Automatic translation of this blog page: Terjemahan otomatis hal blog ini

Senin, 02 Maret 2009

Mitos tentang Inyiak (Harimau): Marunguih: Ratok Silungkang Tuo

Marunguih: Ratok Silungkang Tuo

(Tradisi dan Kesenian Rakyat Yang Terlupakan)
Oleh: Oleh: Yonni Saputra, SS & Dedi Yolson, SS.

Secara administratif Nagari Silungkang berada di Kecamatan Silungkang. Nagari ini merupakan gerbang menuju kota Sawahlunto. Sebuah kota di Sumatera Barat yang dikenal karena penghasil batubara sejak kolonial Belanda. Secara geografis nagari Silungkang terletak pada bentangan gugusan Bukit Barisan. Nagari Silungkang sendiri berada di sebuah lembah atau cekungan yang tidaklah begitu luas. Dengan ketinggian rata-rata 239-450 meter di atas permukaan laut. Daerah itu juga dikelilingi bukit-bukit batu yang cukup terjal dan tandus. Kondisi geografis yang tidak mendukung ekonomi pertanian tentunya. Hal ini menyebabkan masyarakat Silungkang lebih aktif mengembangkan ekonomi perdagangan dan industri. Terutama industri rumahtangga yang lebih fokus pada usaha tenun. Hampir setiap rumah tangga terdapat alat tenun.

Ditengah kehidupan masyarakat industri tenun dan pedagang ini berkembang berbagai tradisi, seni dan budaya. Salah satunya adalah marunguih atau dalam bahasa kesehariannya di Silungkang disebut dengan Ratok Silungkang Tuo. Tidak dapat dipastikan siapa pencipta tradisi ini. Namun marunguih sudah ada sejak lama dan berkembang ditengah masyarakat Silungkang dengan segala dinamikanya.

Maratok-i Inyiak, Harimau Jadi-jadian: Asal Mula Tradisi Marunguih
Menurut Umar Malin Parmato tradisi marunguih berkaitan erat dengan peristiwa terbunuhnya harimau. Dijelaskan bahwa harimau tersebut bukanlah sembarang harimau. Tapi itu harimau jadi-jadian. Harimau jadi-jadian yang dimaksud adalah manusia yang menjadi harimau setelah meninggal dunia. Menurut cerita yang diterima dari para tetua atau pendahulu. Orang yang menjadi harimau itu setelah meninggal dunia itu dikarenakan tidak tahan menerima azab kubur. Kemudian atas penderitaan azab itu ia bermohon untuk dapat kembali ke dunia dan mengabdi penuh menjalankan segala perintah dan meninggalkan larangan. Pendek kata ia berjanji akan menjadi orang yang patuh dan taat terhadap ajaran agama.

Umar Malin Parmato 78 tahun satu-satunya saat ini yang bisa melakukan marunguih tepatnya di Sungai Cocang Silungkang Oso memaparkan. Permintaan dan do’a orang yang mendapat azab kubur itu untuk embali ke dunia didengar dan dikabulkan Tuhan. Ia pun dikembalikan ke dunia. Namun wujudnya sayang tidak lagi utuh menyerupai manusia. Tapi persis berupa binatang harimau. Sebagai harimau jadi-jadian. Binatang satu ini cukup pintar dan mengerti segala tingkahlaku manusia. Bahkan bahasa manusia pun ia mengerti. Dan yang lebih mengagumkan adalah kemampuannya dalam beladiri silat. Silat harimau bila disebut. Oleh karena asal usulnya manusia dan memiliki kemampuan lebih dari binatang lainnya. Maka ia disebut atau dipanggil juga dengan inyiak. Sebuah panggilan penghormatan tentunya.

