Automatic translation of this blog page: Terjemahan otomatis hal blog ini

Kamis, 03 Maret 2011

Haji Agus Salim: The Founding Father dari Negeri Kata-Kata

Oleh: Mestika Zed


BERUNTUNGLAH bangsa Indonesia memiliki seorang pemimpin seperti Haji Agus Salim (1884 -1954), satu di antara “bapak bangsa” (the founding fathers) yang ikut melahirkan orok Republik ini, Republik Indonesia (RI). Tiap kali kita mendengar nama H. Agus Salim, biasanya dua hal yang langsung mencuat dalam benak kita: kepiawaiannya sebagai diplomat dan ulama besar yang pada masa hidupnya sudah terkenal sampai ke luar negeri, terutama di dunia Islam. Akan tetapi bila disigi lebih jauh, di balik akal budinya yang lincah dan tajam itu, Salim sesungguhnya adalah manusia ensiklopedis yang pernah dianugrahkan Tuhan untuk bangsa Indonesia abad ke-20. 
Menurut Hamka Hamka manusia seperti Haji Agus Salim jarang dilahirkan ke dunia. Dalam masa 100 tahun paling banyak manusia seperti ini dilahirkan hanya satu orang di Indonesia. Dia menguasai hampir seluruh bidang ilmu. Dalam dirinya, tubuhnya yang kecil itu, tersimpan energi yang menyinari kepribadiannya sebagai pemimpin yang berkarakter kuat dan dalam ilmunya. Ia tak hanya dikenal sebagai ahli agama Islam dan politikus ulung, tetapi juga dikenal sebagai filosof, ahli sejarah, ahli astronomi, pemikir dan sekaligus praktisi pendidikan dan menguasai banyak bahasa asing, termasuk ‘bahasa kuda dan kambing.’ (Kita akan kembali tentang ini di belakang nanti). Dengan pelbagai macam keahlian ini, kedudukannya sebagai salah seorang tokoh “bapak bangsa” (the founding fathers) menjadi lebih unik dan memiliki banyak kelebihan yang tak mungkin dijangkau oleh para pemimpin pada generasinya, bahkan juga tidak oleh bapak pendiri bangsa yang lainnya, apa lagi manusia biasa.

Karena sudah cukup banyak tulisan dan pembahasan para pakar tentang ketokohan Haji Agus Salim selama ini, risalah ini membatasi diri pada salah satu aspek yang tampaknya masih kurang didalami, bahkan semakin jarang difikirkan oleh generasi bangsa kita hari ini. Yaitu tentang kepiawaiannya sebagai diplomat, yang tak ada duanya di Indonesia pada masanya, bahkan juga untuk periode yang lebih kemudian.

Salim diantara “the Founding Fathers” Republik
Dalam kepustakaan sejarah, para pemimpin yang terlibat langsung dalam meletakkan kerangka dasar (fondasi) bagi kelahiran sebuah negara-bangsa, disebut the founding fathers (Bapak Bangsa) sebuah negara. Lebih khusus lagi ialah mereka yang terkait dengan penyusunan konstitusi (UUD) sebuah negara baru. Dalam sejarah Amerika Serikat, misalnya, dikenal nama besar seperti James Madison dan Thomas Jefferson. Di Indonesia para pemimpin yang duduk dalam kepanitiaan BPUPKI/ PPKI beberapa bulan sebelum kejatuhan Jepang, atau menjelang proklamasi tanpa kecuali adalah Bapak Bangsa. Semuanya berjumlah 68 orang. Mereka dapat dibagi-bagi lagi ke dalam kelompok kecil. Antara lain “kelompok Sembilan”. Empat orang yang paling terkemuka di antaranya ialah: Sukarno, Hatta, Supomo dan Mohammad Yamin. Keempatnya memperoleh kesempatan paling banyak berbicara dan menyumbangkan fikiran mereka dalam sidang.

