FOTO BUKITTINGGI LAMA

Automatic translation of this blog page: Terjemahan otomatis hal blog ini

Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 Maret 2014

Meneliti Kebudayaan Purba di Sumatera Barat

Oleh Nasbahry Couto
Cuplikan Penelitian: Syafwandi, Zubaidah Agus, Ariusmedi
di revisi (29-4-2018)

Sebetulnya penulis sudah lama ingin membahas hasil penelitian tiga orang peneliti ini tentang kebudayaan purba di Minangkabau yaitu: Kajian bahasa rupa motif hias menhir di Kabupaten Limapuluh Kota dan kesinambungannya dengan ragam hias tradisional Minangkabau Sumatera Barat: laporan penelitian (2006), yang terdafar pada Fakultas Bahasa, Sastra, dan Seni, Jurusan Seni Rupa, Universitas Negeri Padang, 2006 (240 hal). 

Selasa, 18 Maret 2014

Ukiran Tradisi Minangkabau (Video)

Oleh Nasbahry Couto

Video ini adalah hasil kerjasama antara Lembaga Penelitian Universitas Negeri Padang pada tahun 2004, atau lebih kurang 10 tahun yang lalu. Dapat dipahami video ini baik kualitas maupun teknologinya masih sangat sederhana. Namun penulis berpikiran bahwa  perlu untuk diberikan kepada publik daripada tersimpan saja di hardisk. Walaupun masih sederhana, baik isi maupun cara penyampaiannya sudah komprehensif untuk menggambarkan budaya minangkabau, khususnya tentang hubungan ukiran kayu dan bangunan tradisi Minangkabau.

Sabtu, 20 Juli 2013

Aliran-aliran Pencak Silat di Minangkabau dan Sejarahnya

Diramu oleh:
Nasbahry Couto


http://id.wikipedia.org/wiki/Silat_Minangkabau

A. Pengantar

Pencak Silat adalah salah satu seni bela diri Nusantara yang terkenal di dunia dan berkembang di Asia Tenggara. Kata pencak silat adalah asli bahasa Indonesia  yang  merupakan kata majemuk, kata pencak (bhs. Jawa, Madura dan Bali) yang artinya keahlian mempertahankan diri[1], sedangkan kata silat[2]  biasa digunakan masyarakat di wilayah Indonesia lainnya serta di Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan di Thailand bagian selatan dan Filipina, yang artinya adalah kepandaian berkelahi, seni bela diri khas Indonesia. 

Minggu, 22 April 2012

Hatta dan Kaderisasi


Oleh
Mestika Z
Dikemas oleh Nasbahry Couto

Sebagai pemimpin bangsa, Hatta tidak hanya seorang proklamator dan negarawan besar yang dihormati, tetapi barangkali dialah satu-satunya pemimpin yang sejak usia muda berupaya menciptakan pemimpin lebih banyak lagi dan bukan sebaliknya memperbanyak pengikut. 
Untuk melihat lokasi kelahiran Bung Hatta (Klik ini)

Minggu, 05 Juni 2011

Adat dan Budaya Minangkabau dalam Perspektif Perubahan Sosial


Oleh
Mestika Zed

Bahaya terbesar bagi suatu format budaya [adat] Minangkabau hari ini ialah jika ia ditimpa anakronisme. Anakronisme dalam arti keliru dalam menempatkan warisan nenek moyang itu dalam konteks kekinian. Suatu solusi masalah yang pada mulanya cemerlang,  kerap kali — seiring dengan berjalannya waktu — menjadi bumerang yang memakan tuannya sendiri. Mengapa demikian?  Jawabnya ialah karena zaman terus berubah dan gejala sosial tak matematis. Masyarakat bukanlah robot-robot. Masyarakat selalu reflektif. Ia memiliki daya yang senantiasa aktif menilai. Dalam budaya Minangkabau daya menilai itu ada dalam konsep rasa dan periksa. “Rasa dibawa naik, periksa dibawa turun”. Dengan rasa dan periksa itulah penilaian terus memberikan score atas realitas sosial sekitarnya. Score ini kumulatif sifatnya. Kumulasi penilaian ini terbentuk lewat proses sejarah, sebab  tiap masyarakat, tanpa kecuali, memiliki memori kolektif, kenangan dan cita-cita historis tertentu. Kenangan, cita-cita, dan refleksivitas yang inheren dalam interaksi masyarakat itu menuntut tiap pelaku individu menyesuaikan dan membiasakan diri dengan nilai-nilai dan norma yang ada dalam masyarakat.



