FOTO BUKITTINGGI LAMA

Automatic translation of this blog page: Terjemahan otomatis hal blog ini

Rabu, 31 Juli 2013

Kuliner Fabrikan: Industri yang Muncul dari Budaya Takbenda (Legal atau Tidak?)


Oleh Nasbahry Couto
Salah satu manfaat dari warisan budaya takbenda adalah bagaimana memanfaatkan hasil budaya itu untuk lapangan kerja, maupun industri di masa depan. Di bawah ini penulis akan memperlihatkan bagaimana kegunaan pengetahuan tradisional itu,khususnya bidang kuliner sehingga menjadi bisnis yang menguntungkan. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah industri ini tidak melanggar hak cipta kekayaan budaya daerah, apakah industri ini dapat di kerjakan oleh semua orang. Apakah pemerintah tidak membuat Undang-Undang tentang pemanfaatan budaya Takbenda ini ? Untuk melihat jenis-jenis kuliner yang telah dimanfaatkan lihat link selanjutnya.

Baca/lihat  Selengkapnya >>

Artikel-artikel yang Terkait



Selasa, 23 Juli 2013

Ragam Bentuk Rumah Adat Minangkabau


Oleh: Nasbahry Couto


在印度尼西亚,有各种形式的传统建筑,尤其是那些位于西苏门答腊米南加保文化在全省,称为自定义房子
इंडोनेशिया में कस्टम घर बुलाया विशेष रूप से पारंपरिक भवनों, पश्चिम सुमात्रा या Minangkabau संस्कृति के प्रांत में स्थित उन के विभिन्न रूपों, वहाँ रहे हैं
В Индонезии существуют различные формы традиционного здания, особенно те, которые расположены в провинции Западная Суматра или Минангкабау культуры, называется Custom House

(Artikel ini telah direvisi tgl.8 Agustus 2019, karena bisa saja menyebabkan salah tafsir tentang ragam bentuk rumah gadang Minangkabau)

Untuk tidak menimbulkan salah tafsir beberapa hal harus disepakati terlebih dahulu
  1. Bentuk asal rumah gadang adalah bergonjong 4, artinya berapapun jumlah ruangnya tetap bergonjong 4. Gonjong empat ini adalah tanda kebesaran orang minang, pameonya adalah: nan indak tau jo nan siampek bukanlah orang minang. Menyusul kemudian istilah kato nan ampek, tiang nan ampek  dan seterusnya. Kenapa orang minang zaman dahulu mengkultuskan bilangan empat, hal ini memiliki kisah tersendiri (yang disebut oleh para ahli sebagai kosmologi minang) (Couto, N., 1999)
  2. Penamaan rumah gadang itu relatif, sebab antara satu zaman dengan zaman lain atau satu tempat dengan tempat lain bisa berubah. Namun perubahan itu disebabkan adanya variasi bentuk atap, pemberian anjung pada kiri kanan bangunan
  3. Penamaan itu kadang hanya berdasarkan tafsiran saja, misalnya Joni Wongso, yang pakar tentang  tata ruang bangunan vernacular minangkabau, menyebut bangunan rumah gadang surambi papek  (yang banyak di Bukittinggi) sebagai bangunan rumah gadang gajah maharam. Seterusnya rumah gadang gajah maharam (ang banyak di kabupaten tanah datar)  sebagai rumah gadang “rajo babandiang”, dan bangunan rumah gadang gonjong limo di Payakumbuh sebagai rumah gadang bapaserek.( Wongso, 2015)
 Sumber Wongso, Joni, 2015 (disertasi)

Ragam bentuk rumah gadang atau rumah adat mestinya dilihat dari bentuknya, bukan dari nama pemiliknya, memang ada rumah gadang atau rumah adat dinamai berdasarkan pemilik misalnya nama datuk atau raja yang membawahi kaum/sukunya, hal ini adalah hal yang wajar saja, sebab terpakai dalam percakapan sehari-hari dalam kehidupan anak negeri sebuah nagari

Tetapi yang dimaksud dengan ragam bentuk rumah adat Minangkabau, adalah penamaan berdasarkan kajian bentuk bangunannya. Kerelatifan sebuah nama bisa juga disebabkan oleh karena adanya penamaan yang disepakati oleh tukang tuo dan penduduk nagari yang memberikan nama tersebut. Yaotu saat akan membangun rumah gadang tersebut. Bisa juga ada penamaan lain yang diberikan oleh orang yang melihatnya.