Di antara keempat tokoh paling terkemuka itu berdiri Agus Salim, tokoh tua (Oude Heer), yang paling dihormati. Beliau termasuk salah seorang anggota Panitia Sembilan yang dituakan berperan besar dalam merumuskan “preambul” UUD 45, yang kemudian diberi nama “Piagam Jakarta” itu. Di sini wibawanya sebagai tokoh tua yang ditunjang keahliannya yang ‘mumpuni itu teruji menyelesaikan salah satu soal yang paling pelik waktu itu, terutama dalam mendamaikan sikap “ngotot” kelompok Islam yang ingin memasukkan unsur agama Islam ke dalam konstitusi. Semua menjadi “berkurilahan” (saling merelakan) setelah Salim bicara.

Memang tiap tokoh bapak bangsa kita adalah unik pada dirinya. Persamaan di antara mereka agaknya hanya dua: (i) intelektualisme mereka dan (ii) keteguhan dalam memegang prinsip altruisme. Dengan intelektualisme maksudnya ialah bahwa semua bapak bangsa memiliki kelebihan sebagai insan pemikir visioner, dalam arti memiliki kemampuan dan visi untuk ‘membaca’ tanda-tanda zaman dan yang menjadi suluh masyarakat untuk menerangi kondisi sezaman dan menawarkan jalan keluar yang harus ditempuh ke depan. Intelektualisme pastilah menuntut setidaknya dua hal: berfikir kritis  dan keterlibatan. Sebagai kaum literasi yang berada di pusaran sejarah yang menentukan para Bapak Bangsa mengasah fikiran mereka dengan kebiasaan membaca dan menulis. Membaca bagi mereka tidak hanya dalam arti membaca teks (buku dan sejenisnya), melainkan membaca dunia di sekitarnya sebagai teks; dalam istilah Minangkabau dikenal ungkapan “alam terkembang jadi guru”. Intelektualisme selanjutnya menuntut keterlibatan. 

Mereka tidak hanya kritis dan gigih mengatakan ini dan itu, tetapi juga membuktikannya. Kata kuncinya ialah sesuai kata dengan perbuatan. Pada gilirannya ini melahirkan sikap ketauladanan sang pemimpin. Di sini kita lalu berjumpa dengan aspek kedua, yaitu keyakinan altruistik, melakukan perbuatan terpuji demi kebajikan orang lain. Ini hanya mungkin jika setelah seseorang mampu memenangkan pertempuran melawan egonya demi kebajikan orang banyak atau mendahulukan kepentingan orang lain daripada kepentingan diri dan golongannya. Bingkai ideologis yang mengikat pandangan hidup altruisme mereka – meminjam istilah Moh. Hatta – ialah “nasionalisme kerakyatan”.

Tak syak lagi bahwa manusia Salim, seperti halnya dengan semua Bapak Bangsa yang lain, adalah pemimpin yang tercerahkan dengan spirit kebangsaan di tengah-tengah iklim intelektual (zeitgeist) kolonial. Karena keyakinan hidup altruisme itu jugalah maka dalam diri Salim ungkapan Belanda yang mengatakan leiden is lijden, “memimpin adalah menderita”, ditemukan dengan sempurna. Moh. Roem, murid dan sekaligus teman seperjuangan Salim, memberikan kesaksian tentang betapa melaratnya kehidupan keluarga Salim sehari-hari dan mungkin tak terbayangkan oleh generasi masa kini. Hidup berpindah-pindah rumah dari satu gang becek ke gang becek yang lain, mendidik sendiri anak-anaknya tanpa perlu mengirim mereka ke sekolah, membuat Salim menjadi bagian utuh dari penderitaan rakyat. “Orang tua yang sangat pandai itu”, tulis Prof Schermerhon, “adalah seorang jenius dalam bahasa, mampu berbicara dan menulis sempurna dalam paling sedikit sembilan bahasa. Hanya satu kelemahannya: selama hidupnya melarat.” (Roem, 1978: 130).

Bagaimanapun semua Bapak Bangsa, tanpa kecuali, adalah pemimpin yang senantiasa memikirkan dan melakukan sesuatu untuk kebajikan bangsanya. Mereka dalam istilah Jacques Barzun (1959) adalah “the house of intellect”, yang tak pernah kering mengalirkan gagasan-gagasan bening dan cerdas serta keterlibatan mereka yang intens dalam mendobrak sejarah zamannya. 