Sabtu, 23 April 2011

Biografi Rangkayo Hj. Syamsidar Yahya, (1914-1975) Tokoh Perempuan Sumatera

Cuplikan Buku: akan diterbitkan oleh UNP Press.
Oleh Mestika Zed & Armaidi Tanjung

MINANGKABAU di masa lalu pernah disebut “negeri perempuan”. Barangkali karena masyarakatnya menganut sistem matrilinial, dalam arti bahwa sistem sosialnya menjamin eksistensi dan perlindungan terhadap perempuan, baik secara sosial mau material. Dalam hal ini, baik garis keturunan maupun kepemilikan harta pusaka, diwariskan melalui garis ibu. Dengan sistem sosial semacam itu, negeri ini mestinya bisa membuat kaum perempuan hidup lebih nyaman dan dari situ kita mungkin bisa berharap lahir lebih banyak pemimpin dan tokoh perempuan. Akan tetapi dalam kenyataan tidaklah demikian. Mengapa?

Rabu, 13 April 2011

Tuanku Rao: Riwayat Hidup Tokoh Paderi Di Kawasan Utara Minangkabau


Oleh: Mestika Zed
Tuanku Rao termasuk salah seorang di antara tiga tokoh utama Gerakan Paderi di bagian utara Minangkabau pada awal abad ke-19. Namanya seringkali dihubungkan dengan Islamisasi di Lembah Rao dan di Tanah Batak. 

Senin, 04 April 2011

Arsip Sejarah Sumatera Barat dalam Perspektif Warisan Budaya (Cultural Heritage)

Oleh: Mestika Zed
Saya ingin membuka tulisan ini ini dengan sebuah ilsutrasi gagasan. Gagasan itu merupakan sebuah prinsip, kalau tidak salah, ditulis di sebuah prasasti di sebuah kampus, tepatnya di depan Gedung Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial di Universitas Chicago, Amerika Serikat. Isinya kira-kira berbunyi demikian: “Jika anda tidak mampu mengukur Anda miskin dan tidak memuaskan”. Saya hanya bisa menduga, bahwa prinsip itu mengacu kepada tradisi ilmu-ilmu alam yang berakar dari tradisi kaum positivis abad ke-19. Salah satu dalil positivisme ialah “savoir pour prevoir” (mengetahui untuk meramalkan).

Selasa, 29 Maret 2011

Beberapa Catatan tentang Dunia Saudagar dan ‘Kesaudagaran’ Minangkabau



Oleh: Mestika Zed


Sumber gambar: Masoed Abidin's Weblog
Profesi saudagar dan tradisi “kesaudagaran” mungkin terdapat dalam hampir setiap kelompok etnik mana pun di dunia, bahkan sejak dahulu kala. Namun dalam konteks Indonesia, gejala ini tampaknya lebih menonjol di kalangan etnik Minangkabau. Para penulis ontologi ekonomi dan kemasyarakatan cenderung mengakui bahwa salah satu identitas kultural orang Minangkabau ialah keahlian dalam dunia niaga. Profesi saudagar dan tradisi “kesaudagaran”, tak syak lagi, berkait-kulindan dengan kehidupan sosio-kultural setempat. Dalam memperingati seratus tahun kebangsaan (nasionalsime) ke-Indonesiaan tahun 2008 ini sepatutnya kita memberikan perhatian pada tradisi “kesaudagaran” dan peran saudagar Minang dalam membangun identitas kebangsaan di masa lalu.

Jumat, 04 Maret 2011

Puritanisme dan Sense of Mission Amerika Serikat

Cuplikan buku : Negara Amerika Serikat dan Misinya
Oleh: Prof. Dr. Azwar Ananda, MA
Terbitan UNP Press 2010, ISBN: 978-602-8819-13-8, (175 hal.)

