Automatic translation of this blog page: Terjemahan otomatis hal blog ini

Minggu, 10 Agustus 2008

Perkembangan Musik Tradisi Minangkabau

Musik Tradisional Minangkabau dari Masa Ke Masa
Oleh. Arifni Netrirosa, S.ST. Wednesday, 05 July 2006
(sumber: Cimbuak. Net: Minangkabau Community Portal)
 


1.  Pendahuluan
Suku bangsa Minangkabau sebagai salah satu kelompok budaya di Nusantara kita  ini, memiliki berbagai ragam jenis musik tradisional yang hidup di tengah  masyarakatnya. Apabila dilihat lebih jauh kondisi kehidupan musik tradisional tersebut  sangat bervariasi, ada yang hidup berkembang sesuai dengan zamannya di tengah-tengah  masyarakat pendukungnya dan juga diluar masyarakat pendukungnya, dan ada pula yang mengalami kemunduran, bahkan bisa dikatakan hampir mendekati kepunahan.



Melihat hal di atas maka dari itu diperlukan adanya usaha pelestarian dan  pengembangan sehingga diharapkan musik tradisional itu tidak hilang dimakan masa dan   tetap dapat hidup di era globalisasi sekarang ini. Akan tetapi walaupun ada kekhawatiran   terhadap kondisi demikian, sesungguhnya secara politis, Minangkabau masih lebih baik  dalam masalah usaha pewarisan seni budaya, karena di daerah tersebut terdapat beberapa sekolah yang bergerak dalam pendidikan kesenian, seperti Sekolah Karawitan Indonesia Padang, Jurusan Sendratasik Universitas Negeri Padang dan Sekolah Tinggi Seni Indonesia Padang Panjang.
Lembaga ini mempunyai program dalam usaha pewarisan,  pelestarian dan pengembangan seni Minangkabau. Tetapi dalam tulisan ini penulis juga  berusaha untuk memperkenalkan musik tradisional Minangkabau kepada pembaca dalam usaha pengembangan musik tradisional Minangkabau sebagai salah satu kekayaan budaya nusantara.
Pengembangan musik tradisional yang cenderung mengarah kepada penyesuaian keperluan apresiasi masyarakat masa kini yang dinamis dan perilaku yang serba cepat, maka pertimbangan pengembangan musik tradisional mengarah pula kepada penempatan dinamika musikal sebagai dasar disain dramatik penggarapan musik itu sendiri. Pengembangan seperti di atas telah banyak dilakukan oleh para seniman Minangkabau, yang mana para komponis-komponis itu menggarap konsep pengembangan musik tradisional yang disesuaikan dengan keperluan seni pertunjukan.
Adanya pengembangan berarti dinamika sebuah garapan musik yang berdasarkan kepada pengembangan musik tradisional telah membuka peluang terhadap beberapa jenis musik tradisional yang mempunyai pola melodi ataupun ritme dinamis yang mendapat tempat mengisi bagian-bagian dalam komposisi musik baru.
Pengembangan tersebut bertujuan menempatkan musik tradisional yang mewakili masa lalu sehingga dapat hadir dalam  kancah apresiasi masyarakat sekarang ini. Memang menghadapi tantangan yang sangat sensitif bila suaut pengembangan yang dilakukan terhadap musik tradisional mengakibatkan kemunduran dari nilai-nilai yang telah ada sebelumnya. Menurut Edi Sedyawati (1990) dalam bukunya “Local Genius dalam Seni”,
mengemukakan bahwa pengembangan musik tradisional Indonesia cenderung mempunyai konotasi kuantitatif daripada kualitatif, yaitu membesarkan volume penyajian, meluaskan wilayah penyajiannya dengan berpegang kepada mencari kemungkinan untuk mengolah dan memperbaharui wajah sebagai usaha pencapaian kualitatif (1981:50).
Jadi secara ideal yang patut dijaga dalam suatu usaha pengembangan musik tradisional terutama adalah prinsip-prinsip dasar dari suatu musik yang amat dibanggakan  oleh masyarakat pendukungnya, sehingga masyarakat pendukungnya itu tetap merasa memiliki hasil pengembangan musik tersebut. Namun demikian perlu dibatasi persoalan pengembangan musik tradisional ke ‘bentuk baru’ (kreatif) yang mendasari penggarapan musiknya kepada kebebasan berekspresi melalui eksperimental. Dan diharapkan hasil eksperimen itu bisa dan dapat mewakili sekelompok orang di zamannya.
2. Pengembangan dalam Kreativitas Komposisi Musik 
    Kreasi (Musik Baru)