Mereka tidak hanya melahirklan Republik ini, tetapi mereka jugalah sesungguhnya sumber kemenangan Indonesia dalam perjuangan mengusir Belanda – di samping dukungan militer –  pada masa revolusi nasional 1945-1949. Dengan kata lain Bapak Bangsa adalah negarawan sejati yang diciptakan dan sekaligus menciptakan sejarah. Struktur atau kondisi [kebetulan] sejarah membuat mereka berada di puncak kulminasi sejarah, sehingga memperoleh kesempatan untuk merancang dan merumuskan konstitusi, sesuatu yang tak dimiliki oleh negarawan yang bukan bapak bangsa (the founding fathers). Namun pada saat yang sama mereka adalah juga “agen sejarah”, yaitu segelintir orang yang oleh sejarawan Arnold Toynbee disebut kelompok “creative minority”, yang berperan membuat sejarah bangsa ini.

 “Salim op Zijn Best”
Haji Agus Salim, seperti halnya dengan bapak bangsa yang lain, adalah pemikir, penulis yang kreatif dan produktif. Akan tetapi lebih dari yang lain, kejeniusannya sebagai manusia ensiklopedis tercermin dari tulisannya yang begitu luas cakupannya dan tajam pembahasannya. Ia tidak hanya menulis tentang isu-isu politik dan agama, tetapi juga soal filsafat, sejarah, hukum, astronomi, pendidikan, sosial dan ekonomi. Kemahirannya dalam menulis dan mensyarahkan pikirannya secara lisan dan tulisan membuat intelektualismenya menjadi lebih sempurna. Namun keunggulan Salim dalam berwacana lewat kata-kata, bukan hanya dalam arti kehebatan dalam berpidato, orator yang memukau, tetapi juga dalam berdebat. Sukarno juga dikenal sebagai orator yang ulung, tetapi pidato beliau tidak untuk diperdebatkan, melainkan untuk didengarkan dan  pada saat tertentu malah tidak boleh didebat. 

Sukarno juga dikenal sebagai tokoh yang kaya pemikiran dengan ideom-ideom yang akrab dengan telinga orang awam, tetapi beliau belum pernah ke luar negeri (kecuali setelah menjadi Presiden). Presiden RI pertama itu juga mengakui pernah meneguk “air” yang diberikan oleh Salim, tokoh yang disebutnya “the Grand Old Man”, yang memperkaya pengetahuannya mengenai seluk beluk tatakrama pergaulan internasional. Pengetahuan membaca saja tentu tak cukup dan Salim sudah meneguk pengalaman internasional sebelum yang lain memasukinya. Dalam hal ini ia misalnya pernah menjadi pegawai konsulat Belanda di Jedah (1906-1911).

Hatta, seperti halnya dengan Sukarno dan para Bapak Bangsa yang lain, adalah seorang penulis yang tajam dan pernah memiliki pengalaman internasional saat menjadi mahasiswa aktivis di Belanda. Namun Wakil Presiden RI 1 itu tetap mengakui Agus Salim dalam hampir segala bidang: “kecerdasannya, ketangkasannya, dan pula ketegasannya membela suatu pendirian yang sudah diambilnya. Rasa kesetiakawanan besar padanya”, tambah Hatta. Lebih dari itu, dia juga tokoh yang jenial, yang mendapat pikiran yang penting-penting secara tiba-tiba dan mudah saja mengeluarkannya sepintas lalu. Sikapnya yang tangkas dan ad rem itu memberi garam pada ucapannya; biasanya tedapat dalam perdebatan atau tulisannya yang menangkis serangan lawan atau dalam pertukaran fikiran yang berisi lelucon. Menurut Hatta di situlah letak kelebihan utama Salim, Salim op zijn best (Hatta 1963). Mengingat penghormatan yang diberikan oleh para Bapak Bangsa terhadap manusia Salim, maka agaknya tidak berlebihan jika julukan “the father of the founding fathers” Indonesia diberikan kepadanya.