Puritanisme di Amerika Serikat berintikan nilai-nilai kebebasan individu. Nilai-nilai itu melahirkan pola-pola kehidupan yang mementingkan kehidupan dari individu-individu (domestik) dan mementingkan kehidupan bersama yang harmonis (publik). Nilai-nilai kebebasan individu yang melahirkan kehidupan bersama tersebut diwujudkan ke dalam ideologi Manifest Destiny merupakan dasar integrasi Texas ke dalam wilayah Amerika, sebagai langkah Amerika untuk menjadi negara kuat. Hal ini bertujuan untuk menjamin terlaksananya hak-hak individu seperti kebebasan, kemerdekaan, persamaan, dan demokrasi dalam kehidupan pribadi individu dan dalam kehidupan bersama yang harmonis.

Kamis, 03 Maret 2011

Haji Agus Salim: The Founding Father dari Negeri Kata-Kata

Oleh: Mestika Zed


BERUNTUNGLAH bangsa Indonesia memiliki seorang pemimpin seperti Haji Agus Salim (1884 -1954), satu di antara “bapak bangsa” (the founding fathers) yang ikut melahirkan orok Republik ini, Republik Indonesia (RI). Tiap kali kita mendengar nama H. Agus Salim, biasanya dua hal yang langsung mencuat dalam benak kita: kepiawaiannya sebagai diplomat dan ulama besar yang pada masa hidupnya sudah terkenal sampai ke luar negeri, terutama di dunia Islam. Akan tetapi bila disigi lebih jauh, di balik akal budinya yang lincah dan tajam itu, Salim sesungguhnya adalah manusia ensiklopedis yang pernah dianugrahkan Tuhan untuk bangsa Indonesia abad ke-20. 

Sabtu, 12 Februari 2011

Tirani Sejarah Nasional

Oleh: Prof. Dr. Mestika Zed, M.A 

"Berbahagialah suatu bangsa yang tidak punya sejarah”.  Begitulah adagium yang biasa digunakan di Eropa akhir abad ke-18 sebagai ungkapan untuk menghibur negara-negara kecil yang menderita akut akibat beban sejarah, ketika zeitgeist nasionalisme memerlukan legitimasi “kebesaran” masa lalu yang pantas diagung-agungkan. Dewasa ini tidak hanya sejarah yang tak dipercaya lagi, tetapi malah juga ide tentang bangsa. Bagi sebagian sejarawan profesional, adagium di atas bisa dibalik demikian: “berbahagialah sejarah tidak punya bangsa”.

Kamis, 14 Agustus 2008

Akulturasi Budaya (Portugis,India, Aceh, Minang, Nias) di Daerah Budaya Minangkabau: Tari Balanse Madam



Cuplikan buku Tari Balanse Madam: Sebuah akulturasi budaya Portugis, Aceh, Nias dan Minangkabau pada masa kolonial (Ethnologi). Karangan Indrayuda, S.Pd, M. Pd. Terbitan UNP Press.2008.

Book excerpts Dance Balanse Madam: A Portuguese acculturation, Aceh, Nias and the Minangkabau in the colonial period (Ethnology). Authorship Indrayuda, S. Pd, M.Pd. Issue UNP Press.2008.
trechos do livro Dança Balanse Senhora: A aculturação Português, em Aceh, Nias e Minangkabau no período colonial (Etnologia). Indrayuda Autoria, S. Pd, M. Pd.Emissão UNP Press.2008. 
 
Asal-Usul Tari Balanse Madam
Tari Balanse Madam sebuah tari tradisional yang terdapat di Seberang Palinggam Kota Padang, yang menjadi milik dan warisan budaya masyarakat Suku Nias Kota Padang. Tari Balanse Madam merupakan sebuah kesenian tari yang berupa peninggalan budaya lama yang telah ditransmisikan secara turun temurun dalam masyarakat suku Nias di Seberang Palinggam.


Laman yang Sering Dikunjungi