Keinginan inyiak untuk menjadi orang yang taat dan patuh akan ajaran Tuhan sepertinya tersandung dengan wujudnya yang tidak mungkin hadir ditengah masyarakat. Ia kini sudah diantara dua makhluk manusia dan binatang. Satu sisi inyiak memiliki naluri manusia dan sisi lain adanya sifat binatang yang disertai wujud fisiknya. Naluri kemanusiaan binatang jadia-jadian yang dihormati masyarakat ini kadang tampak dengan jelas ketika ada misalnya penduduk yang tersesat dalam rimba. Ketika itu biasanya harimau ini akan memberikan bimbingan jalan keluar dengan isyarat dengan bunyi-bunyian seperti atau mematahkan ranting kayu juga dengan jejak dan isyarat lainnya sehingga hati orang yang tersesat itu tergerak mengikuti sebuah arah. Begitu dihormatinya binatang harimau ini, sampai-sampai ketika bertemu jejaknya saja dihutan atau ladang penduduk, seseorang secara spontan akan meminta izin untuk memasuki dan melintasi didaerah tersebut.

Namun demikian, sifat binatangnya juga tidak dapat ia tinggalkan. Hal ini terlihat ketika bagaimana ia mendatangi kandang ternak atau menganggu ternak penduduk dan memakannya. Perilaku harimau seperti itu apalagi berulang-ulang dan merugikan juga menakut-nakuti masyarakat perlu diambil tindakan. Jika keadaan semakin merisaukan, penduduk memberlakukan apa yang terkandung dalam pepatah “salah ditimbang, utang dibaia” (salah diadili, utang dibayar).

Suatu ketika setelah melakukan berbagai pertimbangan. Penduduk bersepakat untuk menangkap dan memperangkap harimau/inyiak yang merisaukan itu dengan jerat yang terbuat dari besi. Rencana itu pun dijalankan. Hari, lokasi ditentukan perangkap besi kemudian dipasang. Usaha penduduk untuk menghukum harimau jadi-jadian yang dihormati itu berhasil. Inyiak, harimau yang dihormati itu terjepit perangkap. Ia pun meraung-raung kesakitan. Penduduk kemudian mendatang lokasi dan membawa inyiak pulang. Inyiak, si harimau jadi-jadian diarak beramai dengan iringan musik talempong, saluang dan gendang tasa.
Harimau jadian-jadian yang meresahkan itu hendak diadili ia akan ditembak mati dengan sebuah bedil tradisional. “salah ditimbang, utang dibaia” (salah diadili, utang dibayar). Pengadilan masyarakat terhadap harimau yang diyakini manusia pada mulanya ini dilakukan dalam sebuah upacara. Meskipun ia melakukan kesalahan namun pengadilan tetap dilakukan dengan penuh penghormatan.

Seseorang akan dimemimpin jalannya prosesi. Ia akan berkata-kata kepada inyiak sang harimau jadi-jadian. Kira-kira yang disampaikan seperti ini:
“nyiak....
kalau salah, yo batimbang (kalau salah, ya ditimbang)
Kalau utang, yo dibaia (kalau utang, ya dibayar)
Sebelum eksekusi penembakan berlangsung berbagai pantun yang berisikan permintaan izin dan maaf disampaikan pada inyiak yang dianggap mengerti akan bahasa manusia. setelah prosesi penghormatan, inyiak pun ditembak mati dan dikuburkan.
Itu semua belum cukup dan belum selesai. Inyak yang telah mati itu masih mendapat penghormatan penduduk. Penduduk akan melakukan marunguih untuk inyiak yang sudah jadi bangkai dan terkubur itu. Marunguih atau maratok-i (meratapi) inyiak mesti dilakukan. Kalau tidak, penduduk akan mendapat musibah dan bala. Marunguih mesti dilakukan agar musibah itu tidak datang mendera penduduk dan kampung. Marunguih dilakukan seseorang dalam kain sarung di dekat kuburan harimau jadi-jadian tersebut pada malam hari. Segala cerita dalam pesan marunguih disampaikan dalam bentuk pantun-pantun yang didendangkan dalam irama-irama tertentu.
Peristiwa inilah yang disinyalir sebagai akar tradisi marunguih. Ditekankan bapak Umar Malin Parmato, marunguih merupakan bagian prosesi penangkapan, pembunuhan hingga pemakaman harimau jadi-jadian yang disebut inyiak dan hanya dilakukan dimana harimau yang dibunuh itu dikubur.

Marunguih: Ratok Silungkang Tuo, Ratok Patolong Namo Hingga Kesenian dan Hiburan. 