Tiga Contoh, Tiga Zaman yang Berbeda
Kelebihan utama Salim (Salim op zijn best) seperti diungkap Hatta di atas ialah keunggulannya dalam berbicara dan berdebat, lisan dan tulisan, sehingga mampu menimbulkan simpati dan menundukkan lawan-lawannya. Tiga contoh berikutnya hanyalah secuil ilustrasi tentang bagaimana Salim menggunakan kepiawaiannya dalam berwacana pada situasi sejarah yang berbeda-beda.

Contoh 1:
Kejadiannya tahun 1920-an, saat Salim menjadi aktivis pergerakan, tepatnya sebagai salah seorang di antara tiga tokoh utama Sarekat Islam bersama H.O.S. Tjokroaminoto dan Abdul Muis. Sudah dikatakan di muka bahwa Salim menguasai setidaknya sembilan bahasa asing dan juga bahasa-bahasa kambing dan kuda. Terhadap bahasa yang terakhir ini ada cerita yang sudah amat terkenal di lingkaran kaum pergerakan. Dalam suatu rapat partai pada tahun 1923, sebagaimana dicerita St. Sjahrir kepada Jef Last (1996) sekelompok pemuda radikal ikut hadir, dengan maksud untuk mengacaukan pertemuan itu. Agus Salim yang suka memelihara jenggot itu jadi sasaran. Setiap kali beliau mengucapkan pidato selalu disahut secara serentak oleh kelompok pemuda itu dengan suara mengembik seperti kambing, “mbeek, mbeek, mbeek”. 

Setelah beberapa kali perbuatan mengejek itu dilakukan, maka Pak Salim dengan muka ramah mengangkat tangan seraya berkata: “...Tunggu sebentar! Bagi saya sungguh suatu hal yang sangat menyenangkan bahwa kambing-kambing pun telah mendatangi ruangan ini untuk mendengar pidato saya. Hanya sayang sekali mereka kurang mengerti bahasa manusia, sehingga mereka menyela dengan cara yang kurang pantas. Jadi saya sarankan agar untuk sementara mereka tinggalkan ruangan ini untuk sekedar makan rumput di lapangan. Sesudah pidato saya yang ditujukan kepada manusia selesai, mereka akan dipersilakan masuk kembali dan saya akan berpidato dalam bahasa kambing, khusus untuk mereka. Karena dalam agama Islam bagi kambing pun ada amanatnya dan saya menguasai banyak bahasa....”. Pidato sela Salim itu tiba-tiba disambut lebih gemuruh lagi oleh gelak-tawa hadirin sambil menoleh ke arah suara kambing tadi. Dengan muka merah mereka yang mengembik kehilangan muka tanpa balasan. Sesudah peristiwa itu khabarnya tak ada lagi yang berani mencoba mengejek pidato tokoh tua yang tangkas berpidato itu.

Contoh 2:
Setting kejadiannya pada masa perjuangan kemerdekaan. Setelah proklamasi 17 Agustus 1945 Indonesia hanya diakui Belanda secara de facto atas Jawa dan Sumatera, sedang pengakauan de jure internasional para pemimpin Republik masih harus berjuang keras. Itu artinya mereka harus memasuki wilayah diplomatik yang sama sekali asing dalam pengalaman para bapak bangsa. Salim op zijn best menemukan dirinya pada kedudukan yang tepat ketika ia secara berturut-turut dipercaya menduduki pos Kementerian Luar Negeri pada masa perjuangan kemerdekaan. Mula-mula sebagai Menteri Muda Luar Negeri dan akhirnya Menteri Luar Negeri penuh dalam Kabinet Amir Sjarifuddin (1947-1948) dan Kabinet Hatta (1948-1950).

Salah satu misi diplomatik yang strategis waktu itu ialah melakukan kunjungan diplomatik ke Timur Tengah. Kisah-kisah perjalanan diplomatik Salim ke Timur Tengah telah banyak diceritakan. Misalnya bagaimana Salim tampil sebagai lobbyst yang ulung dengan mengandalkan kamahirannya dalam berbahasa Arab, tetapi sewaktu-waktu ia dengan mudah juga bisa berganti ke bahasa Eropa lainnya. Ketajaman dan kelincahannya dalam membaca apa yang tersebunyi dalam kepala orang lain, ditambah dengan humornya yang penuh sindiran, menimbulkan efek kekaguman dan kehangatan dalam cara dia menarik simpati pejabat negara, politisi dan wartawan dalam forum-forum pertemuan dan media massa Timur Tengah.

