rebana.

(4) Persiapan hantaran (bawaan). Dalam upacara adat ini orang-orang yang mengantarkan bukan sekedar  membawa badan dan dengan pakaian adat setempat, tetapi membawa pula bingkisan antara lain berikut ini.
  1. Ibu Naziar (nenek), membawa emas, umumnya satu emas (2.5 gram), kain panjang dan makanan kecil
  2. Anak-anak dari ibu Naziar baik laki-laki atau perempuan 6 orang membawa emas pula yang banyaknya seperempat gram emas + kain panjang. Anak ibu Naziar ada 7 orang, yang mengadakan acara ini satu orang, jadi itulah sebabnya hantaran anak ibu Naziar jumlahnya 6 orang.
  3. Pengantar lain seperti  saudara-saudara dari ibu Naziar juga ada yang membawa emas  tetapi tidak wajib, yang wajib adalah membawa kain panjang.
  4. Untuk menghargai orang yang membawa kain panjang, kemudian memberikan sebungkus nasi atau makan nasi dengan lauknya, yang terdiri dari gulai cubadak, kalio ayam, gulai paku dan kerupuk cincang balado.
Hantaran ini sebenarnya sudah dipersiapkan jauh-jauh hari, seperti membeli dan menyimpan emas, dan kain panjang. Dari informasi, ternyata hantaran acara yang penulis amati yang diperoleh oleh anak pisang lebih dari 4 emas (12 gram), dan kain panjang terkumpul 60 helai. Kalau diuangkan lebih dari 5 juta rupiah. Hantaran ini sebenarnya buat bekal bagi anak pisang jika besar kelak, seperti biaya sekolah dn sebagainya. Kecuali jika dipergunakan untuk yang lain oleh orang tuanya.



Saudara-saudara sesuku dan sekampung








(5) Pengumpulan sanak saudara sesuku. Orang kampung atau saudara-saudara dari pihak ibu Naziar, berkumpul di rumah  ibu Naziar dengan membawa hantaran  sehelai kain panjang (yang disebut kain panjang yaitu kain sarung batik Jawa), yang adakalanya diganti dengan uang. Kain panjang ini ada yang diberikan kepada ibu Naziar, dan ada pula yang di bawa langsung oleh tamu tanpa di kumpulkan ke ibu Naziar.

(6) Mengantarkan anak pisang. Anak dengan ibunya kemudian diantar bersama orang kampung atau kaum pihak ibu Naziar  dengan arakan penyanyi rebana kerumah pihak istri anak laki-lakinya.



Persiapan berangkat, yang naik kendaraan adalah pemain rebana dan saudara sesuku







Untuk mengantarkan orang yang puluhan orang itu umumnya memakai mobil pick-up terbuka  bagian belakangnya, dimana orang kampung berdesakan di atas mobil ini

(7) Terakhir, penerimaan anak pisang di pihak istri anak laki-laki.

Tamu-tamu yang datang kemudian di jamu makan oleh pihak istri (ibu dari anak ini). Setelah perjamuan selesai, maka bawaan di serahkan kepada pihak istri dan orang tuanya. Upacara ini dianggap selesai, saat tamu-tamu sudah dijamu atau makan dirumah pihak menantu ibu Zaniar yang didatangi itu.

Umumnya tamu di jamu dengan jenis masakan padang yang lebih bervariasi seperti rendang, gulai kalio dan sebagainya. Orang-orang yang datang ini saat akan pulang juga diberi sebungkus nasi, hal ini mengingat tamu yang mungkin tidak sempat memasak lagi saat sampai ke rumahnya masing-masing pada senja hari. Kemudian para pengantar pulang kembali ke rumah masing-masing dengan kendaraan yang sama.

Yang menarik dari upacara ini adalah saat dimana orang sesuku yang tadinya mungkin berselisih dan tidak akur, kemudian tampak akur dalam mobil yang mereka tumpangi, walaupun berdesakan di dalam mobil itu. Perjalanan di atas mobil pick-up  yang berdesakan, kadang-kadang kelihatan berbahaya, karena kelebihan penumpang. Tetapi mereka kelihatan bergembira.

Perjalanan di atas mobil pick-up  yang berdesakan untuk “mengarak anak pisang”, kadang-kadang kelihatan berbahaya, karena kelebihan penumpang, tetapi mereka kelihatan bergembira dalam kebersamaan. Sebuah kebersamaan yang tidak lagi dijumpai dalam urban community  yang sifatnya sangat individualistik.

Jadi jika Anda berada di kota Padang, menemui mobil dengan bak terbuka yang diisi dengan orang perempuan dan anak-anak berdesakan, maka berkemungkinan sekali Anda telah bertemu dengan rombongan orang-orang yang sedang melakukan acara "maarak anak pisang" yang khas kota Padang.
Padang, menjelang puasa, 2014


Catatan Kaki

[10] Bako adalah sebutan untuk rumah dari pihak ayah dari seorang anak.
Artikel ini terdiri dari 4 halaman, Klik kanan halaman yang dituju



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Laman yang Sering Dikunjungi