Pengembangan musik tradisional dapat dibagi kedalam beberapa bentuk yang masing-masingnya mempunyai ciri tersendiri dan mempunyai masyarakat pemerhati/penikmat tertentu. Kreativitas itu dilakukan oleh pihak seniman atau komponis yang non akademik dan juga kalangan akademik itu sendiri. Pengembangan yang paling mudah kita jumpai yaitu dalam bentuk pengembangan musik tradisional ke arah musik ‘pop daerah’ (popular) biasanya mengarah ke bentuk komersial, seperti yang terjadi pada lagu-lagu pop daerah yang rata-rata hampir setiap etnik di nusantara melakukannya. Kecenderungan yang terjadi dan yang menonjol dari hasil pengembangan itu adalah orientasi ke bentuk komposisi musik pop Indonesia yang mana melibatkan elemen-elemen musik barat.Bentuk pengembangan seperti ini sudah cukup lama terjadi dan cukup banyak  pula penggemarnya. Apresiasi terhadap musik barat cukup mengakar khususnya di Sumatera Barat dan umumnya di Indonesia, karena disebabkan mulai dari bangku sekolah Taman Kanak-kanak sampai dengan Sekolah Menengah Umum (TK Kuntum Mekar/SMUN II Bukit Tinggi) pada umumnya apresiasi musik barat telah diikuti oleh murid-murid dalam mata pelajaran kesenian, maupun ekstra kurikuler. Kemudian faktor lainnya lagi yaitu media elektronik seperti TV, Radio, dan lain lain senantiasa memperdengarkan musik-musik pop yang pada dasarnya mengacu pada bentuk komposisi musik barat.
Jadi wajar jika lagu-lagu pop daerah yang juga memakai elemen musik barat mudah dimengerti dan dinikmati. Yang masuk kategori lagu daerah di nusantara ini adalah antara lain seperti berkut ini.
1.      Ayam Den Lapeh (Minangkabau)
2.      Butet (Batak)
3.      Lancang Kuning (Melayu Riau)
4.      Jali-Jali (Betawi)
5.      Bubuy Bulan (Sunda)
6.      Rek Ayo Rek (Jawa Timur)
7.      Hela Rotane (Maluku)
8.      Jaje Nak Ee (Bali)
9.      Yamko Rambe Yamko (Papua)
Melalui kreativitas seniman, lagu-lagu daerah seperti di atas telah memakai iringan dengan alat musik yang pada umumnya pula berasal dari alat musik barat sehingga lagu-lagu daerah tersebut digolongkan kepada lagu pop daerah. Kalau dilihat lebih jauh instrumen musik sebagai pengiring lagu di atas sesuai pula dengan keperluan dan selera masyarakat di daerah seperti kecenderungan akhir-akhir ini mempergunakan  Keyboard (organ) yang mempunyai kemampuan melahirkan berbagai macam bunyi bagaikan sebuah group band lengkap.
Di Minangkabau perkembangan musik pop daerah dewasa ini sudah sangat jauh memasuki dunia musik pop yang berkembang secara umum di Indonesia, bahkan dengan  cepat telah memanfaatkan ciri-ciri trend musik dunia. Misalnya di Minangkabau bisa kita  lihat musik pop daerahnya yang cukup populer masa kini seperti lagu Kutang Barendo  yang berasal dari seni vokal tradisional  dendang Minangkabau dengan iringan Saluang (end blown flute) dengan teknik sirkulasi tiupan. Bahkan tidak kalah lagi diantara lagu-lagu pop daerah yang berangkat dari musik dan lagu tradisi itu telah dikembangkan lagi dengan memasukkan unsur-unsur ‘rap’ kedalam komposisi musiknya. Memang mau tidak mau harus diakui bahwa lagu-lagu dengan memuat musik seperti di atas cukup laris  terjual di Minangkabau Sumatera Barat dan sekitarnya.
Pengembangan musik tradisional ke arah musik kreasi baru cenderung dilakukan oleh seniman-seniman kreatif yang berlatar belakang pendidikan formal dan non formal.  Umumnya pengembangan berangkat dari musik tradisi salah satu etnik atau beberapa etnik yang digarap berdasarkan konsep pribadi si seniman setelah memahami konsep-konsep berbagai musik yang dilibatkannya kedalam komposisi musiknya.
Pengembangan musik tradisi semacam ini memberi kebebasan kepada si pencipta berkreasi dan tidak merasa dibebani oleh etika tradisional. Kebebasan itu memang dimanfaatkan oleh para seniman memperkenalkan lingkungannya, dan menyatakan diri sebagai seniman yang mewakili zamannya. Dalam cakrawala kreatifitas musik dengan kebebasan seperti di atas diperlukan sejauhmana masing-masing seniman mengenal dunia musikal dalam bentuk baru itu, sehingga mereka benar-benar mewakili zaman dan budaya kreatifitas seni di zaman kebebasan berkomunikasi dan mengeluarkan pendapat  ini.
Beberapa nama seniman yang dianggap cukup berhasil mengkomunikasikan karya komposisi musiknya yang berpegang pada musik tradisional dewasa ini di Minangkabau antara lain adalah : Muhammad Halim, Hanife, Elizar dan Hajizar
3. Perkembangan Musik Tradisional Minangkabau Di 
    Lembaga Pendidikan Formal