Marunguih dari uraian diatas sudah dijelaskan sebagai bagian upacara penting untuk penghormatan kepada harimau jadian-jadian yang telah dihukum mati penduduk karena kesalahannya. Namum demikian dalam perjalanannya pola-pola marunguih berkembang dan menjalar ke beberapa tradisi pada masyarakat Silungkang.
Marunguih kemudian berkembang menjadi media penyampaian sebuah keadaan atau situasi yang dihadapi seseorang. Biasanya yang disampaikan itu adalah seputar berbagai pengalaman hidup seseorang, keluarga atau kaum. Keadaan itu tentu beragam, seperti keadaan sedih, kegagalan, kepedihan, tertekan, kesuksesan, percintaan bahkan kemalangan atau duka lara. Menariknya, apa yang disampaikan itu dilakukan dalam sebuah sarung ditempat-tempat yang dianggap dapat mewakili apa yang sedang dirasakan dan disampaikan itu. Kadangkala orang yang sedang marunguih pergi dan memilih tempat dirumah-rumah tua yang sudah tidak berpenghuni atau di dalam dan belakang rumah dan tempat-tempat yang mereka anggap pas untuk dapat dilaksanakan dengan penuh arti.

Marunguih dengan konotasi Ratok Silungkang Tuo akan semakin terasa ketika pesan atau isi ratok (ratapan) yang diungkapkan menyangkut hal-hal yang menyedihkan seperti bagaimana seseorang mengalami kegagalan, kemalangan, kematian misalnya. Marunguih dalam suasana kematian sama sekali tidak dilakukan bersembunyi dalam sarung karena keadaan duka marunguih benar-benar terjadi dalam wujud ratok (ratapan). Sehingga marunguih berupa ratok dalam suasana terbuka. Biasanya segala proses dan pengalaman yang dilalui akan diungkapkan. Adakalanya keluarga meminta bantuan sanak keluarga agar ikut serta atau mengagantikan karena ia tidak mampu maratok (meratap). Keadaan seperti ini dikenal dengan ratok patolong namo (dibantu/membantu meratap).
Seseorang atau keluarga yang ingin marunguih dalam bentuk lainnya, tapi tidak punya kemampuan untuk mendendangkannya, malah tidak segan memanggil dan menyewa orang yang bisa melakukannya. Sedangkan ia hanya menyampaikan kepada si tukang marunguih point-poin yang hendak ia sampaikan. Nanti si tukang marungihlah yang akan mendendangkannya. Kadangkala orang yang yang mendengarkan apa yang dituturkan tukang marunguih terbawa suasana. Ketika cerita atau pesan yang disampaikan berbau kesedihan dan duka lara tidak heran kalau orang yang mendengarkan ikut sedih berurai air mata. Apabila diantaranya ada yang tahu bagian dari rentetan cerita atau kisah yang sedang dituturkan itu malah ada yang ikut menyambung. Sehingga marunguih yang tadinya dimulai dari satu orang akan saling sambung menyambung dan bersahutan dari satu orang ke orang lain. Suasana ramai dan riuh pun tentu membuat suasana bertambah mengaharu biru.

Dalam perkembangannya, marunguih tidak melulu penuh dengan hal berbau ratok (ratapan). Marunguih juga berkembang sebagai sebuah kesenian dan hiburan yang dipertontonkan. Dengan kata lain marunguih disini menjadi sebuah seni pertunjukan. Sebagai sebuah seni pertunjukan, marunguih diiringi dengan alat musik tradisonal Silungkang berupa talempong bambu, saluang dan gendang tasa. Sebagai sebuah kesenian yang bersifat menghibur, si tukang marunguih tentu menyesuaikan pesan dan cerita yang disampaikan kepada khalayak. Biasanya apa-apa yang dituturkan lebih pada kisah kesuksesan, kebahagiaan dan kisah heroik yang kadangkala diselingi canda gurau. Sehingga masyarakat bisa menikmati kesenian ini dan mengambil hikmah dari pesan-pesan yang terkandung sepanjang apa yang dituturkan oleh orang yang sedang marunguih tadi. Seseorang yang membawakan kesenian ini tidak melulu berkisah tentang kisah hidupnya sendiri, akan tetapi juga marungih-kan kisah hidup orang lain. Apalagi kalau diminta seseorang. Seseorang yang ingin kisah hidupnya ditampilkan pada kesenian marunguih ini terlebih dahulu berkonsultasi dan menceritakan kisah hidupnya kepada si tukang marunguih.