Karena tajam, cepat dan tepat reaksinya terhadap setiap pertanyaan yang diajukan kepadanya, para wartawan yang mewawancarainya sering dibuat terhenyak dengan penjelasannya yang jitu dan singkat. Atau sebaliknya uraian panjang lebar membuat mereka terpukau sehingga kehilangan kesempatan mengejar butir pertanyaan berikutnya. Jawaban-jawabannya yang singkat, kadang ketus, sering mengunci si penanya melanjutkan niatnya. Ketika wartawan Mesir dari majalah Akhbarul Yaum menanyakan apa pendapat Salim tentang kota metropolitan Kairo, ia menjawab dengan dua kata saja: “An-Nur wan Nar” (Surga dan sekaligus Neraka). Salim lantas diam dan sang wartawan pun terdiam karena tepat dan tangkas jawabannya.

Tak heran jika kunjungan diplomatik Salim ke Timur Tengah dan kemudian juga ke Amerika Serikat lekas mendapat simpati dan dukungan dari masyarakat internasional, sehingga makin menyudutkan posisi Belanda di Indonesia. Contoh lain ialah tarik menarik kepentingan dalam perundingan Linggarjati. Setiap kali berunding Belanda selalu bersikeras untuk hanya mengakui kedaulatan Republik sebatas de facto dan bukan de jure karena belum mendapat pengakuan internasional. Itu pun baru hanya sebatas Jawa-Madura dan Sumatera. Setelah kunjungan Salim ke negara-negara Timur Tengah, Belanda bukan main amarahnya karena Republik tak hanya diakui secara de facto, tapi secara de jure. 

Dalam perundingan-perundingan berikutnya, yakni Renville dan sesudahnya, Belanda masih tetap ngotot menghalangi dan menutup pengakuan de jure buat Republik atas dasar hukum internasional. Dan ini sungguh membuat para perunding Republik di-fait accompli. Dalam suatu pertemuan di Yogya tahun 1948, sekali lagi, perunding Belanda menegaskan pendirian negerinya itu. Salim, sang juru runding Republik yang cekatan itu mereaksi dengan spontan. “Kalau tuan-tuan menganggap usaha kami untuk mendapatkan pengakuan de jure dari negara-negara Arab atas Republik itu bertentangan dengan Perjanjian Linggarjati, apakah aksi militer yang Tuan lancarkan terhadap kami sesuai dengan Perjanjian Linggarjati? Pengakuan de jure yang kami peroleh adalah akibat dari aksi militer Tuan. Kalau Tuan-tuan melancarkan sekali lagi aksi militer terhadap kami, [maka] kami akan mencapai pengakuan de jure [dari] seluruh dunia”. (Solichin Salam, 1996: 196-7).

Di sini lagi-lagi kita menemukan Salim op zijn best. Lontaran fikiran tajam yang keluar dari mulut dan hatinya yang jengkel terhadap desakan Belanda, seolah-olah merupakan amunisi dan sekaligus suatu nujum terhadap perkembangan selanjutnya. Benar, seperti yang dikatakan Salim, sikap keras kepala Belanda, akhirnya membuat mereka sekali lagi melancarkan serangan militernya, dikenal agresi militer Belanda II, 18 Desember 1948. Akibatnya, Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Hatta beserta sejumlah menteri ditangkap Belanda, sehingga pemerintahan Republik terpaksa dijalankan dalam keadaan darurat, dikenal dengan PDRI. Namun seperti diramalkan Salim, dunia internasional makin berpaling ke Indonesia dan yang memaksa Belanda untuk kembali berunding hingga berakhir dengan pengakuan penuh Belanda atas kedaulatan Republik di penghujung 1949.