Sebagai lembaga pendidikan kesenian formal di Sumatera Barat, Sekolah Tinggi Seni Indonesia Padang Panjang telah melakukan pengembangan-pengembangan musik tradisional Minangkabau baik oleh mahasiswa maupun oleh staf pengajarnya.Yang menjadi dasar titik tolak dalam pengembangan musik tradisional itu adalah kemampuan kreatif seseorang menciptakan sesuatu nilai musikal yang dianggap baru dan dapat diterima masyarakat menjadi komposisi musik baru. Penciptaan itu berangkat dari musik tradisional maka yang menjadi kerangka dasar garapan itu ialah sistem tradisi musik itu sendiri. Sedangkan yang dimaksud dengan pernyataan kreativitas berupa bentuk-bentuk baru membawa sistem tradisi musik tersebut dapat memasuki dan hidup  dalam apresiasi masyarakat masa kini.
Apa yang dilakukan oleh seniman mutlak memerlukan inspirasi karena ia merupakan komponen daripada seni. Melalui bahan atau tema, dan motif yang diperoleh  dari inspirasi itu, seniman pencipta akan dapat menghadirkan pengalaman-pengalaman komunikatif yang diyakini melalui ciptaannya (Hajizar, 1994:6).
Berdasarkan inspirasi yang bersumber dari pengalaman-pengalaman musikal, seorang seniman atau komponis melakukan pemilihan materi pengembangan yang secara  sadar diyakininya dapat diterima oleh pendengar. Secara umum masyarakat masa kini cenderung mendengar musik yang dinamis. Inspirasi musikal dalam hubungannya dengan penciptaan musik baru biasanya dipunyai oleh para seniman musik dan itu tidak dapat diprogramkan di lembaga pendidikan formal karena bakt kesenimanan itu sudah menjadi bawaan atau karunia yang diperolehnya semenjak dari lahir. Kenyataan seperti itu bisa kita lihat di lembaga-lembaga pendidikan formal bahwasanya mata pelajaran yang berhubungan dengan komposisi musik yang diajarkan seperti yang tertera di kurikulum  namun hasilnya mahasiswa yang berbakat juga yang dapat mampu menyelesaikan dengan baik tanpa banyak rintangan dan kendala.
Metode pengajaran komposisi musik yang diawali dengan mempelajari beberapa jenis musik tradisional memang menguntungkan bagi mahasiswa karena musik tradisional sebagai materi penggarapan secara keterampilan telah dikuasai mahasiswa  sesuai dengan sejauhmana bakat yang menopang semangat belajarnya. Sedangkan pengalaman musikal secara umum (baik musik barat maupun musik kontemporer) diperoleh mereka melalui pengalaman diluar lembaga formal. Kemudian pengalaman itulah yang memberi “warna” dan kualitas terhadap sesuatu penciptaan musik baru atau  kreasi.
Suatu karya kreativitas musik tentu memerlukan penikmat yang dapat berkomunikasi dengan karya tersebut, maka pertimbangan yang amat baik dipikirkan oleh seorang seniman atau komponis adalah penonton atau penikmat karya seni itu sehingga pemilihan terhadap kemungkinan pengembangan itu perlu penyesuaian dengan  apresiasi penonton/penikmat (Murgiyanto, 1992:19).
Ada dua golongan pengembangan musik tradisional yang dilakukan oleh seniman-seniman yang ada di lembaga seni Minangkabau yaitu jenis komposisi musik dan jenis musik tari. Kedua jenis penggarapan musik itu sangat berbeda proses maupun teknik penggarapannya.
Komposisi musik ditujukan untuk penikmat yang hanya terfokus kepada bunyi walaupun kita sadar secara visual dalam pertunjukannya juga memunculkan pemain musik. Bagi musik tari atau musik pengiring tari (iringan tari), yang diutamakan adalah  garapan tariannya. Kehadiran musik juga sangat menentukan dalam mengungkapkan  ekspressi tarian tetapi sifatnya hanya sebagai pengiring tari, dan penggarapan musik dalam hal ini terikat dengan tradisional ke bentuk komposisi musik yang mempunyai beberapa konsepsi ideal, pengembangan beberapa musik tradisi yang dianggap dapat disatukan atas pertimbangan kemampuan seseorang dalam mencermati hubungan unsur-unsur musikal yang sebelumnya berada pada musik tradisi masing-masing untuk kemudian disatukan dalam bentuk baru. Beberapa hal yang dapat dicontohkan seperti hubungan itu dapat berupa penciptaan penyambungan dari satu bentuk atau bagian musik tradisi ke bentuk/ bagian musik tradisi lain. Namun demikian pengembangan atau perubahan-perubahan dari materi musik tradisional sebagai bahan pokok cenderung terjadi dengan tujuan menjadikan bahan tradisi tersebut lebih dinamis.
Dalam hal ini pengembangan atau perubahan-perubahan materi pokok itu biasanya dalam penggarapan tempo, ritem, melodi, dan dinamika karena pada musik tradisional cenderung dianggap “monoton” (statis). Tidak jarang pula pengembangan itu terjadi dalam pemakaian alat-alat musik yang sama dengan tujuan memberi kekuatan dinamika dan estetika.