Sekarang pembangunan rumah adat tidak lagi oleh tukang tuo dan seperti tatacara di zaman lampau. Oleh karena itu namanya juga diberikan sering sembarangan, dan rasanya perlu diketahui namanya yang asli seperti dulu. Penamaan di bawah ini adalah hasil penelitian penulis dan beberapa rujukan yang dapat dipercaya.Catatan: Untuk memperbesar dan melihat gambar asli setiap gambar/foto, klik 1 x gambar atau foto, untuk kembali tekan esc/enter

Senin, 22 Juli 2013

Rumah Kajang Padati dan Bagian-bagiannya

Oleh: Nasbahry Couto


Gedung Balai Kota Padang yang baru di Air Pacah, Padang mengambil bentuk Kajang Padati ( Foto 5-08-13)


Pada bagian ini penulis akan memperlihatkan beberapa bagian dari rumah gadang yang disebut “Kajang Padati” yang terdapat di Padang. Dari gambar hasil beberapa penelitian rumah tradisional Kajang Padati di daerah Pauh, terlihat bahwa bangunan ini berbeda dengan bangunan rumah gadang di darek, atapnya tidak berbentuk gonjong, tetapi melancip mirip rumah gadang di darek.

Rumah Kajang Padati di Padang



Rumah adat Kajang Padati di Kurao Kapalo Banda, Kel. Gunung Sarik, Kuranji Padang


Istilah Padang dikenal dimana-mana. Dirantau orang, orang minang pasrah saja jika dicap orang Padang. Tetapi bagaimanakah bedanya orang Padang "asli" dari segi budaya, "hal ini akan kelihatan dari budaya takbenda", nampaknya tak banyak tetapi orang akan kecewa jika tidak menemukan rumah gadang di Padang, demikian juga dalam beberapa kearifan lokal orang Padang"asli" nampak sedikit berbeda dengan orang darek. Jangan ditanya kalau dengan orang "Padang Pariaman" banyak sekali kesamaannya.

Baca selengkapnya >>



Minggu, 21 Juli 2013

Ampiang dari beras, Dadiah dari Susu Kerbau, Makanan Tradisional Minangkabau sejak dahulu


Dadiah adalah makanan yang berasal dari susu kerbau yang di fermentasikan dalam sebuah bambu, sebagaimana yoghurt (istilah umum dari jenis susu ini), namun dadiah diperam dalam bekas buluh yang tertutup (atau ditutup dengan daun pisang). Makanan khas ini di Minangkabau disajikan dengan cara mencampurkan dadiah dengan emping beras ketan merah yang sudah dipipihkan serta ditambah santan dan cairan gula merah. Dadiah juga sedap dimakan dengan nasi panas dan sambal.

Batik Tanah Liek (Batik Tanah Liat) Minangkabau (Sebuah Upaya Pelestarian)

Nasbahry C

Batik tanah liek (bahasa Indonesia: batik tanah liat, Bahasa Inggris: clay batik) adalah jenis kain batik yang berasal dari Minangkabau. Batik ini menggunakan tanah liat sebagai pewarna di samping kulit jengkol, kulit rambutan dan gambir. 

Nasi Kapau Bukittinggi




Nasi Kapau adalah nasi ramas khas nagari Kapau, Sumatera Barat, terdiri dari nasi, sambal, dan lauk pauk khas Kapau, gulai sayur nangka (cubadak), gulai tunjang (urat kaki kerbau atau sapi), gulai cangcang (tulang dan daging kerbau), gulai babek (paruik kabau).[1] Nasi kapau standar selalu dilengkapi gulai nangka ciri khas nasi kapau.[2]

Peta: untuk mengetahui nagari kapau Bukittinggi,( klik ini )


Sabtu, 20 Juli 2013

Aliran-aliran Pencak Silat di Minangkabau dan Sejarahnya

Diramu oleh:
Nasbahry Couto


http://id.wikipedia.org/wiki/Silat_Minangkabau

A. Pengantar

Pencak Silat adalah salah satu seni bela diri Nusantara yang terkenal di dunia dan berkembang di Asia Tenggara. Kata pencak silat adalah asli bahasa Indonesia  yang  merupakan kata majemuk, kata pencak (bhs. Jawa, Madura dan Bali) yang artinya keahlian mempertahankan diri[1], sedangkan kata silat[2]  biasa digunakan masyarakat di wilayah Indonesia lainnya serta di Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan di Thailand bagian selatan dan Filipina, yang artinya adalah kepandaian berkelahi, seni bela diri khas Indonesia. 

Rabu, 23 Januari 2013

Sejarah Tenun Songket Silungkang (link)



Ditempa oleh kondisi alam Silungkang yang sempit, kejam dan berbukit- bukti batu, serta sulit untuk bercocok tanam membuat orang Silungkang harus berpikir keras untuk mengatasi keadaan kehidupannya, dari keadaan itu terlahirlah orang Silungkang yang tangguh, ulet, berani menghadapi segala tantangan demi untuk kelangsungan kehidupannya.


Baca selengkapnya >>


Laman yang Sering Dikunjungi