Sebagai sebuah tradisi yang berkembang menjadi sebuah kesenian dan hiburan rakyat ini disinyalir mencapai puncak keemasannya ditengah masyarakat pendukungnya di nagari Silungkang hingga tahun 1925. Pada masa-masa itu marunguih sebagai tradisi dan kesenian hampir setiap saat dapat dijumpai. Menjelang revolusi kemerdekaan tradisi marunguih cukup eksis. Kemudian pada tahun-tahun berikutnya tradisi dan kesenian ini mulai meredup dan hilang ditengah masyarakat. Pada saat sekarang sudah sangat sulit untuk menemukan orang yang bisa dan mau marunguih.Banyak faktor tentunya yang menyebabkan tradisi dan kesenian ini tidak mampu bertahan ditengah masyarakatnya. Penyebab utama tentu berkenaan dengan internal masyarakat pendukungnya sendiri.

Keadaan melemahnya eksistensi tradisi dan kesenian marunguih tentu tidaklah diharapkan. Untuk membangkitnya tentu diperlukan terobosan dan format yang tepat sehingga marunguih sebagai tradisi dan kesenian tetap terjaga. Apalagi bagi kota Sawahlunto dengan brand image Kota Wisata Tambang Nan Berbudaya. Kekayaan seni-budaya tentu menjadi bagian penopang kepariwisataan kota ini. Bahkan dalam kaca mata penulis sebagai tradisi dan kesenian, marunguih tidak melulu bertutur kisah seseorang atau orang lain. Namun juga dapat menyampaikan cerita dan kisah bermuatan moral dan kebijaksanaan. Bila disimak lebih jauh marunguih adalah juga sebagai media atau alat penyampaian yang perannnya dapat disandingkan dengan media-media lain. Katakanlah media audio-visual, televisi, radio dan media cetak koran, majalah, buku dan sejenisnya. Bukankah pada prinsipnya media-media itu sebagai media komunikasi untuk menyampaikan atau memberitakan sesuatu.

Coba kita amati sebuah fenomena pilkada, pileg dan pildes atau pemilihan walinagai tentu yang lebih dekat dengan geografis tradisi dan kesenian ini. Seperti kita saksikan, ajang pesta demokrasi lokal itu memanfaatkan berbagai media untuk mengkampanyekan diri dan jagoan masing-masing. Radio, televisi media cetak koran, majalah lifleat dan brosur memuat berbagai berita tentang sang calon dengan berbagai cerita kesuksesan dan prestasi. Sebenarnya peran itupun dapat diambil dan dilakukan dengan tradisi dan kesenian marunguih. Dengan itu kampanye jalan ditengah masyarakat dan kesenian marunguih tetap hidup dan terjaga ditengah masyarakat. Begitu pula peran mencitrakan dalam upaya mempromosikan Sawahlunto sebagai Kota Wisata Tambang Nan Berbudaya. Marunguih dalam hal ini tentu sedikit mengalami modifikasi.

Kami bukan hendak mengatakan marunguih dijadikan alat politik dan promosi. Tapi dalam pikiran kami setidak-tidaknya itulah moment dan salah satu jalan untuk mempertahankan dan kembali menghidupkan tradisi dan kesenian ini. Bagaimana lebih jauhnya tentu ini menjadi pemikiran dan pekerjaan bersama kita, terutama para pemerhati, pelaku serta lembaga-lembaga kesenian dan kebudayaan. Peran dan dorongan pemerintah kota Sawahlunto melalui lembaga terkait tentu lebih diharapkan. Agar kebudayaan  apalagi yang berakar akan tradisi lokal dengan melalui proses ditengah masyarakat tetap bertahan dan hidup ditengah arus globalisasi kehidupan yang pada prinsipnya tidak meminggirkan hal-hal seperti ini. Kearifan dan kebijaksanaan kita ditunggu untuk membankitkan potensi-potensi terpendam bagi khazanah kebudayaan khususnya tradisi dan kesenian lokal yang akan menjadi warna-warni kehidupan hari ini dan akan datang.


Oleh: Yonni Saputra, SS & Dedi Yolson, SS.

Laman yang Sering Dikunjungi