Penyatuan dua atau beberapa bentuk musik tradisi dapat pula dilakukan berupa penggabungan musik itu dalam waktu yang sama atau bersamaan. Pemahaman dan kejelian si komponis menggarap masing-masing sistem musik tradisi dalam penyusunan musik atas dasar penggabungan itu amat penting, sebab kesatuan unit masing-masing tradisi telah mempunyai nuansa sendiri. Jadi, dalam penggabungannya tentu identifikasi masing-masing tradisi tetap hadir dan tertangkap oleh perasaan pendengar tanpa harus “menghilangkan” satu diantaranya sehingga dapat dikenal dua atau beberapa musik tradisi berada dalam bentuk penggabungan. Hasil dari penggabungan itu, disamping rasa masing-masing tradisi tertangkap, juga memunculkan rasa musikal yang baru secara keseluruhan.
Dibandingkan antara pengembangan musik tradisional dalam komposisi musik baru dengan persoalan pengembangan musik tradisional dalam iringan tari (musik tari) yang sangat terikat dengan keperluan tari, maka terasa peluang kebebasan kreatif dalam menciptakan komposisi musik baru cukup banyak. Oleh sebab itu, seniman yang bergerak dalam kreativitas komposisi musik baru berpeluang menjaring ‘trend’ komposisi musik baru dunia untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam proses penciptaan.
Bagi mahasiswa yang sedang belajar komposisi musik, pada kesempatan-kesempatan tertentu diberikan apresiasi terhadap perkembangan komposisi musik baru yang dianggap telah mendunia.Musik tari yang berpegang kepada prinsip tari tidak selalu ketat dalam aturan-aturan yang dikehendaki koreografer, persoalannya seorang koreografer belum tentu memahami musik sama dengan seorang komponis memahami musiknya dalam sebuah tari. Seringkali seorang koreografer hanya memberikan pola dasar musik iringan tarinya, sedangkan untuk menyusun menjadi komposisi musik iringan tari yang utuh atau sempurna diberikan kepada komponis. Jadi, dalam keterikatannya dengan tari sebenarnya masih ada pilihan-pilihan bentuk garapan musik yang diserahkan kepada komponis mengolahnya walaupun tetap terikat dalam hubungan yang mutlak dengan tari seperti ketentuan dalam mengiringi ritme tari atas kehendak koreografer.
Di lembaga-lembaga pendidikan formal antara lain SMKI (Sekolah Menengah Karawitan Indonesia) yang ada di Minangkabau, suatu karya tari yang diciptakan oleh  siswa/ mahasiswa atau staf pengajar bidang tari, pada umumnya menyerahkan penggarapan musik iringan tarinya kepada siswa atau mahasiswa atau staf pengajar pada bidang (jurusan) karawitan (musik tradisional). Hanya beberapa orang saja dari koreografer tari yang mampu memberikan konsep musik iringannya sebagai dasar garapan musik tari. Biasanya yang terjadi antara koreografer dengan komponis ketika berproses menciptakan sebuah tari adalah kerjasama didalam kegiatan prosesi itu.
Komunikasi diantara keduanya terjadi setelah sama-sama berhadapan dengan objek atau proses penggarapan tari dan berdialog tentang perihal penggarapan itu. Hasil yang maksimal secara ideal pada umumnya terjadi bila koreografer bersifat kritis terhadap  musik sehingga musik iringan yang digarap oleh komponis itu benar-benar seperti yang dibayangkan oleh koreografer.
Kemudian perkembangan itu berlanjut pada tahun-tahun akhir 1980-an, lembaga-lembaga seni ini menemukan bentuk garapan baru yaitu penggabungan antara musik barat dengan musik tradisional. Komposisi musik penggabungan dua tradisi yang berbeda itu dilakukan oleh kerjasama antara siswa/mahasiswa dan staf pengajar bidang (jurusan) karawitan dengan siswa/mahasiswa dan staf pengajar jurusan musik (musik barat). Pada dasarnya kerjasama itu cenderung dalam praktik musik dan bukan dalam melahirkan konsep, sebab kehadiran musik tradisional berada di dalam kerangka komposisi musik barat (orkes simponi). Sebagaimana yang diketahui bahwa konsep komposisi musik barat telah diatur sedemikian rupa berdasarkan teori yang telah baku, sedangkan musik tradisional mempunyai sistem yang amat berbeda dengan teori musik barat. Jadi, usaha yang dilakukan berupa mencari titik-titik temu yang hasilnya tidak menyalahi secara total prinsip bangunan komposisik musik barat dan musik tradisional itu sendiri. Beberapa komponis yang telah melakukan hal di atas sepertiberikut ini.
-          Muhammad Iklas
-          Nedi Erman
-          Marta Roza
-          Rizaldi
-          Mahdi Bahar Junaidi
-          Dan lain lain