Salim op zijn best tampaknya menguasai betul seluk-beluk tatakrama diplomatik secara rinci. Simaklah catatannya berikut ini. “Orang harus berangkat 40 menit setelah disuguhkan kopi yang terakhir, jangan lebih dulu [dari itu], karena kurang sopan. Maka lihatlah jam tanganmu agar tahu bilakah sepantasnya anda berangkat pulang”, demikian Salim mengingatkan dalam salah satu tulisannya (Catatan terjemahan Kompas tentang naskah kuliah Salim di Amerika Serikat). Pengetahuannya yang ‘njelimet’ tentang urusan diplomatik juga sama rincinya dengan penguasaan tentang Islam. Dalam hal ini tentu termasuk referensi Al Quran dan hadis, serta sejarah Islam sebagai pisau bedahnya. Tak pelak lagi bahwa sesungguhnya Salimlah tokoh utama yang berperan besar dalam mencairkan kebuntuan-kebuntuan dalam setiap perundingan antara Indonesia dan Belanda. Juga berkat jasa Salim pula kesediaan negara-negara Islam Timur Tengah mau mengakui Republik secara de jure, sehingga membuat Belanda kebakaran jenggot.

Contoh 3:
Peristiwa ini terjadi setelah Indonesia merdeka, tepatnya di musim semi tahun 1953, saat Salim diundang sebagai dosen tamu di Universitas Cornell, Ithaca, New York.  Sewaktu berada di Kampus Cornell yang indah itu, Salim pernah dipertemukan dengan Ngo Dinh Diem, orang besar Vietnam yang datang ke sana dalam rangka kunjungan keliling Amerika Serikat untuk mencari dukungan bagi negaranya yang akan dibentuk. Tokoh Diem, sebagaimana dikisahkan oleh Gergoe McT. Kahin, pendiri Program Asia Tenggara di Amerika Serikat, saat itu sudah terkenal sebagai pemimpin yang jago berpidato dan merajai setiap kali percakapan hingga hampir-hampir tak memungkinkan orang lain mengucapkan lebih dari dua tiga patah kata saja. Namun suasana semacam itu tidak terjadi tatkala tokoh Vietnam itu dipertemukan dengan Salim. Duduk di tengah kedua tokoh terkemuka itu, Kahin mengaku terperangah. Percakapan mereka dalam acara bersantap di Ruang Pertemuan Staf Pengajar di kampus itu berlangsung dalam bahasa Perancis, bahasa yang paling dimahiri oleh Diem seperti halnya dengan kebanyakan pemimpin di negeri jajahan Perancis umumnya. Namun bukan Diem, tetapi Salimlah yang mengungguli pembicaraan dengan bahasa Perancis yang demikan fasih, sehingga kali ini Diem dibuat menjadi pendengar yang baik dan “tidak mendapat peluang sedikit pun juga!”. Satu tahun kemudian Diem diangkat menjadi Perdana Menteri Vietnam Selatan dan delapan tahun kemudian, setelah pertemuan unik di Kampus Cornell itu, giliran Kahin memperoleh kesempatan bertemu dengan Diem di Saigon. Selama empat jam bertemu muka, tentu, sudah bisa diduga siapa lagi kalau bukan Diem yang mendominasi pemicaraan. “Coba bila waktu itu ada Pak Salim yang mampu menjinakkan Diem itu, sebelum saya mewawancarainya,” kenang Kahin di kemudian hari.

Salim dari Negeri Kata-Kata
Dalam menerangkan pemikiran dan kiprah politik Haji Agus Salim sebagai diplomat dan lobbyst ulung pada zamannya, agaknya berguna meminjam “pendekatan struktur pengalaman”, yang dipakai Rudolf Marazek (1982) seperti juga Alfian (1978), dalam menulis biografi Tan Malaka. Struktur pengalaman pribadi seseorang, menurut pendekatan ini, tidak terlepas dari totalitas pola-pola kebudayaan yang mengitarinya. Pola-pola kebudayaan, termasuk nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, memberi bentuk pada kepribadian dan cara-cara seseorang menghayati atau memahami dunia di sekitarnya. Sejauh mana seseorang tercerap ke dalam pola-pola kebudayaan itu dan faktor apa yang menjadi penentunya tidak diterangkan Marazek dengan jelas, tetapi ia agaknya benar bahwa Tan Malaka, seperti juga Salim, adalah tokoh yang dilahirkan dan meneguk air budaya alam Minangkabau.

