Automatic translation of this blog page: Terjemahan otomatis hal blog ini

Senin, 02 Maret 2009

Cerita tentang orang bunian di Langkat

Sekitar 32 tahun tak berjumpa dengan teman SDku Dido, Ferijal, Fenny, Marina, Ratna, dan Budi. Siang itu ditengah terik matahari 17 April 2012 bersualah kami di Waroeng Nenek RingRoad Medan karena kedatangan Fenny dari Jakarta. Bertukar kisah dan berbagi pengalaman disertai tawa riuh kami lakukan sambil menikmati hidangan.




Saat Dido menceritakan kisahnya berada di Kampung Bunian tertarik aku untuk menulisnya karena dari kecil aku disuguhi cerita-cerita ala kampung termasuk diantaranya cerita orang bunian.

Dido adalah anggota pecinta sepeda motor trail, komunitas olah raga adventure roda dua, klub Expedition Trail Indonesia (XTrim). Dengan mengendarai sepeda motor trail berpetualang dialam bebas. Gunung, hutan dan pedalaman pedesaan adalah tempat petualangan bagi komunitas ini.

Sekali waktu Dido dan enam temannya menjelajahi hutan Besitang Langkat, perbatasan Propinsi Sumatera Utara dengan Propinsi Nangroe Aceh Darussalam. Mereka tersasar dihutan tanpa dapat melihat perkampungan dan jalan besar.

Terus mengendarai trail mencari jalan keluar. Yang tampak hanya hamparan sawah sejauh mata memandang dan tampa penghuni. “Sawah teratur rapi sangat indah.”, begitu kata Dido.

Malam pun tiba dan lelah menerpa, perlahan motor trail melaju di antara semak hutan dan sawah. Perkampungan dan jalan besar tak juga kunjung tampak hingga tengah malam tiba. Dari jauh terlihat pondok rumah, girang bukan kepalang melihat tempat persinggahan.

Mereka pun mendatangi rumah tersebut, mengetuk pintu dengan ramah. Keluar nenek tua dengan wajah kaku dan tidak ramah.

Dido berkata,“Nek, kami numpang nginap diteras ini….”
Sang nenek mengangguk pelan dan kembali masuk ke dalam rumahnya, tak lama kemudian ia kembali keluar sambil membawa pelita kecil beserta sepiring roti yang dilapisi coklat. Karena lelah roti tersebut dipinggirkan, kebetulan mereka sudah makan dan lelah yang tak tertahan menyebabkan mereka tertidur pulas.

Esok harinya ketika bangun. Alangkah terkejutnya  mereka karena mendapati mereka tidur diatas sebuah batu besar di tengah rawa pakis hutan. Dido berkata,”Kuhitung teman-teman satu persatu lega rasanya karena lengkap bertujuh.“

Entah dimana rumah sang nenek yang kami tidur diteras rumahnya, teras itu telah berubah menjadi seonggok batu besar. Hamparan sawah indah dan luas berubah menjadi rawa pakis hutan yang tak bertepi.
Khawatir ada disetiap wajah, bergegas mereka berkemas menyusuri jalan mencari arah keluar dari hutan yang tak dikenal. Sekitar 2 jam mendorong motor trail merekapun jumpa dengan perkampungan.

Belum hilang rasa terkejut merekapun menceritakan pengalaman bermalam dirumah sang nenek kepada penghuni kampung. Penduduk kampung bertanya mana arah tempat mereka bermalam. Merekapun menunjukkan arah dengan jari.

Penduduk berkata : ”Itu Kampung Bunian, syukur bapak semalam tidak makan roti yang dihidangkan, kalau dimakan maka akan hilang akal dan bisu. Dari zaman datuk moyang kami  bila berjumpa dengan orang bunian dan makan makanan orang Bunian maka akan menjadi seperti orang bingung dan tidak dapat keluar dari  hutan. Hidup terus di hutan seperti orang kehilangan akal.”

Mendengar hikayat Dido dan pengalamannya berjumpa dengan orang bunian, aku pun jadi teringat akan kisah dari almarhum ayahku. Kebetulan kampung ayah di Besitang Langkat.
Ayah punya saudara sepupu perempuan yang masih gadis  (Alhamdulillah aku lupa namanya walau jelas dalam ingatan ayah pernah menyebutkan namanya) hilang di Kampung Bunian. Berpuluh tahun hilang hingga tiba suatu waktu sepupu ayah tersebut datang  menjenguk keluarganya dan kembali kehutan.

Kemudian setahun sekali sepupu tersebut keluar hutan mengunjungi keluarganya dan kembali lagi ke hutan. Begitulah terus bertahun-tahun. Tidak diketahui dimana rumahnya di hutan dan apakah sekarang masih hidup atau sudah tiada. Bila sudah tiada tidak diketahui dimana kuburnya.

Keluarga sepupu ayah sudah pasrah karena tahu anaknya sudah menjadi orang Bunian. Bila berjumpa keluarga dikampung sepupu ayah tersebut banyak diam tak suka bercerita, seperti orang bingung.

Ibuku pernah bertanya kepada sepupu ayah tersebut kenapa harus kembali ke hutan. Ia menjawab suami dan anak-anaknya di hutan jadi ia harus kembali ke hutan. Setiap yang ingin mengikutinya ke hutan dilarang karena kata sepupu ayah tersebut, “Bila kalian ikut aku ke hutan kalian tidak akan bisa kembali, kalian akan jadi orang bunian seperti aku.”

Benarkah seperti itu ? Wallahu’alam bis shawab.
Dunia masih menyimpan misteri tentang Kampung Bunian. Tapi Dido teman sekelas SDku pernah sampai di Kampung Bunian dan berjumpa dengan orang bunian. kampung ayahku dimana aku sendiri belum pernah kesana.

Catatan: Dido sudah meninggal 27 Agustus 2012

Sumber cerita: http://latifah.msani.net/?p=1457
17 april 2014


Laman yang Sering Dikunjungi