KESIMPULAN
Berdasarkan urian di atas dapat disimpulkan bahwa pengembangan musik tradisional dilakukan oleh seniman-seniman kreatif bertujuan agar musik tradisional itu dapat menempatkan keberadaannya di cakrawala apresiasi masyarakat masa kini. Hasil  kreativitas musik yang dalam tulisan ini disebut “Komposisi Musik Kreasi” dilakukan oleh seniman-seniman akademik dan non akademik.
Seniman-seniman akademik cenderung memilih pengembangan musik tradisional ke bentuk komposisi musik baru (kreasi) berdasarkan pendidikan formal yang diperolehnya dan diikuti oleh bakat. Sedangkan seniman lain atau non akademik berkembang atas dasar pengalaman.
Pada lembaga-lembaga pendidikan kesenian telah banyak melakukan pengembangan musik tradisional ke dalam tiga golongan, masing-masing berikut ini.
1.      Pengembangan ke dalam jenis komposisi musik baru (kreasi) yaitu musik tradisi (kompsisi karawitan).
2.      Komposisi musik tari atau iringan tari.
3.      Pengembangan kedalam komposisi musik barat.
Pengembangan musik tradisional perlu dilakukan, terutama dalam menghadapi  masa depan yang amat berpengaruh menggeser keberadaan musik tradisional itu sendiri dari apresiasi masyarakatnya. Sehingga memungkinkan ia tidak berfungsi lagi dan tentu  akan lenyap dari muka bumi ini.

ARIFNI NETRIROSA, S.ST. Fakultas Sastra, Jurusan Etnomusikologi, Universitas Sumatera Utara
KEPUSTAKAAN
Edi, Sedyawati. 1990. Local Genius Dalam Seni. Jakarta : Sinar Harapan.

Elizar. 1997. Musik Gendang di Minangkabau. Padang Panjang : Jurnal Gendang Nusantara II, Malaysia.

Hajizar. 1994. Pengembangan Musik Tradisional Minangkabau dalam Era Globalisasi. Padang : Kertas Kerja, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Padang.
. 1994.

Komposisi Musi/Lagu Minang Modern Perlu Sentuhan Nuansa Musik Tradisional Minangkabau. Padang : Kertas Kerja, Radio Republik Indonesia (RRI) Padang (T.T).

Hanefi. 1997. Perkembangan Muzik Tradisional Minangkabau. Padang Panjang : Jurnal Gendang Nusantara II, Malaysia.

Sal Murgiyanto. 1992. Seni Pertunjukan di Indonesia pada Masa Informasi Teknologi Canggih. Yogyakarta : Kertas Kerja, Institut Seni Indonesia (ISI), Yogyakarta.



Laman yang Sering Dikunjungi