Menurut Marazek, dua tipologi budaya Minangkabau yang menonjol dalam diri Tan Malaka ialah “dinamisme” dan “anti-parokhialisme”. Yang pertama terlihat dalam tradisi merantau, sedang yang kedua melahirkan jiwa yang bebas dan kosmolit. Kedua unsur ini boleh dikatakan dapat ditemukan dalam tiap tokoh Minangkabau, tetapi ada satu lagi yang jarang dicermati oleh kebanyakan peneliti sejarah dan budaya Minangkabau, yaitu tradisi pepatah-petitih dalam adat Minangkabau. Kandungan terpenting dalam memahami budaya Minangkabau yang dikenal amat kaya dengan pepatah-petitihnya itu ialah bagaimana memahami nilai alam fikiran dan cara mengungkapkannya. 

Memang, mulut aslinya diciptakan Tuhan untuk makan-minum dan bicara, tetapi betapa pentingnya peranan mulut dan kata-kata dalam kehidupan telah amat disadari oleh nenek moyang orang Minangkabau. Kenyatannya pepatah Minang memuat banyak sekali entri tentang mulut. Sekedar contoh: muluik manih kuncindan murah (mulut manis kucindan murah); mulut kamu harimaumu, yang bisa marengkah kepalamu; muluik disuo’i jo pisang, ikua dikaik jo duri (mulut disuapi pisang, ekor dikait dengan duri [mulut berbisa]), muluik tubuah dapek disaok, muncuang urang baa manyaoknya (mulut tubuh dapat ditutup, moncong orang bagaimana menutupnya); muluik manih mamatahkan tulang (mulut manis mematahkan tulang) dan banyak lagi. “Manusia dipegang mulutnya [perkataannya], binatang dipegang talinya. Dalam hal ini ungkapan “diam itu adalah emas” dalam konteks Minangkabau tidak berlaku untuk seluruh situasi.

Tidak mengherankan bahwa di Minangkabau, mulut dan lidah atau kata-kata amat berharga, tak hanya sekedar indra pengecap selera masakan, yang memperkembangkan budaya selera dengan  aneka makanan khas Minang. Mulut atau kata-kata adalah juga lembaga pikiran. Pepapatah-petitih sesungguhnya tak hanya bernilai seni retorika, tetapi juga latihan berfikir dan pengetahuan lokal yang unik, yang berimbas pada kekuasaan, mirip dengan konsep discourse Darida dan Michael Foucault. 

Dalam hubungan ini studi Jane Drakard A Kingdom of Words (1993) menjelaskan banyak hal yang luput dari pengamatan pakar selama ini seraya mengeritik pandangan keliru yang mengatakan bahwa bahwa raja hanya sebagai figur simbolik yang tak memiliki kekuasaan apa-apa atas nagari-nagari Minangkabau. Kekeliruan itu bersumber dari asumsi bahwa lembaga kerajaan dipandang sebagai institusi yang sibuk mengurus pekerjaan esksekutif seperti yang dibayangkan dalam konsep “negara” modern. Lembaga kerajaan bukannya tak peduli dengan urusan kekuasaan “eksekutif”, tetapi cara mereka menjalaninya ialah dengan mengandalkan media lembaga kata-kata (lisan dan tulisan). Di sana kata-kata tak hanya melindungi gezag dan kewibawaan kerajaan, tetapi juga menjadi sumber rujukan kredibilitas pemimpin dalam masyarakat.

Haji Agus Salim, anak Koto Gadang, Bukittinggi itu, dan para diplomat dan juga para ‘penggalas’ (pedagang) Minangkabau umumnya adalah pewaris negeri kata-kata itu. Jika mulut dan lidah sejatinya hanya sekedar alat indrawi fisik manusia semata, tetapi oleh nenek moyang orang Minangkabau ia dimaknai secara lebih spesifik sebagai medium menyatakan pikiran, perasaan dan keinginan. Mulut rakyat tentunya berarti pernyataan pikiran, perasaan dan keinginan rakyat – yang keluar dari otak dan hati melalui mulut. Dari situlah lahirnya musyawarah dan mufakat, konsep demokrasi khas Minangkabau.

Penutup
Haji Agus Salim dan para pendiri bangsa ini umumnya telah mewariskan tradisi intelektualisme dan moral altruistik yang menjadi jantung ideologi nasionalisme kepada negeri ini. Kumpulan tulisan mereka, pidato-pidato, surat-surat pribadi dan resmi yang kini sebagian sudah dibukukan, merupakan khazanah bangsa yang tak ternilai harganya, tetapi di zaman kita yang makin dikuasai oleh budaya hedonisme-materialistik hari ini, pemikiran bapak bangsa cenderung semakin ditinggalkan, kalau bukanya dikhianati. 

Sedemikian banyak ide-ide cemerlang yang ditelorkan dari pemikiran mereka, sebenarnya masih tetap relevan dalam wacana bangsa hari ini. Pelajaran terbaik dari warisan intelektual H. Agus Salim dalam kaitan dunia diplomatik agaknya ialah bahwa menjadi diplomat sesungguhnya adalah menjadi pemimpin yang bijak dan dengan sepenuh hati dan otak mau melindungi bangsa dan semua isinya, bukan menjual dan menggadaikannya. ***

Catatan
  • Alfian, “Tan Malaka: Pejuang Revolusioner yang Kesepian”, dalam Taufik Abdullah, Aswab Mahasin dan Daniel Dhakidae (eds.), Manusia dalam Kemelut Sejarah. Jakarta: LP3ES, 1978.
  • Barzun, Jacques, The House of Intellect. New York: Harpher & Brothers Publishers, 1959.
  • Marazek, Rudolfs, “Tan Malaka: A Political Personality’s Structure of Experience”, Indonesia, (October 1972).
  • Panitia Peringatan Seratus Tahun Haji Agus Salim. Seratus Tahun Haji Agus Salim. Jakarta: Sinar Harapan, Cetakan kedua, 1996.
  • Roem, Mohammad, Bunga Rampai I, II dan II. Jakarta: Bulan Bintang, 1977, 1983.
  • Tamar Djaja, “Hadji Agus Salim,” dalam Pusaka Indonesia. Riwayat Hidup Orang2 Besar Tanah Air. Jakarta: Bulan Bintang, 1966, pp. 789-808.
Biodata
Mestika Zed, lahir (1955) di Batuhampar, Payakumbuh, adalah dosen Jurusan Sejarah Universitas Negeri Padang (UNP). Menyelesaikan kuliah pada Jurusan Sejarah Univ. Gadjahmada (1980), Post-Graduate Programme (M.A.) Vrije Universiteit, Amsterdam (1981-1983), S2 Univ. Indonesia, Jakarta (1983-1984) dan Doktor Sejarah  pada Jurusan Niet-Westerse Geschiedenis, Faculteit der Sociaal-culturele Wetenschappen, Vrije Universiteit, Amsterdam (1991). Pernah menjabat Ketua Jurusan Sejarah Univ. Andalas, Padang (1992-1995) dan pendiri dan mantan Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI), Cabang Sumatera Barat (1993-2001), ia kini menjabat Ketua Pusat Kajian Sosial-Budaya & Ekonomi (PKSBE), Fakultas Ilmu-Ilmu Sosial (FIS), Universitas Negeri Padang, pernah Ketua Dewan Redaksi Forum Pendidikan, dan Jurnal Tingkap, Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial, FIS, Universitas Negeri Padang. Menulis sejumlah buku dan artikel dalam jurnal ilmiah nasional dan internasional. Salah satu bukunya berjudul Somewhere in the Jungle. Sejarah PDRI. Sebuah Matarantai Sejarah yang Terlupakan (Jakarta:Grafiti, 1998) memperoleh penghargaan buku terbaik dari IKAPI/Kementerian P&K di bidang ilmu sosial tahun 1999.
     

    Tidak ada komentar:

    Poskan Komentar

    Laman yang Sering Dikunjungi